Minggu, 24 Agustus 2014

Chapter 1

Chapter 1 : The One I Loved

Sore itu, Hinata sedang berdiri seorang diri. Dia menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar untuk menunggu kedatangan seseorang. Matanya melihat sekelilingnya dan merasa rindu pada tempat ini. Di tempat inilah dulu dia sering berlatih sendirian. Berada di tempat ini membawa kembali ingatannya saat masih kecil. Juga ingatannya pada Naruto yang membuat wajahnya merah padam seketika.

"Hinata!" panggil seseorang dari kejauhan.

"Na-Naruto-kun," gumamnya pelan ketika melihat sosok Naruto yang mendekatinya sambil melambaikan tangan. Wajahnya jadi lebih merah daripada yang tadi.

"Maaf telat!" ucap Naruto ketika dia telah sampai di tempat Hinata. Meskipun keringat mengalir dari pelipisnya namun napasnya tidak tampak terengah-engah.

"Ng-nggak apa-apa kok!" jawab Hinata pelan.

"Uhmm…itu…" Naruto berbicara terbata-bata sambil menggaruk-garuk rambut pirangnya. Dia terlihat agak grogi. Bagi orang sepercaya diri Naruto, grogi terlihat sangat aneh baginya.

"Eh? Eh?" Melihat Naruto yang grogi seperti itu, membuat wajah Hinata makin merah. Sebenarnya apa yang akan dikatakan Naruto hingga sengaja memanggilnya kemari.

"Uhmm, itu….sewaktu Pain menyerang Konoha…." Naruto mulai bicara.

GLEK! Wajah Hinata makin memerah. Dia kembali teringat kenekatannya saat itu. Dia nekat berhadapan dengan Pain. Dan juga menyatakan perasaannya pada Naruto. Keringat ketegangan mulai mengalir di pelipisnya dan kedua telunjuknya tak berhenti bergerak.

"Kau nekat banget, tahu!" bentak pemuda berambut pirang itu. "Apa kau itu bodoh? Bisa-bisanya kau menerjang menyerang Pain padahal kau tahu kau tak akan menang?"

"Ma-maaf…" gadis berambut ungu itu menundukkan wajahnya hingga Naruto hanya bisa melihat wajahnya tertutup oleh poni ratanya.

Melihat Hinata yang merasa sangat bersalah seperti itu, Naruto jadi merasa serba salah. "Hhh!" desahnya. "Kuharap lain kali kau tak senekat itu, Hinata!"

Hinata mengangkat wajahnya untuk menatap birunya mata pemuda itu. "Naruto-kun?" Jantungnya berdetak lebih kencang. Dia berharap Naruto memarahinya karena mengkhawatirkannya. Boleh kan kalau sedikit berharap?

"Tapi aku menghargai keberanianmu!" lanjut Naruto. Kali ini wajahnya bersemu merah. "Kau berani menantang Pain yang jelas-jelas lebih kuat darimu. Dan juga… aku senang kau… ehmm… ehmm… aku senang sewaktu kau bilang kau suka aku…."

"Eh? Eh?" Hinata ragu dengan apa yang diucapkan Naruto. Apakah pemuda berambut jabrik itu serius dengan perkataannya?

"Aku juga suka kamu, Hinata!" ucap Naruto dengan lantang di depan wajah imut itu.

"Haa~h?" Hinata merasa darahnya seakan hilang dari pembuluh darah otaknya karena tak percaya dengan ucapan Naruto. Dan seketika itu pula seluruh tenaganya hilang bahkan kakinya tak mampu menopang tubuh langsingnya.

BRUK! Hinata terjatuh dengan punggung menabrak pohon. "Na-Naruto-kun~? Ti-tidak mungkin, kan~?" ucapnya terbata-bata. Kedua tangannya berusaha menutupi wajahnya yang sangat merah karena malu.

Naruto berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan Hinata yang terduduk di tanah. "Kau tak apa-apa, Hinata?" tanyanya khawatir. Meskipun Naruto sering melihat Hinata yang pingsan ketika melihat tampangnya, tapi dia tetap mengkhawatirkan keadaan gadis berambut lavender itu.

"Bukankah selama ini kau menyukai Sakura-san?" tanya Hinata. Matanya mengintip dari balik sela jarinya untuk menatap mata biru pria yang dicintainya itu.

Naruto tertawa lebar sampai memamerkan deretan giginya. "Memang! Aku suka Sakura-chan. Di mataku dia sangat cantik dan aku ingin berkencan dengannya!" ucap Naruto tanpa merasa bahwa ada sesuatu yang keras dan tajam menghantam ulu hati Hinata.

"Tapi hanya itu! Aku sama sekali tak merasakan ada yang khusus. Aku hanya kagum padanya!" tambah Naruto yang memberikan angin segar pada hati Hinata.

Tangan Naruto menyentuh jemari lentik Hinata yang menutupi wajah cantiknya. Tangan kekar itu menyingkirkan tangan Hinata dari wajahnya dan membiarkan mata biru Naruto melihat wajah Hinata yang benar-benar merah. "Saat Pain menyerangmu dan membuatmu pingsan hingga hampir mati, aku benar-benar marah. Aku juga takut. Takut kehilanganmu. Aku tak ingin kau mati, Hinata," mata biru Naruto terlihat sendu.

"Na-Naruto-kun…."

"Sejak awal, aku bukanlah seorang anak yang patut dicintai. Semua hanya memandang penuh ketakutan padaku. Mungkin kau memandangku terlalu tinggi. Tapi, baru kali ini ada orang yang menyatakan cintanya. Hehehe!" Naruto pun tersipu malu.

"Bukan! Kenapa kau berpikir begitu? Sejak dulu aku selalu melihatmu, Naruto-kun. Aku tahu semua usaha kerasmu! Kamu selalu berusaha agar semua mata melihat padamu. Aku selalu memperhatikanmu, Naruto-kun," Hinata jadi ngotot.

"Aku tahu," ucap Naruto lembut. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Hinata dan menciumnya. Naruto memberikan ciuman pertama pada Hinata yang membuat wajah gadis berambut panjang itu merah tak tertahankan lagi.

"Na-Naruto-kun…." Rasanya Hinata bisa saja pingsan sekarang karena sangat bahagia. Degupan jantungnya jadi tak menentu dan seluruh tubuhnya kaku. Dia sama sekali tak menyangkan Naruto yang selama ini dicintainya dan hanya bisa dilihatnya dari jauh ternyata berada sedekat ini bahkan menciumnya.

"Aku tahu kau selalu melihatku, Hinata. Hanya kau yang tak menghindariku di saat semuanya menjauh."

Naruto memberikan kecupannya yang kedua pada bibir Hinata. Hinata memejamkan matanya untuk menikmati rasa bibir Naruto yang menekan lembut bibirnya. Naruto menciumnya lagi. Lagi. Dan lagi. Dia ketagihan dengan rasa manis bibir Hinata. Naruto terus mencium Hinata seolah bernapas dari mulut gadis manis itu. Dia meletakkan kedua telapak tangannya pada pipi Hinata yang putih, sedangkan Hinata melingkarkan kedua tangannya pada tubuh kekar Naruto dan makin merapatkan tubuhnya dengan tubuh pemuda jabrik itu.

GYUUTT~! Naruto merasakan ada sesuatu yang sangat lembut menyentuh dada bidangnya. Dan ternyata adalah dada Hinata yang cukup besar untuk ukuran seorang perempuan. Wajah Naruto pun memerah tak kalah dari wajah Hinata. Di pikirannya sedang berperang antara akal sehat dan nafsunya.

"Naruto-kun, aku ingin mengatakannya sekali lagi. Aku mencintaimu, Naruto-kun. Sangat mencintaimu," ucap Hinata dengan wajah merona merah. Hal ini membuat peperangan di otak Naruto dimenangkan oleh nafsunya.

Naruto menekan keras bibir Hinata dan mulai bermain dengan lidahnya. "Ini salahmu, Hinata! Kau sangat manis, tahu! Dan akan kukatakan berkali-kali, aku mencintaimu!" ucap Naruto sambil terus berciuman dengan Hinata. Kali ini bukan ciuman yang lembut, melainkan ciuman yang panas dan dalam hingga lidah dan gigi mereka saling menyatu. Bahkan air liur mereka pun saling bertukar. Ciuman yang bahkan bisa mengunci seluruh perkataan yang akan keluar dari bibir gadis berambut laverder itu.

"Aku mencintaimu, Hinata," ucap Naruto lagi di sela-sela ciuman panasnya. Hinata mulai merasakan panasnya ciuman dan tubuh Naruto hingga keluar sedikit keringat dari pelipisnya.

Tangan Naruto menjalar ke leher Hinata dan melepaskan tanda ninjanya yang dipasang gadis itu di lehernya. "Aku mencintaimu, Hinata," kata Naruto ketika dia memindahkan bibirnya ke leher Hinata. Dia mencium tiap lekukan dari leher yang putih itu dan memberinya kissmark berwarna merah.

"Naru-aaahh~~!" Hinata mulai mendesah ketika Naruto mencium tiap inchi dari kulit lehernya dan membasahinya dengan air liurnya.

Selama bibirnya sedang asyik dengan leher yang indah itu, tangan Naruto menarik resleting jaket yang dikenakan Hinata dan membuka jaket yang menutupi tubuh indahnya. Naruto memang membukanya, tapi tidak seluruhnya. Dia hanya bisa melihat dada yang memenuhi bra yang sewarna dengan warna rambutnya dan perutnya yang rata. Bibir Naruto mulai tertarik dengan benda lembut itu.

"Aku mencintaimu, Hinata," ucapnya lagi ketika memindahkan bibirnya ke dada Hinata. Naruto juga memberikan banyak kissmark di dada gadis itu. Tak hanya menciumnya, tapi Naruto juga menjilatinya hingga dada lembut itu basah oleh air liurnya. Bahkan Naruto pun melepaskan pengait bra Hinata dengan gigi-giginya. Beruntung pengait itu ada di depan, jadi gigi Naruto mudah melakukannya.

"Na-Naruto-kun~!" Hinata sangat malu ketika Naruto melihat dada telanjangnya. Dia berusaha menutupi dadanya dengan tangannya tapi ternyata mulut Naruto lebih cepat menggapainya. Naruto memasukkan dada Hinata ke dalam mulutnya dan mempermainkannya. Naruto meremasnya dengan bibirnya. Dia juga memainkan puting Hinata dengan lidah dan giginya. Perilaku Naruto sekarang seperti bayi yang sedang menyusu pada ibunya.

"Naruto-ku~nn~ aaaahhhh~~ oooohhh~~!" desahan Hinata makin hebat karena Naruto tak hanya memanjakan dada kirinya dengan mulutnya, tapi juga bermain dengan dada kanannya menggunakan tangannya. Jemari Naruto tak hanya memijat dada Hinata tapi juga mempermainkan putingnya.

"Putingmu sudah mengeras, Hinata," Naruto menyentil puting Hinata yang sudah memerah dan mengeras sebagai tanda dirinya pun menikmati permainan Naruto pada tubuhnya. "Aku akan memulai yang selanjutnya!"

Naruto membuka resleting jaketnya karena tubuhnya sudah dipenuhi keringat. Kemudian membuka kedua kaki Hinata hingga kaki Hinata melingkari pinggulnya. Naruto pun mulai melepas celana yang dikenakan Hinata dan juga menanggalkan celana dalam manis yang menutupi daerah kewanitaannya. Dia pun tertarik pada vagina yang belum tersentuh siapapun itu. Dan yang tak disangka-sangka, vagina Hinata telah basah karena rangsangan dari Naruto. Naruto pun menciumnya.

"Aaaaaahhhhh~~~!" Hinata mendesah hebat. Setitik air mata mulai terlihat di ujung matanya. Rasa geli yang bercampur nikmat. Naruto terus menciumi vagina itu hingga vagina Hinata makin basah oleh cairannya.

"Naruto-kun, aku sudah tak tahan lagi! Cepatlah, Naruto-kun!" pinta Hinata dengan desahan dalamnya. Dia sudah mencapai klimaksnya.

"Apa kau yakin, Hinata?" tanya Naruto. Dia memindahkan bibirnya pada bibir Hinata agar gadis itu bisa merasakan bagaimana rasa cairannya sendiri.

"Kumohon, Naruto-kun!" pintanya manja.

"Tapi, aku tak punya pengaman? Bagaimana kalau kau–"

Hinata yang sedang mencapai klimaksnya melingkarkan kedua tangannya di leher Naruto yang berbisik di telinganya, "Aku mencintaimu, Naruto-kun."

Mendengar rayuan Hinata, hilanglah sudah seluruh akal sehat Naruto. Yang ada dipikirannya hanyalah memiliki Hinata seutuhnya. Dia melepaskan celana dan boxernya hingga Hinata bisa melihat 'milik' Naruto yang juga terlihat tak mampu menahannya lagi. "Aku mencintaimu, Hinata," ucap Naruto sambil mengecup bibir Hinata. Dan pada detik berikutnya, 'milik' Naruto sudah menggesek dinding vagina Hinata dan merobek selaputnya hingga 'milik' Naruto berlumuran darah.

"AAAAAHHHHHH~~~!" Hinata mendesah bukan main karena merasakan kesakitan saat selaputnya robek oleh 'Naruto'. Dia pun tak mampu menahan air mata yang terus jatuh di pipi putihnya. Keperawanannya telah diambil oleh satu-satunya orang yang dicintainya. Dan itulah yang membuatnya berada di kebahagiaannya yang tertinggi.

"Apa aku harus menghentikannya, Hinata?" Naruto tak tahan melihat wajah Hinata yang kesakitan.

"Jangan! Teruskanlah, Naruto-kun! Aku menginginkanmu!"

Naruto pun menuruti permintaan kekasihnya itu. Dia meneruskannya. Naruto memasukkan miliknya ke vagina Hinata lebih dalam lagi dan menyebarkan jutaan spermanya di dalamnya untuk bertemu dengan sebuah ovum milik Hinata yang telah menunggu di saluran ovarium-nya.

"Aku tak percaya aku ada di dalammu sekarang," ucap Naruto sambil mencium dahi Hinata. Hidungnya bisa mencium aroma shampo yang dipakai gadis itu.

"Aku mencintaimu, Naruto-kun. Aku sangat bahagia sekarang," kata Hinata yang menyandarkan kepalanya di dada Naruto yang bidang.

"Aku juga sangat mencintaimu, Hinata."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar