Chapter 1 : The One I Loved
Sore itu, Hinata sedang berdiri seorang diri. Dia menyandarkan tubuhnya
pada sebuah pohon besar untuk menunggu kedatangan seseorang. Matanya
melihat sekelilingnya dan merasa rindu pada tempat ini. Di tempat inilah
dulu dia sering berlatih sendirian. Berada di tempat ini membawa
kembali ingatannya saat masih kecil. Juga ingatannya pada Naruto yang
membuat wajahnya merah padam seketika.
"Hinata!" panggil seseorang dari kejauhan.
"Na-Naruto-kun," gumamnya pelan ketika melihat sosok Naruto yang
mendekatinya sambil melambaikan tangan. Wajahnya jadi lebih merah
daripada yang tadi.
"Maaf telat!" ucap Naruto ketika dia telah
sampai di tempat Hinata. Meskipun keringat mengalir dari pelipisnya
namun napasnya tidak tampak terengah-engah.
"Ng-nggak apa-apa kok!" jawab Hinata pelan.
"Uhmm…itu…" Naruto berbicara terbata-bata sambil menggaruk-garuk rambut
pirangnya. Dia terlihat agak grogi. Bagi orang sepercaya diri Naruto,
grogi terlihat sangat aneh baginya.
"Eh? Eh?" Melihat Naruto
yang grogi seperti itu, membuat wajah Hinata makin merah. Sebenarnya apa
yang akan dikatakan Naruto hingga sengaja memanggilnya kemari.
"Uhmm, itu….sewaktu Pain menyerang Konoha…." Naruto mulai bicara.
GLEK! Wajah Hinata makin memerah. Dia kembali teringat kenekatannya
saat itu. Dia nekat berhadapan dengan Pain. Dan juga menyatakan
perasaannya pada Naruto. Keringat ketegangan mulai mengalir di
pelipisnya dan kedua telunjuknya tak berhenti bergerak.
"Kau
nekat banget, tahu!" bentak pemuda berambut pirang itu. "Apa kau itu
bodoh? Bisa-bisanya kau menerjang menyerang Pain padahal kau tahu kau
tak akan menang?"
"Ma-maaf…" gadis berambut ungu itu menundukkan wajahnya hingga Naruto hanya bisa melihat wajahnya tertutup oleh poni ratanya.
Melihat Hinata yang merasa sangat bersalah seperti itu, Naruto jadi
merasa serba salah. "Hhh!" desahnya. "Kuharap lain kali kau tak senekat
itu, Hinata!"
Hinata mengangkat wajahnya untuk menatap birunya
mata pemuda itu. "Naruto-kun?" Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia
berharap Naruto memarahinya karena mengkhawatirkannya. Boleh kan kalau
sedikit berharap?
"Tapi aku menghargai keberanianmu!" lanjut
Naruto. Kali ini wajahnya bersemu merah. "Kau berani menantang Pain yang
jelas-jelas lebih kuat darimu. Dan juga… aku senang kau… ehmm… ehmm…
aku senang sewaktu kau bilang kau suka aku…."
"Eh? Eh?" Hinata ragu dengan apa yang diucapkan Naruto. Apakah pemuda berambut jabrik itu serius dengan perkataannya?
"Aku juga suka kamu, Hinata!" ucap Naruto dengan lantang di depan wajah imut itu.
"Haa~h?" Hinata merasa darahnya seakan hilang dari pembuluh darah
otaknya karena tak percaya dengan ucapan Naruto. Dan seketika itu pula
seluruh tenaganya hilang bahkan kakinya tak mampu menopang tubuh
langsingnya.
BRUK! Hinata terjatuh dengan punggung menabrak
pohon. "Na-Naruto-kun~? Ti-tidak mungkin, kan~?" ucapnya terbata-bata.
Kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya yang sangat merah karena
malu.
Naruto berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan
Hinata yang terduduk di tanah. "Kau tak apa-apa, Hinata?" tanyanya
khawatir. Meskipun Naruto sering melihat Hinata yang pingsan ketika
melihat tampangnya, tapi dia tetap mengkhawatirkan keadaan gadis
berambut lavender itu.
"Bukankah selama ini kau menyukai
Sakura-san?" tanya Hinata. Matanya mengintip dari balik sela jarinya
untuk menatap mata biru pria yang dicintainya itu.
Naruto
tertawa lebar sampai memamerkan deretan giginya. "Memang! Aku suka
Sakura-chan. Di mataku dia sangat cantik dan aku ingin berkencan
dengannya!" ucap Naruto tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang keras dan
tajam menghantam ulu hati Hinata.
"Tapi hanya itu! Aku sama
sekali tak merasakan ada yang khusus. Aku hanya kagum padanya!" tambah
Naruto yang memberikan angin segar pada hati Hinata.
Tangan
Naruto menyentuh jemari lentik Hinata yang menutupi wajah cantiknya.
Tangan kekar itu menyingkirkan tangan Hinata dari wajahnya dan
membiarkan mata biru Naruto melihat wajah Hinata yang benar-benar merah.
"Saat Pain menyerangmu dan membuatmu pingsan hingga hampir mati, aku
benar-benar marah. Aku juga takut. Takut kehilanganmu. Aku tak ingin kau
mati, Hinata," mata biru Naruto terlihat sendu.
"Na-Naruto-kun…."
"Sejak awal, aku bukanlah seorang anak yang patut dicintai. Semua hanya
memandang penuh ketakutan padaku. Mungkin kau memandangku terlalu
tinggi. Tapi, baru kali ini ada orang yang menyatakan cintanya. Hehehe!"
Naruto pun tersipu malu.
"Bukan! Kenapa kau berpikir begitu?
Sejak dulu aku selalu melihatmu, Naruto-kun. Aku tahu semua usaha
kerasmu! Kamu selalu berusaha agar semua mata melihat padamu. Aku selalu
memperhatikanmu, Naruto-kun," Hinata jadi ngotot.
"Aku tahu,"
ucap Naruto lembut. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Hinata
dan menciumnya. Naruto memberikan ciuman pertama pada Hinata yang
membuat wajah gadis berambut panjang itu merah tak tertahankan lagi.
"Na-Naruto-kun…." Rasanya Hinata bisa saja pingsan sekarang karena
sangat bahagia. Degupan jantungnya jadi tak menentu dan seluruh tubuhnya
kaku. Dia sama sekali tak menyangkan Naruto yang selama ini dicintainya
dan hanya bisa dilihatnya dari jauh ternyata berada sedekat ini bahkan
menciumnya.
"Aku tahu kau selalu melihatku, Hinata. Hanya kau yang tak menghindariku di saat semuanya menjauh."
Naruto memberikan kecupannya yang kedua pada bibir Hinata. Hinata
memejamkan matanya untuk menikmati rasa bibir Naruto yang menekan lembut
bibirnya. Naruto menciumnya lagi. Lagi. Dan lagi. Dia ketagihan dengan
rasa manis bibir Hinata. Naruto terus mencium Hinata seolah bernapas
dari mulut gadis manis itu. Dia meletakkan kedua telapak tangannya pada
pipi Hinata yang putih, sedangkan Hinata melingkarkan kedua tangannya
pada tubuh kekar Naruto dan makin merapatkan tubuhnya dengan tubuh
pemuda jabrik itu.
GYUUTT~! Naruto merasakan ada sesuatu yang
sangat lembut menyentuh dada bidangnya. Dan ternyata adalah dada Hinata
yang cukup besar untuk ukuran seorang perempuan. Wajah Naruto pun
memerah tak kalah dari wajah Hinata. Di pikirannya sedang berperang
antara akal sehat dan nafsunya.
"Naruto-kun, aku ingin
mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu, Naruto-kun. Sangat
mencintaimu," ucap Hinata dengan wajah merona merah. Hal ini membuat
peperangan di otak Naruto dimenangkan oleh nafsunya.
Naruto
menekan keras bibir Hinata dan mulai bermain dengan lidahnya. "Ini
salahmu, Hinata! Kau sangat manis, tahu! Dan akan kukatakan
berkali-kali, aku mencintaimu!" ucap Naruto sambil terus berciuman
dengan Hinata. Kali ini bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang
panas dan dalam hingga lidah dan gigi mereka saling menyatu. Bahkan air
liur mereka pun saling bertukar. Ciuman yang bahkan bisa mengunci
seluruh perkataan yang akan keluar dari bibir gadis berambut laverder
itu.
"Aku mencintaimu, Hinata," ucap Naruto lagi di sela-sela
ciuman panasnya. Hinata mulai merasakan panasnya ciuman dan tubuh Naruto
hingga keluar sedikit keringat dari pelipisnya.
Tangan Naruto
menjalar ke leher Hinata dan melepaskan tanda ninjanya yang dipasang
gadis itu di lehernya. "Aku mencintaimu, Hinata," kata Naruto ketika dia
memindahkan bibirnya ke leher Hinata. Dia mencium tiap lekukan dari
leher yang putih itu dan memberinya kissmark berwarna merah.
"Naru-aaahh~~!" Hinata mulai mendesah ketika Naruto mencium tiap inchi dari kulit lehernya dan membasahinya dengan air liurnya.
Selama bibirnya sedang asyik dengan leher yang indah itu, tangan Naruto
menarik resleting jaket yang dikenakan Hinata dan membuka jaket yang
menutupi tubuh indahnya. Naruto memang membukanya, tapi tidak
seluruhnya. Dia hanya bisa melihat dada yang memenuhi bra yang sewarna
dengan warna rambutnya dan perutnya yang rata. Bibir Naruto mulai
tertarik dengan benda lembut itu.
"Aku mencintaimu, Hinata,"
ucapnya lagi ketika memindahkan bibirnya ke dada Hinata. Naruto juga
memberikan banyak kissmark di dada gadis itu. Tak hanya menciumnya, tapi
Naruto juga menjilatinya hingga dada lembut itu basah oleh air liurnya.
Bahkan Naruto pun melepaskan pengait bra Hinata dengan gigi-giginya.
Beruntung pengait itu ada di depan, jadi gigi Naruto mudah melakukannya.
"Na-Naruto-kun~!" Hinata sangat malu ketika Naruto melihat dada
telanjangnya. Dia berusaha menutupi dadanya dengan tangannya tapi
ternyata mulut Naruto lebih cepat menggapainya. Naruto memasukkan dada
Hinata ke dalam mulutnya dan mempermainkannya. Naruto meremasnya dengan
bibirnya. Dia juga memainkan puting Hinata dengan lidah dan giginya.
Perilaku Naruto sekarang seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya.
"Naruto-ku~nn~ aaaahhhh~~ oooohhh~~!" desahan Hinata makin hebat karena
Naruto tak hanya memanjakan dada kirinya dengan mulutnya, tapi juga
bermain dengan dada kanannya menggunakan tangannya. Jemari Naruto tak
hanya memijat dada Hinata tapi juga mempermainkan putingnya.
"Putingmu sudah mengeras, Hinata," Naruto menyentil puting Hinata yang
sudah memerah dan mengeras sebagai tanda dirinya pun menikmati permainan
Naruto pada tubuhnya. "Aku akan memulai yang selanjutnya!"
Naruto membuka resleting jaketnya karena tubuhnya sudah dipenuhi
keringat. Kemudian membuka kedua kaki Hinata hingga kaki Hinata
melingkari pinggulnya. Naruto pun mulai melepas celana yang dikenakan
Hinata dan juga menanggalkan celana dalam manis yang menutupi daerah
kewanitaannya. Dia pun tertarik pada vagina yang belum tersentuh
siapapun itu. Dan yang tak disangka-sangka, vagina Hinata telah basah
karena rangsangan dari Naruto. Naruto pun menciumnya.
"Aaaaaahhhhh~~~!" Hinata mendesah hebat. Setitik air mata mulai terlihat
di ujung matanya. Rasa geli yang bercampur nikmat. Naruto terus
menciumi vagina itu hingga vagina Hinata makin basah oleh cairannya.
"Naruto-kun, aku sudah tak tahan lagi! Cepatlah, Naruto-kun!" pinta
Hinata dengan desahan dalamnya. Dia sudah mencapai klimaksnya.
"Apa kau yakin, Hinata?" tanya Naruto. Dia memindahkan bibirnya pada
bibir Hinata agar gadis itu bisa merasakan bagaimana rasa cairannya
sendiri.
"Kumohon, Naruto-kun!" pintanya manja.
"Tapi, aku tak punya pengaman? Bagaimana kalau kau–"
Hinata yang sedang mencapai klimaksnya melingkarkan kedua tangannya di
leher Naruto yang berbisik di telinganya, "Aku mencintaimu, Naruto-kun."
Mendengar rayuan Hinata, hilanglah sudah seluruh akal sehat Naruto.
Yang ada dipikirannya hanyalah memiliki Hinata seutuhnya. Dia melepaskan
celana dan boxernya hingga Hinata bisa melihat 'milik' Naruto yang juga
terlihat tak mampu menahannya lagi. "Aku mencintaimu, Hinata," ucap
Naruto sambil mengecup bibir Hinata. Dan pada detik berikutnya, 'milik'
Naruto sudah menggesek dinding vagina Hinata dan merobek selaputnya
hingga 'milik' Naruto berlumuran darah.
"AAAAAHHHHHH~~~!"
Hinata mendesah bukan main karena merasakan kesakitan saat selaputnya
robek oleh 'Naruto'. Dia pun tak mampu menahan air mata yang terus jatuh
di pipi putihnya. Keperawanannya telah diambil oleh satu-satunya orang
yang dicintainya. Dan itulah yang membuatnya berada di kebahagiaannya
yang tertinggi.
"Apa aku harus menghentikannya, Hinata?" Naruto tak tahan melihat wajah Hinata yang kesakitan.
"Jangan! Teruskanlah, Naruto-kun! Aku menginginkanmu!"
Naruto pun menuruti permintaan kekasihnya itu. Dia meneruskannya.
Naruto memasukkan miliknya ke vagina Hinata lebih dalam lagi dan
menyebarkan jutaan spermanya di dalamnya untuk bertemu dengan sebuah
ovum milik Hinata yang telah menunggu di saluran ovarium-nya.
"Aku tak percaya aku ada di dalammu sekarang," ucap Naruto sambil
mencium dahi Hinata. Hidungnya bisa mencium aroma shampo yang dipakai
gadis itu.
"Aku mencintaimu, Naruto-kun. Aku sangat bahagia sekarang," kata Hinata yang menyandarkan kepalanya di dada Naruto yang bidang.
"Aku juga sangat mencintaimu, Hinata."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar