Chapter 6 : I'm Yours
Di sekeliling Hokage Tower, seluruh warga Konoha berkumpul. Di atas
menara itu tampak Naruto dengan pakaian Hokage-nya. Pria bermata biru
dan berambut pirang itu pun berkata dengan lantang, "Mulai sekarang,
aku, Namikaze Naruto, menjadi Hokage ke-7 Konoha! Apapun yang terjadi,
aku akan melindungi Konoha! YEAAAHHH!" Naruto menaikkan tangannya tanda
dia sangat bersemangat.
"YAAAA!" sambut seluruh warga Konoha yang jadi ikutan semangat karena Hokage-nya pun sangaaattttt bersemangat.
"Oh iya, satu lagi!" Naruto menarik tangan Hinata yang dari tadi
berdiri di belakangnya kemudian memeluk pundaknya. "Aku sudah menikah
dengan Hinata! Dan aku akan segera menjadi ayah!" teriaknya di antara
kerumunan penduduk desa Konoha yang membuat wajah Hinata merah padam.
Tak satu pun dari penduduk Konoha yang bisa menyembunyikan
keterkejutannya. Suasana menjadi hening untuk beberapa detik, dan
kembali riuh pada menit berikutnya.
"Bagus, Naruto!"
"Itu berarti akan ada penerusmu! Pahlawan Konoha!"
"Selamat, Naruto!"
Dan banyak lagi yang diteriakkan penduduk desa untuk mendukung Naruto
dan turut bergembira dengan berita yang baru saja disampaikan Hokage
yang baru itu.
"Cium! Cium! Cium! Cium! Cium!" Tiba-tiba
teriakan penduduk desa menjadi satu kesatuan dan menyuruh Naruto untuk
mencium Hinata di hadapan seluruh warga Konoha.
Wajah Hinata
pun memerah. Dia merasa tak akan bisa melakukan apa yang diinginkan
penduduk padanya itu. Mana mungkin dia dan Naruto berciuman di depan
semua orang? Hiashi pasti membunuhnya!
Namun beda dengan yang
dipikirkan pemuda berambut pirang itu. Dia sudah tak peduli lagi. Naruto
dan Hinata telah resmi menikah, jadi tak perlu malu lagi kalau harus
bermesraan di depan umum. Tangan Naruto memeluk pinggang Hinata dan
membuat tubuh gadis itu merapat dengan tubuhnya.
"Aku mencintaimu selamanya, Hinata," ucap Naruto sambil memandang lurus Hinata.
"Aku pun selalu mencintaimu, Naruto-kun. Sekarang dan selamanya," balas
Hinata. Dan pada detik berikutnya bibir Naruto sudah bertemu dengan
bibir mungil Hinata. Naruto menciumnya di depan seluruh penduduk Konoha
tanpa terkecuali. Termasuk Hiashi.
Naruto mencium lembut bibir
Hinata. Hinata pun membalasnya. Lidah mereka pun ikut bermain. Air liur
mereka juga saling bersatu bersamaan dengan suara napas pasangan muda
itu. Mereka berciuman cukup lama hingga merasa harus kembali menghirup
oksigen di atmosfer bumi ini. Mereka benar-benar melakukan deep kiss di
hadapan seluruh warga desa Konoha.
Terdengar riuh penonton
adegan ciuman Naruto dan Hinata. Tepuk tangan pun terdengar berhamburan
di antara kerumunan. Dan Teuchi pun ikut bersuara keras, "Naruto, untuk
perayaanmu menjadi Hokage dan pernikahanmu dengan Hinata, aku akan
traktir kalian semua makan di Ichiraku Ramen!" teriaknya dengan
semangat.
Mata biru Naruto terlihat bersinar-sinar. "Benarkah itu, Paman?"
Teuchi tak menjawabnya, hanya mengacungkan ibu jarinya saja. Dan
semuanya pun bersorak gembira karena bisa menikmati ramen no.1 di Konoha
dengan GRATIS!
"Terima kasih, Paman!" ucap Hokage baru itu
riang. Naruto menggendong Hinata ala putri dan melompat dari tower
menuju kerumunan orang-orang yang akan selalu mendukungnya itu.
"Aku pasti akan menjadi orang pertama yang sampai di Ichiraku!" ucap
Naruto semangat sambil diikuti seluruh orang yang sedang berkumpul hari
itu.
==/==
-Di apartemen Naruto-
"Huaaahhhh!
Capeeeekkk bangeeettt!" ucap Naruto sambil berbaring di atas tempat
tidurnya. "Tapi kenyaaaannnggg~~!" dia memukul-mukul perutnya yang telah
dipenuhi makanan favoritnya, ramen dari Ichiraku.
"Naruto-kun, aku mandi dulu ya," ijin Hinata. Dia segera menuju kamar mandi.
"Tunggu dulu, Hinata!" cegah Naruto.
"?"
"Aku ikut!"
"Eh?" Hinata terkejut dengan wajahnya yang terus memerah.
Naruto berada di dalam kamar mandi dengan Hinata. Dia melihat Hinata
sangat cocok dengan kimono berwarna violet itu. Naruto merasa sangat
sayang jika kimono itu dilepaskan. Namun bagaimanapun juga, Naruto lebih
senang jika tubuh Hinata tidak ditutupi oleh selembar kain pun.
Naruto mendekatkan tubuh Hinata ke dinding kamar mandi dan mencium
bibir manisnya. Ciuman panas yang tak akan pernah ditunjukkan pada
siapapun di dunia ini. Ciuman panas yang hanya milik mereka berdua
dimana lidah dan gigi mereka saling beradu. Napas yang semakin memburu.
Tangan Naruto tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia membuka obi yang
dikenakan Hinata dan membuat tubuh indah istrinya itu ditutupi oleh
kimono yang telah terbuka. Naruto bisa melihat dada Hinata yang besar
dan lembut. Tangannya tergoda untuk menyentuh dada yang lembut itu.
Hinata sedikit mendesah ketika merasakan sentuhan tangan Naruto pada
dadanya. Kulit mereka saling bersentuhan.
Naruto berbisik di
telinga Hinata, "Aku suka kau memakai kimono seperti ini. Kau tak
memakai bra, jadi aku bisa langsung menyentuhnya." Tangan Naruto mulai
memijat dada Hinata.
Wajah Hinata memerah. Dia pun balas
berbisik, "Naruto-kun, se-se-sebenarnya… semua bra-ku terasa sesak.
Kurasa dadaku bertambah besar saja."
"Sudah kuduga, E-cup." Pijatan Naruto pada dada Hinata semakin keras dan membuat desahan Hinata makin cepat.
"Apa kau suka dadaku, Naruto-kun? Apa kau suka jika dadaku bertambah besar?"
Naruto mencium dada Hinata dan memberikan kissmark padanya. "Kau tahu,
Hinata? Aku lebih menyukai tubuhmu, seluruhnya, daripada tubuh oiroke no
jutsu-ku. Dadamu begitu indah. Besar. Sangat besar. Bentuknya bulat dan
bagus. Dan juga sangat lembut. Dan tak ketinggalan vaginamu pun sangat
nikmat," rayunya.
"Benarkah?"
"Ya."
"AAAARRGHH!" jerit Hinata ketika Naruto menggigit putingnya dengan keras hingga putingnya itu memerah.
"Apa kau tak suka?"
"Uhm-hm!" Hinata menggeleng. Dia memeluk leher Naruto. "Perlakukan aku sesukamu, suamiku. Aku adalah milikmu, Naruto-kun."
"Hinata," Naruto mencium lembut bibir istrinya itu. Tangannya meraba
pada perut Hinata. Dia mengusapnya dengan lembut. Naruto mulai menyadari
bahwa perut Hinata tak lagi sedatar dulu. Perut yang kini telah
berkembang kehidupan di dalam rahimnya itu mulai membentuk lengkungan.
"Naruto-kun?"
"Dia mulai tumbuh," ucap Naruto lirih sambil mengelus perut istrinya.
"Apa aku terlihat gendut?"
"Kau adalah wanita paling seksi di dunia ini, sayang." Sebuah ciuman
lagi-lagi mendarat di bibir Hinata. Kemudian sekali lagi mendarat di
perut Hinata yang mulai terlihat agak membesar di usia kandungannya yang
memasuki bulan ke-3 ini.
"Hinata, aku ingin 'melakukannya'," pinta Naruto.
"Sudah kubilang, kan? Aku adalah milikmu, sayang. Seluruhnya milikmu.
Perlakukan aku semaumu." Hinata melepaskan kimono dari tubuhnya hingga
suaminya bisa melihat tiap inchi dari tubuhnya beserta lekukannya.
Naruto pun tak tanggung-tanggung. Dia segera menanggalkan pakaiannya
dan menggunakan kagebunshin no jutsu-nya membuat 1 orang bunshin
kemudian menyalakan shower kamar mandi agar membasuh tubuh mereka
berdua. Naruto menguasai dada kanan Hinata sedangkan bunshin Naruto
asyik mempermainkan dada kirinya. Mereka memijatnya. Menekan putingnya
dan membuat dada besar itu berloncatan. Bibir Naruto pun meninggalkan
kissmark dimana-mana. Air liurnya pun memasahi dada yang lembut itu.
Air shower terus membasahi tubuh pasangan muda yang telah memanas itu.
Lidah Naruto mulai menjilati puting susu Hinata dan HAP! Naruto
memasukkan dada Hinata itu ke dalam mulutnya. Naruto memijatnya dengan
mulutnya seakan sedang mengunyah makanan. Lidahnya pun tak berhenti
mempermainkan puting Hinata.
"Aaaaahhhhh~~~Naruto-kuuu~~nnn~~~Aku akan mengeluarkannya!" pekik Hinata.
Naruto mengeluarkan 1 orang bunshin lagi. Bunshin itu segera menunduk
di antara kedua kaki Hinata dan bersiap menerima serangan gadis itu. Dan
tak lama kemudian, Hinata mengeluarkan cairan manis dari vaginanya.
Bunshin Naruto menerimanya dengan mulutnya. Cairan itu memasuki mulutnya
dan melewati tenggorokan. Tak berhenti hanya dengan menikmati cairan
Hinata, bunshin itu mulai menikmati vagina gadis itu.
"Aaaaahhhhhh~~~~" desahan Hinata makin panjang karena sentuhan tiga orang Naruto.
"Uhm?" Naruto merasakan ada cairan yang keluar dari dada Hinata dan menelannya.
"Apa ASI-ku keluar?" tanya Hinata.
"Sepertinya," ucap Naruto singkat. Dia melanjutkan menikmati cairan
manis yang keluar dari gadis yang sedang mengandung itu. "Aku akan
menikmatinya lebih dulu daripada anak kita nantinya."
"Aaaaaaahhhhhhhhh~~~~!" Hinata merasakan cairannya keluar lagi secara bersamaan dari vaginanya dan juga dadanya.
"Hinata, aku juga akan mengeluarkannya!" Naruto merasakan dia akan berejakulasi.
"Tunggu dulu, Naruto-kun! Kau harus mengeluarkannya di dalamku!"
"Tapi, Hinata, kau sedang hamil!"
"Sudah kubilang aku tak peduli! Kau menginginkanku, Naruto-kun! Dan aku pun menginginkanmu!"
"Aku sudah tidak tahan!" pekik Naruto. Dia menghilangkan salah satu
bunshin-nya yang sedang asyik menikmati vagina Hinata dan mengambil alih
tempatnya. Naruto pun segera memasukkan 'miliknya' ke dalam vagina
Hinata.
"Tunggu sebentar, Naruto-kun! Aku juga akan mengeluarkannya!"
Naruto pun berejakulasi di dalam Hinata. Dia melepaskan jutaan sperma
hangatnya masuk ke dalam Hinata dan bercampur dengan cairan hangat milik
Hinata. Sedangkan salah satu bunshinnya masih tetap setia menikmati
dada Hinata dan cairan yang keluar dari putingnya. Air shower yang
mengalir membasahi tubuh mereka pun terasa panas sama seperti napas
mereka yang memburu.
"Naruto-kuuunnn~~~~!" desah Hinata.
Naruto menghilangkan bunshin-nya. Jadi tinggal dia sendirian yang akan
'memakan' Hinata. Dengan 'miliknya' yang masih tertinggal di dalam
Hinata, Naruto berejakulasi berkali-kali sambil tetap menikmati dada
Hinata dengan mulut dan tangannya.
==/==
– 1 bulan kemudian –
Siang itu Hinata mendatangi Rumah Sakit Konoha. Usia kehamilan Hinata
sudah memasuki bulan ke-4. Sesuai janjinya pada Tsunade, Hinata rajin
memeriksakan kondisi janinnya pada mantan Hokage itu.
"Sakura-san!" sapa Hinata pada Sakura yang baru saja datang.
"Hinata?" balas Sakura sambil mengambil tempat duduk di sebelah Hinata.
"Kau…memeriksakannya?" tanya calon ibu berambut pink itu sambil
menunjuk perut Hinata yang telah membesar dengan sempurna.
"Ya," jawab Hinata dengan tersenyum. Dia mengelus lembut perutnya yang membuncit.
"Kau juga datang, Sakura?" sapa Ino.
"Kau sama sekali tak tampak seperti calon ibu, Ino! Lihatlah perutmu itu masih terlihat rata!" ejek Sakura.
"APA? Kau juga sama, kan? Aku juga tak melihat kalau kau itu sedang hamil! Coba lihat Hinata!" balas Ino.
"Usia kandunganku ini baru 1 bulan, bodoh! Mana mungkin kau bandingkan dengan Hinata!"
"Kau itu yang bodoh!"
"Sudah, sudah! Kalian tak usah bertengkar!" lerai Ten Ten yang juga memeriksakan kandungannya yang sudah 2 bulan itu.
"Coba lihat Hinata itu sangat manis dengan perutnya yang membesar itu!"
tantang Sakura. Dia melihat perut Hinata yang tampak agak besar.
"?" Sakura merasakan sedikit keanehan. "Hinata, berapa usia kandunganmu?" tanyanya.
"Eh? Uhm, 4 bulan," jawab Hinata lirih. Dia merasa agak canggung karena
dirinya dijadikan bahan pertengkaran bagi teman-temannya itu.
"4 bulan tapi sebesar ini?" Sakura makin mendekatkan pandangan matanya pada perut Hinata.
"Me-memangnya kenapa, Sakura-san?" Hinata terlihat khawatir. Dia takut
terjadi apa-apa dengan janinnya mengingat janin tersebut adalah bayi
seorang jinchuuriki.
"Ino, apa kau merasa kalau Hinata itu hamil 4 bulan?" tanya Sakura.
Ino berpikir sebentar kemudian menggeleng ragu.
"Sa-Sakura-san?" keringat dingin mulai muncul di kening Hinata.
"Perutmu itu tidak terlihat berusia 4 bulan, Hinata! Aku seorang ninja
medis. Aku sering melihat banyak kehamilan dari pasien yang datang ke
rumah sakit ini dan memeriksa mereka. Tapi seingatku, tak ada wanita
hamil 4 bulan dengan perut sebesar dirimu!" jelas Sakura yang menyadari
penampakan perut Hinata lebih besar dari rata-rata usia kandungan 4
bulan. Jika tidak bertanya, maka Sakura pasti akan mengira Hinata sedang
hamil 6 atau 7 bulan.
"Ja-jadi?" Hinata terlihat gugup.
"Ayo segera kita periksa!" Sakura menggandeng tangan Hinata dan membawanya masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Chapter 5 : Hokage
"Eh? Benarkah itu, Sakura-san?" tanya Hinata seolah tak percaya dengan berita yang baru saja disampaikan Sakura.
"Ya! Aku hamil, Hinata! Anak Sasuke-kun!" ucap Sakura sekali lagi
dengan mata yang menyipit dan senyum yang lebar. Hinata bisa melihat
bahwa Sakura sangat senang bisa mengandung anak Sasuke.
"Syukurlah! Hehehe," Hinata pun tersenyum puas.
"Apa-apaan kalian ini?" tanya
Tsunade yang melihat Hinata dan Sakura yang senyum-senyum saja dari
tadi. Tentu saja karena mereka berdua sedang berada di depan kantor
Tsunade di Hokage Tower.
Hinata terlihat gugup setelah digertak
seperti itu oleh Godaime Hokage itu. Wajahnya memerah semerah tomat dan
dia pun mulai memainkan jarinya. Sementara itu Sakura terlihat tenang
dan menebarkan senyum lebarnya.
"Hehehe, Tsunade-sama, aku hanya ingin menyampaikan," Sakura pun mulai berbicara. Dia menyentuh lembut perutnya. "Aku hamil!"
"APAAA?" pekik Tsunade tak percaya.
"Hinata juga!" tambah Sakura.
"TIDAK MUNGKIN!" Tsunade melirik pada Hinata. Selama ini di matanya,
Hinata adalah anak pemalu yang polos, apalagi dia dari keluarga
terhormat.
"I-i-i-itu be-be-benar, Tsunade-sama," ucap Hinata lirih.
"Haaahhh~~!" Tsunade menghela napas. "Masuklah kalian berdua!" Tsunade
mempersilakan Sakura dan Hinata masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Tsunade sambil merebahkan dirinya di kursi Hokage yang tak lama lagi bukan miliknya itu.
"Kalau Anda tanya bagaimana ya jawabnya seperti yang sudah Anda
ketahui. Tentu saja karena hubungan laki-laki dan perempuan!" jawab
Sakura sekenanya. Tampaknya dia terlalu gembira sehingga malas untuk
menjelaskannya.
"DASAR BODOH! Bukan begitu! Kalian ini masih 17 tahun dan belum menikah, BODOH!" bentak Tsunade.
"Uhmm~ Tsunade-sama, aku akan menikah dengan Naruto-kun dan ayah sudah menyetujuinya," ucap Hinata tegas.
"Apa? Jadi Hiashi sudah tahu?" tanya Tsunade dan Hinata pun mengangguk pelan. "Lalu, Sakura?"
"Yaaa~ Sasuke pun sudah melamarku!" jawab Sakura.
"Haahh~~ mau bicara atau marah pun tak ada gunanya lagi. Nasi sudah
menjadi bubur. Kalau begitu kalian akan diberi cuti hingga anak kalian
lahir nanti," ucap Tsunade pasrah.
"Terima kasih,
Tsunade-sama!" ucap Hinata dan Sakura bersamaan sambil menundukkan
badan. Mereka pun bersiap meninggalkan ruangan karena dikiranya tak ada
lagi yang harus disampaikan pada Godaime Hokage itu.
"Ah,
tunggu dulu, Hinata!" Tsunade menghentikan Hinata. Hinata pun menuruti
perintah Tsunade dan kembali menghadap di depan meja kerjanya, sedangkan
Sakura merasa dirinya harus keluar dari ruangan itu.
"Apa kau
tahu kalau Naruto adalah Jinchuuriki?" tanya Tsunade dan Hinata
mengangguk. "Aku masih belum tahu pasti, tapi kurasa sedikit banyak,
cakra Kyuubi pasti akan berpengaruh pada tubuhmu. Berbeda dengan Kushina
yang merupakan Jinchuuriki, kamu hanya menerima bagian cakra dari
Kyuubi, apalagi kau adalah garis keturunan Hyuuga."
"Ya. Saya siap menanggung apapun itu!" ucap Hinata pasti.
"Kau benar-benar mirip dengan Naruto!" senyum kecil tersungging dari
ujung bibir Tsunade dan Hinata merasakan wajahnya panas mendengarnya
dibilang mirip Naruto.
"Baiklah, kau boleh pergi! Tapi jangan
lupa memeriksakan kesehatanmu padaku tiap minggu! Aku ingin
memonitornya," kata Tsunade. Hinata pun menunduk dan bersiap keluar.
"Oh, iya! Sampaikan pada Naruto, penobatannya tiga hari lagi! Dia
keburu kabur waktu aku akan memberitahunya," ucap Tsunade yang terlihat
agak kesal.
"Baiklah. Terima kasih!" ucap Hinata. Tsunade bisa
melihatnya tertawa kecil karena membayangkan bagaimana Naruto yang
langsung kabur karena kegirangan mendengar dirinya akan menjadi Hokage.
==/==
"SAIIIII!" teriak Ino sambil menubruk Sai yang terlihat sedang berlatih di pinggiran desa Konoha.
"I-Ino?" Sai terlihat heran dengan perilaku kekasihnya itu. Dan yang
paling mengherankan adalah Ino yang langsung menempelkan bibirnya pada
bibir Sai.
"Aku ingin anakmu, Sai!" ucap Ino.
"Hah~?"
"Sakura hamil. Hinata juga. Aku tak mau kalah, Sai!" rengek Ino. Dia
meraih tangan Sai dan meletakkannya di dadanya yang cukup besar itu. Dia
pun membuat Sai meremas dadanya.
"Apa…kau yakin?" tanya Sai memastikan.
"Yaaa~~," Ino mulai mendesah karena tangan Sai mulai meremas dadanya di luar kendali.
"Kebetulan sekali kalau begitu," Sai pun mulai mencium bibir Ino, "apa
kau tahu, pria yang baru saja berlatih keras, nafsunya meningkat?"
ciuman Sai semakin dalam dan dengan cepat dia membuka baju Ino bagian
atas sehingga dadanya terlihat berloncatan.
"Aaaahhh~~~~," desah Ino yang dadanya telah dipermainkan oleh Sai.
==/==
"Haaahhh~~ apa-apaan mereka itu?" kata Shikamaru yang tak sengaja
melihat adegan film antara Ino dan Sai. Dia memperhatikan bagaimana Sai
memperbudak tubuh Ino dan Ino pun terlihat sangat kegirangan karenanya.
"Merepotkan!" ucapnya yang berniat meninggalkan adegan panas itu.
"Shikamaru!" sapa Temari yang tiba-tiba muncul. "Apa yang kau lakukan?"
"Aaaaaaaahhhhhh~~~," terdengar suara desahan Ino yang keras di telinga mereka berdua.
"Dasar! Wanita itu benar-benar membingungkan! Bisa-bisanya mereka mengeluarkan suara manja seperti itu," ejek Shikamaru.
"Hei! Jangan seenaknya mengejek, ya!" bantah Temari.
Shikamaru memandang Temari dengan pandangan sinis kemudian mendesah.
"Kalau kau sih tak mungkin bisa mengeluarkan suara manja seperti itu,
kan?"
"A-apa kau bilang? Enak saja!" Temari langsung melepaskan
bajunya. "Bagaimana kalau kau coba?" tantangnya pada pria jenius yang
terkesan malas itu.
Shikamaru bisa melihat siluet tubuh Temari.
Dadanya yang besar dan lekukan tubuhnya yang sempurna. "Baiklah!"
Shikamaru pun menjawab tantangan Temari dan mulai menyerangnya dengan
ciuman bertubi-tubi di dadanya.
"AAAAAAHHHH~~~~!" desah Ino dan Temari bersamaan karena merasakan berjuta-juta sperma pasangannya menyerang hingga ke rahimnya.
==/==
3 hari kemudian di apartemen Naruto.
"Kau sudah siap, Naruto-kun?" tanya Hinata. Dia memakai kimono berwarna
sama dengan rambutnya. Hinata terlihat sangat cantik dengan kimono
lavender itu. Dia membawakan topi dengan tulisan huruf kanji 'API' yang
menjadi lambang Konoha.
"Ya!" Naruto mengambil topi itu dari
tangan Hinata dan mengenakannya. Dia sudah siap dengan jubah putih
Hokage yang bertuliskan kanji angka 7 di punggungnya.
Hinata
tersenyum melihat Naruto yang begitu gembira. Mata biru Naruto sampai
tertutup oleh lebarnya senyumannya. Akhirnya hari yang diimpikan oleh
Naruto sejak kecil terwujud. Mimpi yang diwujudkannya oleh usaha keras
Naruto. Dari seorang anak yang sama sekali tak dianggap keberadaannya di
Konoha, hingga menjadi pahlawan Konoha, bahkan sekarang akan menjadi
Hokage. Membayangkannya saja membuat bulir-bulir air mata Hinata
mengalir.
"Hi-hinata?" Naruto terkejut melihat Hinata yang menangis. "Ada apa?"
"Uhm-hm," Hinata hanya menggelengkan kepalanya. "Aku bahagia,
Naruto-kun!" ucapnya sambil memberikan sebuah kecupan manis di bibir
Naruto.
"Kalau bahagia, seharusnya kau tersenyum, kan, Namikaze
Hinata!" ucap Naruto sembari menghapus air mata di pipi Hinata yang
putih itu.
"Ya," Hinata mengangguk, tapi, "Eh? Na-Namika-,"
"Namikaze Hinata, istri dari Namikaze Naruto!" ujar Naruto sambil
memperlihatkan sebuah kertas yang menunjukkan pernikahan antara Namikaze
Naruto dan Hyuuga Hinata.
Hinata tak mampu berkata lagi. Dia
hanya memeluk Naruto. Tak ada kata lagi yang bisa disampaikannya. Hanya
kebahagiaan yang mengalir lembut dari hatinya.
"Ayo!" ucap
Naruto sambil menarik tangan Hinata dan kemudian menggendongnya ala
seorang putri hingga di Hokage Tower tempat upacara penobatan Naruto
sebagai Hokage dimulai.
==/==
"Tsunade-sama, semuanya sudah siap!" kata Shizune.
"Ya. Biarkan aku sebentar lagi menikmati kursi Hokage ini," senyum wanita berdada besar itu.
"Oh iya, Tsunade-sama, aku ingin menyampaikan kalau Yamanaka Ino dan Ten Ten harus cuti dari tugas Kunoichi," tambah Shizune.
"Hm?" Tsunade menaikkan alisnya.
"Ya, mereka baru memeriksakannya tadi pagi. Ino sedang hamil anak Sai
dan Ten Ten sedang hamil anak Hyuuga Neji," jelas Shizune.
"Hmm?" Tsunade mulai terlihat marah.
"Terus sepertinya Temari dari Sunagakure juga sedang mengandung anak
Shikamaru," tambah Shizune yang membuat Tsunade semakin marah.
"APAAAA?" Tsunade pun menghancurkan meja di depannya dengan sebuah pukulan.
"Aaaahhhh~~!" Shizune yang terlihat ketakutan segera kabur dari wanita terkuat di Konoha itu.
"Brengsek! Ini berarti kekuatan tempur Konoha banyak berkurang,"
ucapnya marah. Kemudian Tsunade melihat ke luar jendela dan memandangi
sinar matahari di sela awan dan tersenyum simpul. "Generasi baru sudah
mulai terlihat."
Dan tiba-tiba Tsunade teringat akan kekasihnya, Dan.
==/==
Di sekeliling Hokage Tower, seluruh warga Konoha berkumpul. Di atas
menara itu tampak Naruto dengan pakaian Hokage-nya. Pria bermata biru
dan berambut pirang itu pun berkata dengan lantang, "Mulai sekarang,
aku, Namikaze Naruto, menjadi Hokage ke-7 Konoha! Apapun yang terjadi,
aku akan melindungi Konoha! YEAAAHHH!" Naruto menaikkan tangannya tanda
dia sangat bersemangat.
"YAAAA!" sambut seluruh warga Konoha yang jadi ikutan semangat karena Hokage-nya pun sangaaattttt bersemangat.
Chapter 4 : Proposal
"EEEEEHHHHH?" Naruto kaget bukan kepalang. "Be-benarkah itu, Hinata?" tanyanya ragu.
Hinata tak menjawabnya. Dia hanya menunduk malu dengan wajah merahnya.
Naruto pun menyadari bahwa yang dikatakan Hinata adalah benar. Dia pun
segera memeluk gadis berambut violet itu dan menciumnya lembut di bibir,
pipi, dan dahinya. "Apa kau tahu, Hinata? Aku sangat senang sekali! Aku
akan menjadi ayah!" tawa Naruto terlihat sangat lebar dan matanya pun semakin menyipit. Raut wajahnya terlihat sangat gembira.
"Aku tak sabar menantikan kelahiranmu!" ucap Naruto sambil mencium dan mengelus lembut perut Hinata.
"Naruto-kun…." Hinata merasa agak geli ketika Naruto mencium perutnya.
"Kenapa aku bisa tak menyadarinya? Kalau kuperhatikan dengan lebih jeli
memang perutmu agak sedikit membesar dibanding saat pertama kali kita
melakukannya," Naruto memandangi perut Hinata dengan seksama.
"Benarkah itu, Naruto-kun? Maaf aku tak menyadarinya," Hinata terlihat
sedikit sedih. Kenapa dia bisa tak menyadari keberadaan benih Naruto
yang ada pada dirinya.
Naruto mencium bibir Hinata sekali lagi. "Bukankah bagus? Sekarang kita hanya tinggal menunggu 6 bulan lagi."
Hinata pun tersenyum lega.
"AAAARRGHHHH!" pekik Naruto tiba-tiba.
"A-ada apa, Naruto-kun?" Hinata terkejut dengan perubahan sikap Naruto.
"Padahal kau sedang hamil tapi aku selalu menyerangmu seperti binatang buas!" Naruto terlihat depresi.
Hinata memeluk Naruto. "Selama ini kita selalu melakukannya tanpa
mempedulikan'nya' kan?" ucap Hinata sambil mengelus perutnya, "dan dia
baik-baik saja sampai sekarang, Naruto-kun."
"Hinata, apa kau mengerti ucapanmu itu? Ucapanmu itu seakan menyuruhku untuk terus memelukmu malam ini."
Hinata hanya tertunduk malu. Bagaimana pun, yang dikatakan Naruto
memang yang ada di pikirannya. Dia menginginkan Naruto. Hinata masih
menginginkan sentuhan Naruto malam ini.
"Kau mesum, Hinata!" goda Naruto sambil mencium dada calon ibu itu dan menggigit keras putingnya.
"Aaahh!" pekik Hinata yang oleh Naruto terdengar seperti desahan.
"Besok kita akan menemui ayahmu, Hinata. Tapi malam ini kau tak akan
kubiarkan tidur! Ini adalah hukuman dari ucapanmu, Hinata," rayu Naruto.
Dia memasukan dada besar Hinata dalam mulutnya sedangkan tangannya
masih mengelus lembut perut dimana anaknya berada.
"Naruto-kuuunnn~~!" desah Hinata ketika gigi Naruto bertemu lagi dengan
putingnya dan mulut lelaki berambut jabrik itu memijat dadanya.
"Aku benar-benar menyukai dadanya!" pikir Naruto. Dia pun memiringkan
tubuh Hinata dan membuka kakinya kemudian memasukan 'miliknya' ke dalam
vagina Hinata. Dada besar Hinata pun berloncatan karena gesekannya.
Hinata pun mendesah panjang dan dalam karena Naruto membuat 'miliknya'
seperti pegas di dalam Hinata.
"Tidak Naruto-kun! Jangan! Bagaimana dengan anak kita?" tolak Hinata yang mengkhawatirkan keadaan janinnya.
"Bukankah selama ini kita tak pernah memikirkan keadaannya, Hinata?"
"Tapi sekarang beda! Aaaahhh~~ Aku takut anak kita terluka!"
"Tenanglah, Hinata!" Naruto makin liar memperlakukan vagina dan dada Hinata.
"Oooohhh~~ tidak Naruto-kuunnn~~! Kau jangan mengeluarkannya di sana!"
desah Hinata dalam ketika menyadari Naruto mengeluarkan spermanya di
dalamnya.
"Maaf, Hinata!" Naruto segera menarik 'miliknya' keluar dengan cepat hingga tubuh Hinata tersentak.
"AAAHH!"
"Hinata, kali ini aku tak akan mengeluarkannya di dalammu lagi," ucap Naruto. Dia mengecup dahi berponi violet itu.
"Ya. Aku hanya mengkhawatirkan anak kita saja."
Dan mereka pun melanjutkannya.
==/==
Keesokan harinya.
"Hoeeekkk! Hoeeekkk!" Hinata mengalami morning sickness-nya. Dia memuntahkan banyak isi perutnya di wastafel.
"Kau tak apa-apa Hinata?" tanya Naruto yang terlihat khawatir. Dia
memeluk Hinata dari belakang seakan ikut merasakan mual yang dirasakan
ibu muda itu.
"Aku tak apa-apa, Naruto-kun," jawab Hinata yang
tak ingin kekasihnya terlihat khawatir. Dia membersihkan sisa muntahan
yang ada di pinggiran bibirnya.
Tangan Naruto meraih perut
Hinata dan mengelusnya. "Anakku, kumohon jangan membuat repot ibumu,
ya?" ucapnya lembut di dekat telinga Hinata yang membuat wajahnya makin
memerah.
"Naruto-kun," gumam Hinata. Dan ajaibnya, sang janin
seakan menuruti perintah ayahnya untuk tenang. Hinata tak lagi merasa
mual.
"Kita harus segera bersiap," kata Naruto sambil memberikan ciuman selamat pagi pada Hinata. "Humm, rasa muntahan," guraunya.
"Ah! Maaf, Naruto-kun!" Hinata merasa agak bersalah.
==/==
Di kediaman Hyuuga.
"Izinkan aku menikahi Hinata!" mohon Naruto sambil bersujud di hadapan
Hiashi. Dia terlihat sangat tegang. Kali ini dia mengenakan jas hitam
dan terlihat lebih rapi daripada penampilannya yang biasanya, meskipun
rambutnya masih tetap jabrik.
"Hmm," Hiashi berpikir sejenak dengan wajah kerasnya. "Tidak," jawabnya tegas.
"A-apa? Kenapa?" protes Naruto. "Aku dan Hinata saling mencintai!"
"Kalian masih terlalu muda! Lagipula kau adalah jinchuuriki, aku tak
ingin membahayakan Hinata," jawab Hiashi tegas. Ternyata dia memikirkan
nasib putri tertuanya itu.
"Tapi, aku pasti akan melindungi Hinata!" Naruto berusaha meyakinkan.
"Apa yang bisa dilakukan genin sepertimu? Kedudukanmu sama sekali tak cocok untuk keluarga Hyuuga!" ucap Hiashi keras.
"Aku memang hanya seorang Namikaze Naruto, tapi aku akan mencintai dan
melindungi Hinata seumur hidupku. Aku tak akan pernah menarik ucapanku
ini!" ucap Naruto pasti. Mata birunya menyiratkan kebulatan tekadnya.
Mendengar perkataan Naruto itu, dada Hinata terasa sangat hangat. Sekarang tak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi.
Ujung bibir Hiashi tersenyum kecil. "Baiklah. Kata-kata itulah yang
ingin kudengar. Aku akan memegang perkatanmu, Naruto. Kau akan selalu
melindungi Hinata apapun yang terjadi sebagai Namikaze Naruto."
"Eh?" Naruto heran karena tiba-tiba Hiashi meng'iya'kan lamarannya.
"Aku sudah mendengarnya dari Hokage-sama, kau akan menjadi Hokage
berikutnya. Tapi kau sama sekali tak mengungkit-ungkit soal kedudukan
sebagai Hokage di hadapanku. Di hadapanku dan Hinata, kau hanyalah
seorang Namikaze Naruto. Itulah yang membuatku salut padamu," jelas
Hiashi. Ternyata dia menyadari kesungguhan Naruto.
"Ja-jadi?" Naruto seakan tak percaya.
"Ya. Aku merestui pernikahan kalian," ucap Hiashi tegas.
"YAAAA!" Naruto berteriak keras sambil mengangkat tangannya
tinggi-tinggi. Tapi kemudian kembali duduk bersimpuh ketika menyadari
mata putih Hiashi memandangnya tajam.
"A-anu, ayah…." Hinata agak ragu untuk berbicara. "Ada satu lagi yang ingin kusampaikan."
"Apa itu?"
Hinata menyentuh perutnya. "Aku sedang mengandung anak Naruto-kun," ucapnya dengan wajah memerah padam.
Urat-urat kemarahan mulai muncul di dahi Hiashi. "A-apa katamu?"
"Aku hamil, Ayah. Sudah 3 bulan," ucap Hinata lagi. Tampaknya dia masih belum menyadari benih-benih kemarahan ayahnya.
"NARUTOOO!" teriak Hiashi yang marah pada pemuda 16 tahun yang telah
menghamili putrinya. Dia pun segera mengeluarkan Byakugan-nya.
"WAAAAA!" Naruto pun bersiap untuk kabur daripada menghadapi kemarahan Hiashi yang terlihat menakutkan.
==/==
Sakura mendengus melihat hasil pemeriksaannya di kamar mandi.
"Bagaimana?" tanya Sasuke tak sabar.
"Negatif," ucap Sakura putus asa.
Sasuke menarik tangan Sakura dan menciumnya. "Kalau begitu kita coba lagi."
"Tentu saja, Sasuke-kun!" Sakura terlihat bahagia dengan pipi
meronanya. "Aku menginginkan bayimu," dia membalas ciuman Sasuke di
bibirnya.
"Apa kau tak akan pergi ke rumah sakit hari ini?" tanya pemuda berambut hitam itu. Tangannya mulai meremas dada Sakura.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sasuke-kun!" pinta Sakura.
Sasuke pun tak segan-segan bermain dengan dada padat Sakura. Dia
membuat dada itu basah oleh air liurnya dan mempertemukan giginya dengan
puting mungil Sakura yang membuat gadis berambut sakura itu mendesah
tak karuan.
"Aaaaahhh~~ cepatlah, Sasuke-kun!" pintanya.
"Aku akan memasukannya, Sakura!" Sasuke pun memasukan 'miliknya' ke
dalam vagina Sakura dan melepaskan jutaan spermanya di sana. Dia
berharap kali ini spermanya bisa sampai ke tempat ovum Sakura agar bisa
terbentuk kehidupan yang baru.
"Terus, Sasuke-kun! Lakukanlah lebih cepat! Masukanlah lebih dalam lagi!" pinta gadis itu.
Dan Sasuke pun melepaskan spermanya berkali-kali di dalam vagina Sakura.
"Hah! Hah! Hah!" Sakura terlihat kelelahan karena Sasuke sudah mengeksploitasinya.
"Sakura, maukah kau menikah denganku?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Mata Sakura terbelalak. Dia serasa tak percaya. "Dasar! Kenapa kau
mengatakannya di saat seperti ini?" omelnya untuk menutupi rasa malu.
"Iya atau tidak?"
"Tentu saja iya, kan?" Sakura pun memeluk Sasuke dengan erat.
"Sakura, aku merasakan cakra-mu kacau," bisik Sasuke di telinga Sakura.
"Eh?"
"Bisakah kau segera memeriksanya?" pinta pria bermata hitam itu.
Sakura pun memeriksa dirinya. Dan hasilnya adalah positif!
"Kita berhasil, Sasuke-kun!" ucap Sakura kegirangan. "Akhirnya aku
hamil! Aku mengandung anakmu, Sasuke-kun!" dia memeluk erat Sasuke. Dan
Sasuke pun membalas pelukan kekasihnya itu dengan senyuman puas di
bibirnya.
Chapter 3 : By Your Side
Sementara itu, di rumah sakit Konoha, Hinata memeriksakan kesehatannya pada Sakura.
"Hi-Hinata…ini tidak…mungkin, kan?" ucap Sakura tak percaya.
"Eh?" Hinata masih tak mengerti arti dari ekspresi Sakura yang melihat hasil pemeriksaannya.
"Aku sudah memeriksanya berkali-kali dan aku mendapatkan hasil yang sama," ucap Sakura yang masih merasa tak percaya.
"Sa-Sakura-san, sebenarnya ada apa? Aku sakit apa?" Hinata mulai terlihat khawatir.
"Kau hamil! Kau hamil, Hinata!" pekik Sakura.
"Eh?" wajah Hinata memerah bukan main. Dia sepenuhnya tak bisa
mempercayai perkataan Sakura. Kemudian tangannya menyentuh lembut
perutnya. "Be-benarkah?"
Sakura memegang kedua pundak Hinata.
"Katakan padaku, Hinata! Apakah Naruto?" tanyanya. Dia mengira 100persen
bahwa Naruto-lah yang menghamili Hinata karena Sakura mengetahui mereka
telah berpacaran sejak 3 bulan lalu.
Hinata tak menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan dengan wajahnya yang merona merah kemudian menunduk.
"NA-RU-TOOOO!" teriak Sakura sambil meninju meja yang ada di sampingnya
hingga meja kayu itu hancur berkeping-keping dan tak akan ada seorang
pun yang bisa mengenalinya sebagai bekas meja.
"Sa-Sakura-san?" Hinata bergidik melihat Sakura yang sedang marah.
"Dasar Naruto bodoh! Bodoh! Bodoh! Dia itu benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dia melakukannya padamu, Hinata?" protes Sakura.
Hinata kembali memainkan jari telunjuknya. "Uhmm…karena aku mencintai Naruto-kun," ucapnya lirih.
"Hhh! Dasar!" Sakura berusaha meredakan kemarahannya. Biar dia marah
bagaimanapun juga, nasi sudah menjadi bubur. Hinata sekarang sudah
mengandung anak Naruto. "Lalu kau juga, Hinata, bagaimana kau sama
sekali tak menyadarinya? Usia kandunganmu itu sudah 3 bulan tahu!"
"Eh? Benarkah itu, Sakura-san?" Hinata merasa seluruh wajahnya menjadi
lebih panas seakan terbakar sinar matahari. "Ha-habis~aku sama sekali
tak tahu…" ucap gadis berambut violet sambil memainkan telunjuknya
seperti biasanya.
"Sudahlah! Aku mau bicara seperti apapun
sepertinya percuma! Cepatlah kau pulang dan beritahu Naruto!" ucap
Sakura yang terlihat putus asa.
"Terima kasih, Sakura-san!" Hinata menundukan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya dan segera pergi dari ruangan itu.
Sakura hanya menghela napas melihat kepergian temannya itu.
"Dia berbuat ulah lagi?" terdengar suara yang cukup berat dari jendela.
"Sasuke-kun?" pekik Sakura girang ketika melihat pemuda berambut hitam yang tiba-tiba muncul dari jendela.
"Huh! Aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Naruto benar-benar
gila!" komentar Sasuke yang kemudian segera masuk ke dalam ruangan itu
sambil menutup jendela dan menguncinya.
"Sa-suke-kun?" gumam
Sakura yang merasa heran karena Sasuke juga menutup tirai yang
menggantung di atas jendela ruangan mungil itu.
Namun seluruh
keheranannya menghilang ketika Sasuke menarik tangannya dan membuatnya
berada di dalam pelukan dada bidang kekasihnya itu. Sasuke memegang
lembut pipi kemerahan milik Sakura dan mengangkat wajahnya, kemudian
memberikan ciuman pada bibirnya. Ciumannya begitu dalam hingga lidah
mereka saling mengait dan air liur pun saling bertukar.
"Sasu–," desah Sakura di antara ciuman panas Sasuke. Dia merasa napasnya seakan diambil pemuda bermata hitam itu.
Sasuke sama sekali tak mengindahkan desahan yang keluar dari mulut
Sakura. Dia hanya meneruskan ciumannya. Lebih dalam dan lebih panas
lagi. Tangannya mulai bergerak untuk melepas kancing bajunya satu per
satu, kemudian melempar baju merah itu ke lantai begitu saja seakan baju
tersebut sudah tak diperlukan lagi.
"Sasuke-kun!" desahan
Sakura semakin hebat ketika Sasuke memindahkan bibirnya ke leher gadis
mata hijau itu dan mulai meremas dadanya. Sasuke menyandarkan tubuh
bagian atas Sakura di atas ranjang periksa dengan tetap mempermainkan
dadanya yang padat.
"Aaahhhh~~ Sasuke-kuunn~~!"
Sasuke
memindahkan bibirnya ke dada Sakura dan mempermainkan puting Sakura
dengan gigi dan lidahnya. Dada kecil itu sudah basah oleh air liur
Sasuke. Begitu pula dengan keadaan di antara kedua kakinya yang telah
basah karena pijatan tangan Sasuke padanya. Tak lama kemudian Sasuke
memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Sakura hingga gadis berambut merah
muda itu berteriak antara kesakitan dan nikmat.
"Aaaahhh~~!
Sasuke-kuuuunnnn~~~! Ooooohhhh~~~!" Sakura merasa 'milik' Sasuke
menggesek dinding vaginanya. Dia seakan melayang-layang karena merasakan
kenikmatan yang tak terkatakan.
"Tidak! Jangan!" pekik Sakura ketika menyadari Sasuke berejakulasi di dalamnya.
"Memangnya kenapa, Sakura? Kita biasa melakukannya, kan?" bisik Sasuke
di telinga Sakura hingga membuat gadis itu semakin tak tahan dengan
godaannya.
"Ooohh~~ Sasuke-kunnn~ kau tak pakai pengaman!"
pekik Sakura yang merasakan vaginanya telah basah oleh jutaan sperma
kekasihnya itu.
"Terus?" gumam Sasuke tak peduli. Dia tampak asyik menggigit puting kecil milik Sakura dan menjilatinya.
"Tidaaakkk!" pekik Sakura karena Sasuke berejakulasi lagi. "Kalau kau terus mengeluarkannya di sana, aku bisa hamil!"
"Hmm?" Sasuke tampak tak peduli dengan teriakan Sakura. Dia masih tampak menikmati dada Sakura.
"Aku benar-benar bisa hamil, Sasuke-kun!" gadis berambut merah muda itu
berteriak semakin keras hingga bibir Sasuke membungkamnya dengan
ciumannya.
"Naruto bisa melakukannya maka aku pun bisa!" ucap Sasuke pada Sakura. "Apa kau tak mau, Sakura?"
Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke dan membalas
ciumannya. "Berada di sampingmu merupakan kebahagiaan terbesar bagiku.
Apalagi kalau bisa mengandung anakmu, Sasuke-kun," ucapnya lembut.
"Kalau begitu, bersiaplah, Sakura!"
"Aaaaahhhhhh~~~!"
==/==
"Hinata!" Naruto membuka pintu kamarnya dengan keras dan berharap
kekasihnya berada di dalamnya. Namun, ternyata Hinata tak ada di dalam
kamarnya. "Hinata?" kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari
bayangan Hinata namun Naruto masih tak menemukannya.
"Naruto-kun?" sapa suara nan lembut dari pintu yang ternyata adalah Hinata yang baru datang dari tempat Sakura.
"Hinata!" pekik Naruto sambil memeluk gadis berambut panjang itu.
"Dengar Hinata! Aku berhasil! Nenek Tsunade bilang aku akan menjadi
Hokage! Akhirnya aku menjadi Hokage, Hinata! Hokage, kau tahu!" ucapnya
dengan penuh kegirangan.
Hinata masih tak percaya. Dua kejutan
beruntun untuk hari ini yang bisa menggoncang jiwanya. Dia tak percaya
impian Naruto bisa terwujud secepat ini. Dia merasa sangat bahagia
akhirnya impian orang yang dicintainya bisa tercapai. Namun, entah
kenapa ada yang meresahkan hatinya.
"Hinata?" tanya Naruto yang menyadari ada kesedihan yang tampak dari wajah manis kekasihnya itu. "Ada apa?"
Hinata menggelengkan kepalanya. "Uhm, uhm! Tidak apa-apa!" tampaknya dia tak ingin Naruto mengetahui kegalauannya.
Naruto memegang kedua pundak mungil Hinata, "Katakan padaku, Hinata?
Apa yang meresahkanmu?" Mata birunya menatap mata klan Hyuuga itu.
Hinata menghela napasnya. "Maafkan aku, Naruto-kun. Aku hanya merasa jarak di antara kita semakin besar."
"Hah? Apa maksudmu?"
"Aku senang akhirnya impianmu untuk menjadi Hokage bisa terwujud. Aku
sangat bahagia, Naruto-kun! Tapi…jika berpikir ninja yang tidak ada
apa-apanya sepertiku ada di sampingmu yang seorang Hokage dan pahlawan
Konoha, aku merasa sangat tidak pantas."
"Hina–"
Hinata menyentuh pipi Naruto. "Aku mencintaimu, Naruto-kun. Sangat
mencintaimu. Tapi aku bukanlah ninja yang hebat. Aku juga bukan orang
yang begitu spesial. Dirimu sudah terlalu jauh bagiku dan aku merasa aku
tak akan bisa lagi menggapaimu," tatapan matanya terlihat sangat sedih.
Hinata mati-matian menahan air matanya agar tak mengalir keluar.
"Bodoh! Memangnya kau berpikir apa, Hinata?" Naruto menarik tangan
Hinata yang tadi menyentuh pipinya. Tangannya merogoh ke saku celananya
dan mengambil sesuatu dari dalamnya kemudian memakaikannya di jari manis
Hinata. Naruto memberinya sebuah cincin.
"Hanya kau yang
pantas untukku, Hinata!" Naruto kembali memeluk gadis itu di dalam
dekapan dada bidangnya. "Hanya kau, Hinata! Kau melihatku saat
orang-orang memalingkan pandangannya. Kau mendukungku saat aku hanyalah
seorang anak yang payah. Dan kau mencintaiku saat aku hanyalah seorang
Uzumaki Naruto! Aku sangat mencintaimu, Hinata. Aku mencintaimu
selamanya. Dan aku ingin kau selamanya di sisiku. Menikahlah denganku,
Hinata!" ucapnya lembut.
Hinata tak mampu lagi membendung air
matanya. Bulir-bulir air mata mengalir deras di pipinya dan membasahi
jaket yang dikenakan Naruto. "Ya. Aku pun ingin selamanya di sisimu,
Naruto-kun."
"Hinata," Naruto menaikkan wajah putih Hinata dan
menekan bibir mungil itu dengan bibirnya. Mula-mula Naruto menciumnya
dengan lembut, namun makin lama jadi makin dalam. Tangan Naruto pun
mulai membuka resleting jaket ungu Hinata dan menemukan dada Hinata di
dalamnya kemudian meremasnya.
"Na-Naruto-kun~?" Hinata mulai mendesah.
Naruto meremas dada besar Hinata seakan dada itu adalah spons yang lembut. "Hmm…dadamu semakin besar, Hinata!"
"Kalau kau terus meremasnya seperti itu, tentu saja akan semakin besar
kan, Naruto-kuunn~~," ucapnya makin manja karena terbuai pijatan Naruto
pada dadanya.
"Semakin menggodaku," Naruto mulai menjilat puting kanan Hinata dan kemudian menggigitnya.
"Aaaahhh~~!"
Naruto memasukan dada besar itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Di
dalam mulutnya, lidah Naruto tetap mempermainkan puting Hinata hingga
gadis itu mendesah tak karuan. Sementara itu, tangan kanannya tak
membiarkan dada kiri gadis itu tak tersentuh. Tangan Naruto juga
mempermainkan dada kiri Hinata. Dia menekan putingnya. Memutarinya. Dan
juga menariknya hingga puting Hinata memerah dan mengeras.
Setelah puas bermain dengan dada kanannya, mulut Naruto berpindah ke
dada kiri Hinata dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pada
dada kanannya. "Uhmm~ dadamu benar-benar nikmat, Hinata!"
"Aaaaahhh~~ Naruto-kuuunnn~~~," desah Hinata yang membuat Naruto makin ingin mempermainkannya.
Naruto merebahkan kekasihnya itu ke ranjangnya dan membuka celananya,
termasuk celana dalamnya. "Wow! Vaginamu telah basah, Hinata! Kau
benar-benar nakal!" ucapnya sambil menjilati vagina Hinata.
"Ooohhh~~ Jangan, Naruto-kuuunn~~!" Hinata makin terbuai dengan ciuman
Naruto di vaginanya hingga melupakan sama sekali tentang keberadaan
janin di rahimnya.
"Sekarang giliranmu memuaskanku, Hinata!"
"Eh?" Hinata masih belum mengerti sepenuhnya.
"Buat aku mendesah seperti desahanmu, Hinata!" Naruto meletakkan tangan Hinata di atas 'miliknya'.
Hinata pun memijat 'milik' Naruto dengan lembut. Namun kemudian mulai
tertarik untuk melakukan seperti yang dilakukan Naruto pada vaginanya.
Hinata menciumnya. Kemudian memasukannya ke dalam mulutnya dan
memperlakukannya seperti lolipop. Hinata memajumundurkan 'milik' Naruto
dalam mulutnya hingga Naruto mendesah bukan main.
"Bagus! Terus seperti itu Hinata!"
"Ah!" pekik Hinata karena Naruto mengeluarkan spermanya di dalam mulut gadis itu.
"Maaf, Hinata!" Naruto menarik kembali 'miliknya'. Namun pada detik
berikutnya dia sudah memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Hinata.
"Aaaahhhh~~~!" Hinata berteriak keras karena 'Naruto' menggesek dinding
vaginanya dengan keras. Naruto terus memasukan 'miliknya' jauh ke dalam
Hinata. Dan kemudian 'dia' berejakulasi di dalamnya.
"Ah!
Tidak, Naruto-kun! Jangan!" pekik Hinata. Meskipun mulutnya menolak,
namun tubuhnya hanya mengatakan kejujuran, yaitu kenikmatan.
"Kita akan menikah. Aku ingin kau segera mengandung anakku, Hinata!"
Hinata mulai ingat bahwa di dalam rahimnya telah tumbuh benih yang
ditanam Naruto sejak 3 bulan lalu. "Tidaaakk! Jangan, Naruto-kun!"
tolaknya karena tak ingin menyakiti sang janin.
"Kau tak mau, Hinata?" ucap Naruto yang merayu Hinata.
"Bukan! Bukan begitu!" sangkal Hinata.
"Kalau begitu kau menginginkannya!" Naruto lagi-lagi berejakulasi di dalam Hinata.
"Aaaaaaaahhhhh~~!"
Kemudian dia mencium bibir Hinata. "Kau tak perlu khawatir. Aku
benar-benar akan menikahimu, Hinata!" ucapnya sambil meremas kembali
dada Hinata. Naruto membuat 'miliknya' seperti pegas di dalam vagina
Hinata hingga Hinata mendesah bukan main karena permainannya. Setelah
beberapa saat, Naruto mengeluarkan'nya'.
Hinata hanya bisa
beberapa detik saja bernapas lega ketika 'Naruto' terpisah darinya
karena Naruto membuat Hinata berhadapan dengan ranjang sedangkan Naruto
di belakangnya dan kemudian kembali memasukan 'miliknya' ke dalam vagina
Hinata sambil terus mencium punggung Hinata dan meremas dada besarnya.
Entah sudah berapa kali Naruto melepaskan spermanya di dalam Hinata.
"Hah! Hah! Hah!" Hinata ngos-ngosan setelah bermain begitu rupa dengan Naruto atau lebih tepatnya Naruto yang mempermainkannya.
Naruto mencium bibir gadis berambut violet rata itu. "Mungkin sekarang
di sini sedang tumbuh benihku," ucapnya sambil mengelus perut Hinata
yang masih terlihat datar sekalipun dia sedang mengandung 3 bulan.
"Bukan 'mungkin', Naruto-kun," bantah Hinata. Dia meletakkan tangannya
di atas tangan Naruto yang memegang perutnya. "Aku memang sudah
mengandung anakmu, Naruto-kun!" wajahnya mulai memerah.
"Eh?" Mata biru Naruto terbelalak.
"Aku baru saja memeriksakannya pada Sakura-san. Dan ternyata aku sedang
hamil 3 bulan, Naruto-kun. Anakmu! Aku mengandung anakmu," kata Hinata
dengan genangan air mata di matanya.
"EEEEEHHHHH?" Naruto kaget bukan kepalang.
Chapter 2 : The One Who Can Protect
Sudah sekitar 3 bulan sejak Naruto mulai berpacaran dengan Hinata.
Sejak peristiwa itu, Naruto sering mengajak Hinata ke apartemennya dan
mereka selalu bercinta di sana.
"Uhmmmm~~ aaahhh~~
Naru-to-kuuu~nn!" desah Hinata bukan main saat Naruto bermain dengan
vaginanya. Naruto membuat 'milik'nya seperti pegas yang naik turun dalam
vagina gadis berambut violet itu.
"Apa kau menikmatinya, Hinata?" tanya Naruto yang ada di bawah Hinata.
Mata birunya terus melihat dada yang besar milik Hinata naik turun
seirama dengan permainannya, membuat tangan Naruto tergoda untuk
meremasnya dan merasakan segala kelembutannya.
"Ooohhh~~!"
keringat Hinata mengalir deras dari seluruh tubuhnya. Tubuhnya
mengisyaratkan keinginannya terhadap pemuda berambut pirang itu.
Naruto yang menyadari keinginan kekasihnya menyentuh lembut rambut
violet Hinata dan mendekatkan wajah gadis itu dengan wajahnya, kemudian
menciumnya di bibir. "Aku mencintaimu, Hinata!"
Naruto mengubah
posisi mereka. Tadi dia dan Hinata saling berhadapan dengan Hinata yang
menindih tubuh kekar Naruto, sekarang Naruto-lah yang menindih tubuh
mungil Hinata, dengan tetap menyatukan tubuh mereka berdua. Naruto
mencium lehernya, juga dadanya. Dia tak tahan untuk mempermainkan dada
Hinata yang besar dan indah itu. Desahan Hinata makin menjadi ketika
Naruto mempermainkan putingnya dengan giginya dan membuat putingnya
memerah.
"Naruto-kuuunn~ aku tak tahan~~," ronta Hinata sambil mencengkeram selimut putih di ranjang Naruto itu.
"Baiklah," Naruto pun menarik 'milik'nya keluar dari vagina Hinata.
"Ah!" Hinata merasa sedikit lega sekaligus kehilangan kenikmatan yang sejak tadi menjalari tubuhnya.
Naruto mengecup lembut pipi Hinata yang putih. "Apa kau sudah lelah, sayang?"
"Na-Naruto-kun?" wajah Hinata masih memerah ketika Naruto menciumnya.
"Aku masih punya cukup stamina untuk melakukannya lagi, Hinata!" pinta Naruto sambil mencium mata Hinata.
"Ta-tapi…ini sudah yang ketiga kalinya, kan?" Hinata terlihat ragu
untuk memulainya lagi. "Bagaimana kalau kau kehabisan tenaga,
Naruto-kun? Bagaimana kalau besok tiba-tiba ada misi dari Hokage-sama?"
Naruto mencium dahi Hinata. "Kau mengkhawatirkan yang tak perlu,
sayang. Hari ini aku baru saja menyelesaikan misi dan kita sudah
seminggu tidak bertemu. Aku merindukanmu, Hinata. Aku hanya ingin
bersamamu." Bibir Naruto beralih ke telinga Hinata. "Lagipula, kau
sendiri tahu kan kalau staminaku ini tidak ada habisnya?" rayu Naruto.
Hinata membalas ciuman Naruto di pipinya. "Akulah yang paling tahu hal
itu, sayangku! Dan tentu saja aku tak akan menyerah. Aku akan melayanimu
hingga kau puas, sayang!"
Naruto tersenyum dan mulai beraksi kembali.
==/==
"Hanya dia yang pantas!" ucap seorang wanita berambut kuning pucat panjang yang dikuncir dua.
"Apa kau gila? Dia masih genin?" bantah seorang wanita tua.
"Tapi, kurasa dia mampu mengalahkan para jounin! Tak ada jounin yang
bisa menyamai kemampuannya!" wanita berdada besar itu menantang dengan
sok dua orang tua di hadapannya.
"Kami tetap tak mengijinkan!" si kakek pun ikut ambil bicara.
"Aku percaya padanya yang telah menyelamatkan Konoha! Dia pernah
melindungi Konoha dan akan selalu melindungi Konoha!" Wanita cantik itu
tersenyum penuh kepercayaan.
Dua orang tua pun saling beradu
pandang. Sepertinya perkataan Godaime Hokage ini telah merasuki
pikirannya dan sepertinya mampu mengubah pendirian mereka.
"Kurasa akan ada sejarah baru di Konoha dimana seorang genin menjadi Hokage," ucap sang nenek sambil sedikit tersenyum.
"Ya," balas sang kakek.
Tsunade pun tersenyum lega.
==/==
Sinar matahari sudah lama memasuki jendela kamar Naruto dan embun pagi
pun telah menguap dengan panasnya cahaya matahari. Dengan kepala yang
masih agak berat, Hinata membuka matanya. Dia berada di atas ranjang
Naruto, hanya dengan berbalutkan sehelai selimut berwarna putih. Tapi,
Naruto sudah tak ada di sampingnya.
"Naruto-kun?" gumamnya
pelan. Matanya berusaha mencari dimana kekasihnya berada. Hinata pun
mendapati Naruto yang sedang buru-buru memakai baju oranye kesayangannya
di dekat lemari pakaian.
"Kau sudah bangun, Hinata?" tanya
Naruto yang melihat Hinata yang masih terlihat linglung di atas
ranjangnya. Memang semalaman Naruto sudah menghabiskan energi kekasihnya
itu.
"Ohayou, Naruto-kun. Apa ada misi lagi?"
Naruto menghampiri Hinata dan memberikannya ciuman selamat pagi. "Nenek Tsunade memanggilku."
"Ooh~," Hinata mengusap-usap matanya.
"Aku berangkat!" Naruto memberikan Hinata sebuah ciuman lagi di bibirnya.
"Hati-hati," ucap Hinata lembut.
Hinata masih merasa jiwanya belum terkumpul semua. Semalam Naruto
membuatnya mengalami keletihan hebat. Tiba-tiba, dia merasakan keanehan
di tubuhnya. Seakan ada sesuatu yang membuat pergerakan percernaannya
jadi lebih cepat dan mengocok lambungnya. Dia merasakan mual dan hampir
muntah. Hinata segera berlari ke wastafel yang ada di kamar mandi dan
muntah di sana.
"Hoeeekkk! Hoeeeekkkk!" Hinata terus
memuntahkan isi perutnya hingga dia merasa agak enakan. Dia melihat
bayangan dirinya di cermin sambil membersihkan bekas muntahannya di
sekitar bibirnya.
"Sudah satu minggu ini aku selalu begini.
Padahal aku merasa baik-baik saja," gumam Hinata. Dia pun memutuskan
untuk memeriksakan kesehatannya.
==/==
"EEEHH? Aku tidak salah dengar, kan?" pekik Naruto tak percaya di ruangan Hokage.
"Apa kau tuli, Naruto?" sindir Tsunade.
"Bi-bisa kau katakan lagi?" tangan Naruto terlihat bergetar karena gugup.
"Ehem! Kau akan menjadi Hokage, Naruto! Hokage ke tujuh!" ucap Tsunade dengan senyum bangga.
"EEEHHH?"
Tsunade sudah mengira kalau Naruto akan bertingkah demikian. Dia hanya
tersenyum melihat ekspresi kaget pemuda berumur 16 tahun itu.
"Tidak mungkin, kan? Aku tidak bermimpi, kan?" kata Naruto tak beraturan.
"Kau adalah orang pertama dalam tingkat genin yang menjadi Hokage, Naruto!"
"YEAAAAAHHHH!" Naruto berteriak kegirangan karena impiannya selama ini
bisa terkabul. Dia mengangkat tangannya tanda kegembiraan yang
meluap-luap. "Terima kasih, Nek!" teriaknya keras sambil berlari
meninggalkan ruangan.
"Dasar! Dia masih tetap seperti itu! Dia
bahkan belum diberitahu tentang penobatannya," gumam Shizune kesal namun
masih tersungging senyum di ujung bibirnya.
"Ya! Hanya dia yang mampu membawa senyuman di Konoha!" ucap Tsunade yang memandangi kepergian Naruto.
==/==
Naruto terus berlari menyusuri jalanan desa Konoha sambil berteriak dan tertawa.
"HAHAHAHA! Aku akan menjadi Hokage!" sebarnya pada penduduk desa
Konoha. Naruto berkali-kali mengucapkannya. Kebanyakan dari mereka
mengira hal itu hanyalah kegilaan Naruto semata.
"Naruto! Jangan teriak-teriak di siang bolong begini!" marah pemilik kedai Ramen Ichiraku.
"Hhh, berisik!" gumam Shikamaru yang tengah berjalan santai menuju tempat Yakiniku bersama Chouji dan Ino.
"Dia benar-benar gila!" ujar Ino.
"Apa yang dikatakannya itu benar?" tampaknya Chouji mulai percaya terhadap teriakan Naruto.
"…" Shino hanya melihat Naruto yang berlari kegirangan seperti udara yang lewat tanpa berkomentar apapun.
"EEEHHH? Benarkah itu, Naruto?" pekik Kiba tak percaya ketika Naruto
lewat di depannya. Naruto hanya meng-iya-kan sambil berlalu.
"GUK!"
"Kau hebat, Narutoooo!" kata Lee dengan penuh bara api dan memamerkan ibu jarinya.
"Aku akan menantang Naruto-niichan dan akan menjadi Hokage yang ke delapan!" ucap Konohamaru ketika Naruto bertemu dengannya.
"Baiklah! Nanti coba saja, Konohamaru!" Naruto pun memberikan senyuman
penuh kegembiraan pada Konohamaru. Dia masih terus berlari. Hingga ke
dekat tebing yang mengukir wajah para Hokage sebelumnya. Naruto berhenti
di sana.
Dia menunjuk tebing itu dengan telunjuknya. "Wajahku akan segera diukir di sana!" tawanya puas.
Kemudian mata birunya beralih ke ukiran Hokage yang termuda, Yondaime
Hokage. "Aku berhasil, Tou-chan!" ucapnya pada ukiran ayahnya.
"Aku berhasil menjadi Hokage sepertimu. Dan aku akan menjadi ninja yang lebih hebat dari Tou-chan dan Kaa-chan!" katanya pasti.
==/==
Sementara itu, di rumah sakit Konoha, Hinata memeriksakan kesehatannya pada Sakura.
"Hi-Hinata…ini tidak…mungkin, kan?" ucap Sakura tak percaya.
"Eh?" Hinata masih tak mengerti arti dari ekspresi Sakura yang melihat hasil pemeriksaannya.
Chapter 1 : The One I Loved
Sore itu, Hinata sedang berdiri seorang diri. Dia menyandarkan tubuhnya
pada sebuah pohon besar untuk menunggu kedatangan seseorang. Matanya
melihat sekelilingnya dan merasa rindu pada tempat ini. Di tempat inilah
dulu dia sering berlatih sendirian. Berada di tempat ini membawa
kembali ingatannya saat masih kecil. Juga ingatannya pada Naruto yang
membuat wajahnya merah padam seketika.
"Hinata!" panggil seseorang dari kejauhan.
"Na-Naruto-kun," gumamnya pelan ketika melihat sosok Naruto yang
mendekatinya sambil melambaikan tangan. Wajahnya jadi lebih merah
daripada yang tadi.
"Maaf telat!" ucap Naruto ketika dia telah
sampai di tempat Hinata. Meskipun keringat mengalir dari pelipisnya
namun napasnya tidak tampak terengah-engah.
"Ng-nggak apa-apa kok!" jawab Hinata pelan.
"Uhmm…itu…" Naruto berbicara terbata-bata sambil menggaruk-garuk rambut
pirangnya. Dia terlihat agak grogi. Bagi orang sepercaya diri Naruto,
grogi terlihat sangat aneh baginya.
"Eh? Eh?" Melihat Naruto
yang grogi seperti itu, membuat wajah Hinata makin merah. Sebenarnya apa
yang akan dikatakan Naruto hingga sengaja memanggilnya kemari.
"Uhmm, itu….sewaktu Pain menyerang Konoha…." Naruto mulai bicara.
GLEK! Wajah Hinata makin memerah. Dia kembali teringat kenekatannya
saat itu. Dia nekat berhadapan dengan Pain. Dan juga menyatakan
perasaannya pada Naruto. Keringat ketegangan mulai mengalir di
pelipisnya dan kedua telunjuknya tak berhenti bergerak.
"Kau
nekat banget, tahu!" bentak pemuda berambut pirang itu. "Apa kau itu
bodoh? Bisa-bisanya kau menerjang menyerang Pain padahal kau tahu kau
tak akan menang?"
"Ma-maaf…" gadis berambut ungu itu menundukkan wajahnya hingga Naruto hanya bisa melihat wajahnya tertutup oleh poni ratanya.
Melihat Hinata yang merasa sangat bersalah seperti itu, Naruto jadi
merasa serba salah. "Hhh!" desahnya. "Kuharap lain kali kau tak senekat
itu, Hinata!"
Hinata mengangkat wajahnya untuk menatap birunya
mata pemuda itu. "Naruto-kun?" Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia
berharap Naruto memarahinya karena mengkhawatirkannya. Boleh kan kalau
sedikit berharap?
"Tapi aku menghargai keberanianmu!" lanjut
Naruto. Kali ini wajahnya bersemu merah. "Kau berani menantang Pain yang
jelas-jelas lebih kuat darimu. Dan juga… aku senang kau… ehmm… ehmm…
aku senang sewaktu kau bilang kau suka aku…."
"Eh? Eh?" Hinata ragu dengan apa yang diucapkan Naruto. Apakah pemuda berambut jabrik itu serius dengan perkataannya?
"Aku juga suka kamu, Hinata!" ucap Naruto dengan lantang di depan wajah imut itu.
"Haa~h?" Hinata merasa darahnya seakan hilang dari pembuluh darah
otaknya karena tak percaya dengan ucapan Naruto. Dan seketika itu pula
seluruh tenaganya hilang bahkan kakinya tak mampu menopang tubuh
langsingnya.
BRUK! Hinata terjatuh dengan punggung menabrak
pohon. "Na-Naruto-kun~? Ti-tidak mungkin, kan~?" ucapnya terbata-bata.
Kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya yang sangat merah karena
malu.
Naruto berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan
Hinata yang terduduk di tanah. "Kau tak apa-apa, Hinata?" tanyanya
khawatir. Meskipun Naruto sering melihat Hinata yang pingsan ketika
melihat tampangnya, tapi dia tetap mengkhawatirkan keadaan gadis
berambut lavender itu.
"Bukankah selama ini kau menyukai
Sakura-san?" tanya Hinata. Matanya mengintip dari balik sela jarinya
untuk menatap mata biru pria yang dicintainya itu.
Naruto
tertawa lebar sampai memamerkan deretan giginya. "Memang! Aku suka
Sakura-chan. Di mataku dia sangat cantik dan aku ingin berkencan
dengannya!" ucap Naruto tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang keras dan
tajam menghantam ulu hati Hinata.
"Tapi hanya itu! Aku sama
sekali tak merasakan ada yang khusus. Aku hanya kagum padanya!" tambah
Naruto yang memberikan angin segar pada hati Hinata.
Tangan
Naruto menyentuh jemari lentik Hinata yang menutupi wajah cantiknya.
Tangan kekar itu menyingkirkan tangan Hinata dari wajahnya dan
membiarkan mata biru Naruto melihat wajah Hinata yang benar-benar merah.
"Saat Pain menyerangmu dan membuatmu pingsan hingga hampir mati, aku
benar-benar marah. Aku juga takut. Takut kehilanganmu. Aku tak ingin kau
mati, Hinata," mata biru Naruto terlihat sendu.
"Na-Naruto-kun…."
"Sejak awal, aku bukanlah seorang anak yang patut dicintai. Semua hanya
memandang penuh ketakutan padaku. Mungkin kau memandangku terlalu
tinggi. Tapi, baru kali ini ada orang yang menyatakan cintanya. Hehehe!"
Naruto pun tersipu malu.
"Bukan! Kenapa kau berpikir begitu?
Sejak dulu aku selalu melihatmu, Naruto-kun. Aku tahu semua usaha
kerasmu! Kamu selalu berusaha agar semua mata melihat padamu. Aku selalu
memperhatikanmu, Naruto-kun," Hinata jadi ngotot.
"Aku tahu,"
ucap Naruto lembut. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Hinata
dan menciumnya. Naruto memberikan ciuman pertama pada Hinata yang
membuat wajah gadis berambut panjang itu merah tak tertahankan lagi.
"Na-Naruto-kun…." Rasanya Hinata bisa saja pingsan sekarang karena
sangat bahagia. Degupan jantungnya jadi tak menentu dan seluruh tubuhnya
kaku. Dia sama sekali tak menyangkan Naruto yang selama ini dicintainya
dan hanya bisa dilihatnya dari jauh ternyata berada sedekat ini bahkan
menciumnya.
"Aku tahu kau selalu melihatku, Hinata. Hanya kau yang tak menghindariku di saat semuanya menjauh."
Naruto memberikan kecupannya yang kedua pada bibir Hinata. Hinata
memejamkan matanya untuk menikmati rasa bibir Naruto yang menekan lembut
bibirnya. Naruto menciumnya lagi. Lagi. Dan lagi. Dia ketagihan dengan
rasa manis bibir Hinata. Naruto terus mencium Hinata seolah bernapas
dari mulut gadis manis itu. Dia meletakkan kedua telapak tangannya pada
pipi Hinata yang putih, sedangkan Hinata melingkarkan kedua tangannya
pada tubuh kekar Naruto dan makin merapatkan tubuhnya dengan tubuh
pemuda jabrik itu.
GYUUTT~! Naruto merasakan ada sesuatu yang
sangat lembut menyentuh dada bidangnya. Dan ternyata adalah dada Hinata
yang cukup besar untuk ukuran seorang perempuan. Wajah Naruto pun
memerah tak kalah dari wajah Hinata. Di pikirannya sedang berperang
antara akal sehat dan nafsunya.
"Naruto-kun, aku ingin
mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu, Naruto-kun. Sangat
mencintaimu," ucap Hinata dengan wajah merona merah. Hal ini membuat
peperangan di otak Naruto dimenangkan oleh nafsunya.
Naruto
menekan keras bibir Hinata dan mulai bermain dengan lidahnya. "Ini
salahmu, Hinata! Kau sangat manis, tahu! Dan akan kukatakan
berkali-kali, aku mencintaimu!" ucap Naruto sambil terus berciuman
dengan Hinata. Kali ini bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang
panas dan dalam hingga lidah dan gigi mereka saling menyatu. Bahkan air
liur mereka pun saling bertukar. Ciuman yang bahkan bisa mengunci
seluruh perkataan yang akan keluar dari bibir gadis berambut laverder
itu.
"Aku mencintaimu, Hinata," ucap Naruto lagi di sela-sela
ciuman panasnya. Hinata mulai merasakan panasnya ciuman dan tubuh Naruto
hingga keluar sedikit keringat dari pelipisnya.
Tangan Naruto
menjalar ke leher Hinata dan melepaskan tanda ninjanya yang dipasang
gadis itu di lehernya. "Aku mencintaimu, Hinata," kata Naruto ketika dia
memindahkan bibirnya ke leher Hinata. Dia mencium tiap lekukan dari
leher yang putih itu dan memberinya kissmark berwarna merah.
"Naru-aaahh~~!" Hinata mulai mendesah ketika Naruto mencium tiap inchi dari kulit lehernya dan membasahinya dengan air liurnya.
Selama bibirnya sedang asyik dengan leher yang indah itu, tangan Naruto
menarik resleting jaket yang dikenakan Hinata dan membuka jaket yang
menutupi tubuh indahnya. Naruto memang membukanya, tapi tidak
seluruhnya. Dia hanya bisa melihat dada yang memenuhi bra yang sewarna
dengan warna rambutnya dan perutnya yang rata. Bibir Naruto mulai
tertarik dengan benda lembut itu.
"Aku mencintaimu, Hinata,"
ucapnya lagi ketika memindahkan bibirnya ke dada Hinata. Naruto juga
memberikan banyak kissmark di dada gadis itu. Tak hanya menciumnya, tapi
Naruto juga menjilatinya hingga dada lembut itu basah oleh air liurnya.
Bahkan Naruto pun melepaskan pengait bra Hinata dengan gigi-giginya.
Beruntung pengait itu ada di depan, jadi gigi Naruto mudah melakukannya.
"Na-Naruto-kun~!" Hinata sangat malu ketika Naruto melihat dada
telanjangnya. Dia berusaha menutupi dadanya dengan tangannya tapi
ternyata mulut Naruto lebih cepat menggapainya. Naruto memasukkan dada
Hinata ke dalam mulutnya dan mempermainkannya. Naruto meremasnya dengan
bibirnya. Dia juga memainkan puting Hinata dengan lidah dan giginya.
Perilaku Naruto sekarang seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
"Naruto-ku~nn~ aaaahhhh~~ oooohhh~~!" desahan Hinata makin hebat karena
Naruto tak hanya memanjakan dada kirinya dengan mulutnya, tapi juga
bermain dengan dada kanannya menggunakan tangannya. Jemari Naruto tak
hanya memijat dada Hinata tapi juga mempermainkan putingnya.
"Putingmu sudah mengeras, Hinata," Naruto menyentil puting Hinata yang
sudah memerah dan mengeras sebagai tanda dirinya pun menikmati permainan
Naruto pada tubuhnya. "Aku akan memulai yang selanjutnya!"
Naruto membuka resleting jaketnya karena tubuhnya sudah dipenuhi
keringat. Kemudian membuka kedua kaki Hinata hingga kaki Hinata
melingkari pinggulnya. Naruto pun mulai melepas celana yang dikenakan
Hinata dan juga menanggalkan celana dalam manis yang menutupi daerah
kewanitaannya. Dia pun tertarik pada vagina yang belum tersentuh
siapapun itu. Dan yang tak disangka-sangka, vagina Hinata telah basah
karena rangsangan dari Naruto. Naruto pun menciumnya.
"Aaaaaahhhhh~~~!" Hinata mendesah hebat. Setitik air mata mulai terlihat
di ujung matanya. Rasa geli yang bercampur nikmat. Naruto terus
menciumi vagina itu hingga vagina Hinata makin basah oleh cairannya.
"Naruto-kun, aku sudah tak tahan lagi! Cepatlah, Naruto-kun!" pinta
Hinata dengan desahan dalamnya. Dia sudah mencapai klimaksnya.
"Apa kau yakin, Hinata?" tanya Naruto. Dia memindahkan bibirnya pada
bibir Hinata agar gadis itu bisa merasakan bagaimana rasa cairannya
sendiri.
"Kumohon, Naruto-kun!" pintanya manja.
"Tapi, aku tak punya pengaman? Bagaimana kalau kau–"
Hinata yang sedang mencapai klimaksnya melingkarkan kedua tangannya di
leher Naruto yang berbisik di telinganya, "Aku mencintaimu, Naruto-kun."
Mendengar rayuan Hinata, hilanglah sudah seluruh akal sehat Naruto.
Yang ada dipikirannya hanyalah memiliki Hinata seutuhnya. Dia melepaskan
celana dan boxernya hingga Hinata bisa melihat 'milik' Naruto yang juga
terlihat tak mampu menahannya lagi. "Aku mencintaimu, Hinata," ucap
Naruto sambil mengecup bibir Hinata. Dan pada detik berikutnya, 'milik'
Naruto sudah menggesek dinding vagina Hinata dan merobek selaputnya
hingga 'milik' Naruto berlumuran darah.
"AAAAAHHHHHH~~~!"
Hinata mendesah bukan main karena merasakan kesakitan saat selaputnya
robek oleh 'Naruto'. Dia pun tak mampu menahan air mata yang terus jatuh
di pipi putihnya. Keperawanannya telah diambil oleh satu-satunya orang
yang dicintainya. Dan itulah yang membuatnya berada di kebahagiaannya
yang tertinggi.
"Apa aku harus menghentikannya, Hinata?" Naruto tak tahan melihat wajah Hinata yang kesakitan.
"Jangan! Teruskanlah, Naruto-kun! Aku menginginkanmu!"
Naruto pun menuruti permintaan kekasihnya itu. Dia meneruskannya.
Naruto memasukkan miliknya ke vagina Hinata lebih dalam lagi dan
menyebarkan jutaan spermanya di dalamnya untuk bertemu dengan sebuah
ovum milik Hinata yang telah menunggu di saluran ovarium-nya.
"Aku tak percaya aku ada di dalammu sekarang," ucap Naruto sambil
mencium dahi Hinata. Hidungnya bisa mencium aroma shampo yang dipakai
gadis itu.
"Aku mencintaimu, Naruto-kun. Aku sangat bahagia sekarang," kata Hinata yang menyandarkan kepalanya di dada Naruto yang bidang.
"Aku juga sangat mencintaimu, Hinata."
Mimpi Basah Naruto
Siang hari yang begitu panas, tampaklah seorang pemuda sedang berlatih
sndirian di sebuah lapangan. Lapangan itu merupakan tempat latihan
teamnya dulu.
"Ahhh, capek sekali hari ini. Sasuke seandainya
kamu ada di sini, kita bisa berlatih bareng. Sakura juga sibuk dengan
jabatan susternya sekarang. Aku jadi sendirian" gumam Naruto yang sedang
duduk dibawah pohon rindang.
Naruto
melepaskan kaos hitam yang basah. Angin sepoi-sepoi terasa sangat
menyejukkan tubuh Naruto yang kekar. Dia kemudian berbaring dan
memandangi birunya langit. 'Sungguh enak beristirahat di bawah pohon
rindang ini' pikir Naruto.
Naruto tidak menyadari, ada
seseorang yang mengamati dia sejak awal latihan sampai dia beristirahat
di bawah pohon rindang itu. Gadis yang berambut panjang berwarna biru
tua dan bermata lavender.
Saking keenakan akan hembusan angin
sepoi-sepoi, membuat Naruto tertidur. Lima menit dalam tidurnya, Naruto
mulai masuk ke alam mimpinya. Gadis itu mengamati Naruto yang tak
bergerak. 'Naruto-kun sedang apa ya? Kok dia tidak berkutik. Apa
jangan-jangan dia pingsan?' gadis itu khawatir terhadap Naruto.
Dengan inisiatif sendiri gadis itu mendekati Naruto. Dia mulai melihat
Naruto yang bertelanjang dada. 'Naruto-kun, dada kamu sangat bidang.
Otot-otot kekarmu terpampang diseluruh dadamu' pikir gadis itu. Entah
setan apa yang merasuki gadis itu. Gadis itu mulai berbaring di samping
Naruto.
Tiba-tiba Naruto mulai memeluknya dengan sangat erat.
Kepanikan mulai tampak pada gadis itu 'ohh tidak, Naruto-kun memeluk
aku. Gimana nih, aku jadi nggak bisa bergerak. Kalau aku bergerak
sedikit pasti Naruto-kun akan bangun. Mesti gimana nih?' gadis itu mulai
berpikir tapi akhirnya pasrah dengan keadaan seperti itu.
10
menit tidak menggerakkan posisinya, napas Naruto yang terengah-engah
didengar gadis itu. 'Naruto-kun sesak napas apa ya?' pikir gadis itu.
Tanpa disadari tangan Naruto memegang buah dada sebelah kiri dari gadis
itu yang masih tertutup jacket abu-abunya dengan tangan kanan Naruto.
Gadis itu terkesiap, 'huh apa ini, Naruto-kun jangan' gumam gadis itu dengan mengerjap-ngerjapkan matanya.
Naruto bergumam dalam tidurnya "Hinata-chan jangan pergi, aku tidak merasa terganggu kok".
Gadis itu kaget 'apa? Apa yang tadi Naruto-kun katakan? Aku tidak
percaya. Apa dia pura-pura tertidur? Tapi kalau melihat dia. Dia memang
dalam keadaan tertidur. Oh KAMI tolong jangan sampai terjadi sesuatu
disini'.
'Naruto-kun pasti sedang bermimpi tentang aku' pikir
gadisku dengan mencoba mengangkat tangan Naruto yang berada di atas buah
dadanya sebelah kiri.
Tapi tangan Naruto tidak dapat
dipindahkan oleh gadis itu. Malah cengkraman Naruto di dada gadis itu
semakin keras. Keadaan ini membuat gadis itu terbuai dalam nafsunya.
Gadis itu mulai terengah-engah. 'Heh-heh-heh, oh gawat aku merasakan ada
sesuatu yang ingin keluar. Oh, tidak jangan sekarang' pikir gadis itu
dan"Ughhh, mmhhm esshh" gadis itu mulai melenguh keenakan. Ternyata
gadis itu telah mencapai puncak klimaks.
Memang aneh untuk
gadis itu. Baru pertama kalinya dia merasakan sensasi yang luar biasa.
Dia merasakan ada cairan yang keluar di alat kelaminnya. 'Perasaan apa
ini? Apa sih yang sebenarnya dimimpikan Naruto-kun' pikir gadis itu
dengan tampang muka yang puas dan bermerah-merah ria di raut wajahnya.
Apa yang dimimpikan Naruto? Mari kita saksikan mimpinya Naruto.
Awal mimpi Naruto, Naruto sedang berjalan untuk makan ramen. Sampailah
dia ke Ichiraku ramen dan memesan seperti biasa makanannya. Teuchi
langsung memberikan makanan yang telah dipesan Naruto.
Selesai
makan ramen, dia langsung menuju ke kamar apartemennya. "Enak sekali
nih, abis latihan, makan ramen. Abis makan ramen, aku pulang and mandi
air panas dan langsung tidur siang" gumam Naruto.
Selesai mandi, Naruto mendengar ketukan di pintu apartemennya. "sebentar aku bukain" jawab Naruto.
Naruto yang masih mengenakan handuk yang menutupi dari perut sampai
dengkul membukakan pintu. "Hei Hinata-chan, ada apa? Silahkan masuk"
Naruto menyapa Hinata dan mempersilahkan masuk.
Hinata
memandang Naruto dengan bersemu merah dan berkata "gomenasai Naruto-kun
jika mengganggu acara kamu mandi". Hinata tahu Naruto telah
menyelesaikan mandinya, karena terlihat butir-butir air yang mengalir di
dada bidang Naruto. Hinata segera mengambil langkah untuk pergi.
"Hinata-chan jangan pergi, aku tidak merasa terganggu kok" Naruto
menahan Hinata dengan tangan yang tadinya memegang handuk dan menariknya
kedalam. Ini membuat Hinata jadi tidak bisa menyeimbangkan diri setelah
tarikan dari Naruto. Akhirnya Hinata jatuh menimpa badan Naruto yang
bertelanjang bulat. Handuk Naruto terlepas setelah tangan yang memegang
handuk tadi melepaskan pegangan handuknya untuk menarik Hinata.
Kedua-duanya saling bertatap mata. Keduanya seperti terasuki nafsu yang
harus dipenuhi. Posisi Hinata yang berada di atas Naruto tidak berubah.
Naruto membelai rambut Hinata dan Hinata tanpa rasa takut mulai mencium
Naruto di bibir.
Ciuman yang penuh nafsu dirasakan oleh
kedua-duanya. Naruto membalas ciuman itu dengan lumatan. Hinata mulai
membuka bibirnya untuk menerima lidah Naruto. Lidah mereka saling
bertautan sekarang. Mereka telah merasakan birahi yang tinggi.
Naruto merasakan dalam posisi seperti ini kurang puas, kemudian dia
membalikkan posisinya. Sekarang Naruto berada di posisi atas tubuh
Hinata yang masih berpakaian lengkap.
Naruto mengikuti instink sex-nya. Naruto melepaskan ciuman tadi dan mulai mencium leher Hinata.
Hinata melenguh "Ouhh, Naruto-kun. Ahhh". Hinata mulai meraba punggung Naruto.
Selagi dia mencium leher Hinata, Naruto mencari resleting jaket Hinata.
Setelah menemukan resleting itu, Naruto mulai menariknya pelan, turun,
dan akhirya terlepas. Naruto menarik lepas jaket Hinata.
Ternyata Hinata tidak menggunakan dalaman apa-apa lagi. Terpampanglah bukit Hinata yang sudah tumbuh.
Ciuman Naruto kini turun ke bukit kembar Hinata. Sekali lagi Hinata mulai melenguh "Ouch hess hemm, emhh eshh".
Naruto terus merangsang Hinata dengan ciuman di kedua buah dadanya.
Tangan Naruto kini mencari kaitan kunci di celana jins Hinata dan
menarik turun resleting Hinata. Akhirnya Naruto melepaskan celana
panjang itu.
Naruto melepaskan ciuman di buah dada Hinata dan kini melihat tubuh Hinata yang telanjang tanpa sehelai benangpun.
Hinata merasa malu setelah melihat tampang Naruto yang terus memandangi
tubuhnya. Naruto masih terus mengikuti instink sex-nya. Naruto mulai
menciumi perut Hinata, terus kebawah sampai ke bagian G-Spot Hinata dan
"Esshhh Naruto jangan berhenti, tteeeerruuussss eeesssshhh".
Tangan kanan Naruto mulai meremas bagian kiri buah dada Hinata,
sedangkan tangan kirinya memegang kedua kaki Hinata untuk terus
mengangkang.
Vagina Hinata mulai bertambah basah dan basah,
seketika terdengarlah suara lenguhan hebat "Ahhh Naruto aaaakkkuuu
kelll- Shhhss Achhhs ssshhh". Hinata menjambak rambut Naruto dan
melepaskan jambakannya lalu lemas.
"Hinata kamu puas?" tanya Naruto.
Hinata hanya mengangguk. Tangan Hinata kini meraih kejantanan Naruto.
Karena tidak sampai. Naruto menarik tubuh Hinata untuk duduk berhadapan.
Naruto kini bersandar ke pintu apartemen yang belum tertutup. Mereka
tidak memperdulikan pintu itu dari tadi. Mereka telah diliputi hawa
nafsu yang besar. Hinata sekarang bisa menyentuh Kejantanan Naruto yang
berdiri tegak. "Besar ya Naruto-kun" Ekspresi muka Hinata kaget.
Hinata menggenggam batang itu dengan kedua tangannya dan mulai
menggerakkan naik turun. "Ahhh Hinnnaaattta-cchhhannn" Naruto merasa
keenakan dan darah sekarang mulai berkumpul di kejantanan Naruto.
Hinata kemudian mencoba untuk menjilat batang itu "Emmhhh
Hinnnaatttaaa". Hinata lalu mengulumnya dengan ragu-ragu. Naruto
sekarang merasa tambah enak, kedua tangannya membelai rambut Hinata dan
menekan kepala Hinata untuk terus mengulum batangnya itu.
Tidak
lama kemudian Hinata melepaskan tekanan tangan Naruto. Narto merasa
kecewa, karena dia belum meraakan climax. Sekarang mata Hinata menatap
mata Naruto. Mereka berciuman penuh nafsu kembali. Saling melumat lidah
dan bibir.
Naruto melepaskan ciumannya dan merebahkan Hinata
kembali. Dengan kedua tangannya, Naruto melebarkan kaki Hinata.
Memposisikan penisnya di selangkangan Hinata.
"Hinata kamu sudah siap?" tanya Naruto untuk memastikan.
Hinata dengan perasaan takut dan malu menganggukkan kepalanya.
Naruto mulai mendekati kepala penisnya ke arah lubang vagina Hinata
yang masih sempit berwarna merah itu. Ketika hendak menekankan penisnya
ke vagina Hinata, terlihat oleh Naruto ada wajah yang memberikan tampang
killer intent ke Naruto.
"Naruto kamu ngapain disini bersama Hinata?" Suara itu keras dan menggelegar.
"Ehh Sakura-chan sa-sa-" Ucapan Naruto terhenti oleh pukulan Sakura.
"Sakura-chan ampyunn" Naruto teriak dalam mimpinya.
"Naruto-kun ada apa?" Hinata mulai membangunkan Naruto.
Naruto bangun dengan kaget dan duduk. Badannya tertutupi oleh air keringat yang terus keluar.
"Huh-huh-huh, apa cuman mimpi untung saja" Naruto memandang kelapangan yang hijau dan panas.
"Kamu sedang mimpi apa- Naruto-kun?" tanya Hinata yang sekarang jaketnya sudah terbuka.
"Eh Hinata-chan,sejak kapan kamu ada disini?" Naruto tidak menjawab pertanyaan Hinata.
Hinata terus menjelaskan, kenapa dia ada disitu. Dengan muka yang
memerah dia bilang "Naruto, itu kamu besar ya, dan celana kamu basah
tuh" Hinata menunjuk ke arah selangkangan Naruto yang menonjol dan
basah.
Naruto segera menutupinya dengan baju hitamnya. "Hinata-chan jangan cerita ke siapa-siapa ya. Jadikan ini rahasia kita berdua".
Naruto sekarang juga memandang ke Hinata, terutama celana jinsnya
Hinata. "Hinata kamu climax juga ya, tehehehe" pandangan Naruto tidak
berubah dari celana jinsnya Hinata.
"Hmm Naruto-kun dah jangan melihati terus. Aku malu" Hinata menutupi bagian yang basah dengan kedua tangannya.
Tau-tau Naruto mendekati muka Hinata dan mencium bibir Hinata. Lima
menit kemudian Naruto melepaskan ciumannya untuk mengambil napas.
"Hinata aku sayang kamu. Mau nggak kamu jadi pacar aku?" tanya Naruto
dengan wajah puppy love.
"Hmm, pasti Naruto. Aku mau jadi cewek kamu" jawab Hinata dengan muka merah dan perasaan senang.
"Kalau begitu kita ngedate sekarang. Gimana kalau kita ke Ichiraku ramen?" ajak Naruto.
"Dengan celana seperti ini, Naruto-kun? Aku malu" jawab Hinata.
"Tenang-tenang kita keringin dulu celana kita terus kita makan siang bareng ya" kata Naruto dengan tampang seneng banget.
Akhirnya setelah celana kering mereka jalan bareng ke Ichiraku ramen.
'gara-gara mimpi basah, aku jadian ama Hinata' pikir Naruto
Finish