Chapter 2 : The One Who Can Protect
Sudah sekitar 3 bulan sejak Naruto mulai berpacaran dengan Hinata.
Sejak peristiwa itu, Naruto sering mengajak Hinata ke apartemennya dan
mereka selalu bercinta di sana.
"Uhmmmm~~ aaahhh~~
Naru-to-kuuu~nn!" desah Hinata bukan main saat Naruto bermain dengan
vaginanya. Naruto membuat 'milik'nya seperti pegas yang naik turun dalam
vagina gadis berambut violet itu.
"Apa kau menikmatinya, Hinata?" tanya Naruto yang ada di bawah Hinata.
Mata birunya terus melihat dada yang besar milik Hinata naik turun
seirama dengan permainannya, membuat tangan Naruto tergoda untuk
meremasnya dan merasakan segala kelembutannya.
"Ooohhh~~!"
keringat Hinata mengalir deras dari seluruh tubuhnya. Tubuhnya
mengisyaratkan keinginannya terhadap pemuda berambut pirang itu.
Naruto yang menyadari keinginan kekasihnya menyentuh lembut rambut
violet Hinata dan mendekatkan wajah gadis itu dengan wajahnya, kemudian
menciumnya di bibir. "Aku mencintaimu, Hinata!"
Naruto mengubah
posisi mereka. Tadi dia dan Hinata saling berhadapan dengan Hinata yang
menindih tubuh kekar Naruto, sekarang Naruto-lah yang menindih tubuh
mungil Hinata, dengan tetap menyatukan tubuh mereka berdua. Naruto
mencium lehernya, juga dadanya. Dia tak tahan untuk mempermainkan dada
Hinata yang besar dan indah itu. Desahan Hinata makin menjadi ketika
Naruto mempermainkan putingnya dengan giginya dan membuat putingnya
memerah.
"Naruto-kuuunn~ aku tak tahan~~," ronta Hinata sambil mencengkeram selimut putih di ranjang Naruto itu.
"Baiklah," Naruto pun menarik 'milik'nya keluar dari vagina Hinata.
"Ah!" Hinata merasa sedikit lega sekaligus kehilangan kenikmatan yang sejak tadi menjalari tubuhnya.
Naruto mengecup lembut pipi Hinata yang putih. "Apa kau sudah lelah, sayang?"
"Na-Naruto-kun?" wajah Hinata masih memerah ketika Naruto menciumnya.
"Aku masih punya cukup stamina untuk melakukannya lagi, Hinata!" pinta Naruto sambil mencium mata Hinata.
"Ta-tapi…ini sudah yang ketiga kalinya, kan?" Hinata terlihat ragu
untuk memulainya lagi. "Bagaimana kalau kau kehabisan tenaga,
Naruto-kun? Bagaimana kalau besok tiba-tiba ada misi dari Hokage-sama?"
Naruto mencium dahi Hinata. "Kau mengkhawatirkan yang tak perlu,
sayang. Hari ini aku baru saja menyelesaikan misi dan kita sudah
seminggu tidak bertemu. Aku merindukanmu, Hinata. Aku hanya ingin
bersamamu." Bibir Naruto beralih ke telinga Hinata. "Lagipula, kau
sendiri tahu kan kalau staminaku ini tidak ada habisnya?" rayu Naruto.
Hinata membalas ciuman Naruto di pipinya. "Akulah yang paling tahu hal
itu, sayangku! Dan tentu saja aku tak akan menyerah. Aku akan melayanimu
hingga kau puas, sayang!"
Naruto tersenyum dan mulai beraksi kembali.
==/==
"Hanya dia yang pantas!" ucap seorang wanita berambut kuning pucat panjang yang dikuncir dua.
"Apa kau gila? Dia masih genin?" bantah seorang wanita tua.
"Tapi, kurasa dia mampu mengalahkan para jounin! Tak ada jounin yang
bisa menyamai kemampuannya!" wanita berdada besar itu menantang dengan
sok dua orang tua di hadapannya.
"Kami tetap tak mengijinkan!" si kakek pun ikut ambil bicara.
"Aku percaya padanya yang telah menyelamatkan Konoha! Dia pernah
melindungi Konoha dan akan selalu melindungi Konoha!" Wanita cantik itu
tersenyum penuh kepercayaan.
Dua orang tua pun saling beradu
pandang. Sepertinya perkataan Godaime Hokage ini telah merasuki
pikirannya dan sepertinya mampu mengubah pendirian mereka.
"Kurasa akan ada sejarah baru di Konoha dimana seorang genin menjadi Hokage," ucap sang nenek sambil sedikit tersenyum.
"Ya," balas sang kakek.
Tsunade pun tersenyum lega.
==/==
Sinar matahari sudah lama memasuki jendela kamar Naruto dan embun pagi
pun telah menguap dengan panasnya cahaya matahari. Dengan kepala yang
masih agak berat, Hinata membuka matanya. Dia berada di atas ranjang
Naruto, hanya dengan berbalutkan sehelai selimut berwarna putih. Tapi,
Naruto sudah tak ada di sampingnya.
"Naruto-kun?" gumamnya
pelan. Matanya berusaha mencari dimana kekasihnya berada. Hinata pun
mendapati Naruto yang sedang buru-buru memakai baju oranye kesayangannya
di dekat lemari pakaian.
"Kau sudah bangun, Hinata?" tanya
Naruto yang melihat Hinata yang masih terlihat linglung di atas
ranjangnya. Memang semalaman Naruto sudah menghabiskan energi kekasihnya
itu.
"Ohayou, Naruto-kun. Apa ada misi lagi?"
Naruto menghampiri Hinata dan memberikannya ciuman selamat pagi. "Nenek Tsunade memanggilku."
"Ooh~," Hinata mengusap-usap matanya.
"Aku berangkat!" Naruto memberikan Hinata sebuah ciuman lagi di bibirnya.
"Hati-hati," ucap Hinata lembut.
Hinata masih merasa jiwanya belum terkumpul semua. Semalam Naruto
membuatnya mengalami keletihan hebat. Tiba-tiba, dia merasakan keanehan
di tubuhnya. Seakan ada sesuatu yang membuat pergerakan percernaannya
jadi lebih cepat dan mengocok lambungnya. Dia merasakan mual dan hampir
muntah. Hinata segera berlari ke wastafel yang ada di kamar mandi dan
muntah di sana.
"Hoeeekkk! Hoeeeekkkk!" Hinata terus
memuntahkan isi perutnya hingga dia merasa agak enakan. Dia melihat
bayangan dirinya di cermin sambil membersihkan bekas muntahannya di
sekitar bibirnya.
"Sudah satu minggu ini aku selalu begini.
Padahal aku merasa baik-baik saja," gumam Hinata. Dia pun memutuskan
untuk memeriksakan kesehatannya.
==/==
"EEEHH? Aku tidak salah dengar, kan?" pekik Naruto tak percaya di ruangan Hokage.
"Apa kau tuli, Naruto?" sindir Tsunade.
"Bi-bisa kau katakan lagi?" tangan Naruto terlihat bergetar karena gugup.
"Ehem! Kau akan menjadi Hokage, Naruto! Hokage ke tujuh!" ucap Tsunade dengan senyum bangga.
"EEEHHH?"
Tsunade sudah mengira kalau Naruto akan bertingkah demikian. Dia hanya
tersenyum melihat ekspresi kaget pemuda berumur 16 tahun itu.
"Tidak mungkin, kan? Aku tidak bermimpi, kan?" kata Naruto tak beraturan.
"Kau adalah orang pertama dalam tingkat genin yang menjadi Hokage, Naruto!"
"YEAAAAAHHHH!" Naruto berteriak kegirangan karena impiannya selama ini
bisa terkabul. Dia mengangkat tangannya tanda kegembiraan yang
meluap-luap. "Terima kasih, Nek!" teriaknya keras sambil berlari
meninggalkan ruangan.
"Dasar! Dia masih tetap seperti itu! Dia
bahkan belum diberitahu tentang penobatannya," gumam Shizune kesal namun
masih tersungging senyum di ujung bibirnya.
"Ya! Hanya dia yang mampu membawa senyuman di Konoha!" ucap Tsunade yang memandangi kepergian Naruto.
==/==
Naruto terus berlari menyusuri jalanan desa Konoha sambil berteriak dan tertawa.
"HAHAHAHA! Aku akan menjadi Hokage!" sebarnya pada penduduk desa
Konoha. Naruto berkali-kali mengucapkannya. Kebanyakan dari mereka
mengira hal itu hanyalah kegilaan Naruto semata.
"Naruto! Jangan teriak-teriak di siang bolong begini!" marah pemilik kedai Ramen Ichiraku.
"Hhh, berisik!" gumam Shikamaru yang tengah berjalan santai menuju tempat Yakiniku bersama Chouji dan Ino.
"Dia benar-benar gila!" ujar Ino.
"Apa yang dikatakannya itu benar?" tampaknya Chouji mulai percaya terhadap teriakan Naruto.
"…" Shino hanya melihat Naruto yang berlari kegirangan seperti udara yang lewat tanpa berkomentar apapun.
"EEEHHH? Benarkah itu, Naruto?" pekik Kiba tak percaya ketika Naruto
lewat di depannya. Naruto hanya meng-iya-kan sambil berlalu.
"GUK!"
"Kau hebat, Narutoooo!" kata Lee dengan penuh bara api dan memamerkan ibu jarinya.
"Aku akan menantang Naruto-niichan dan akan menjadi Hokage yang ke delapan!" ucap Konohamaru ketika Naruto bertemu dengannya.
"Baiklah! Nanti coba saja, Konohamaru!" Naruto pun memberikan senyuman
penuh kegembiraan pada Konohamaru. Dia masih terus berlari. Hingga ke
dekat tebing yang mengukir wajah para Hokage sebelumnya. Naruto berhenti
di sana.
Dia menunjuk tebing itu dengan telunjuknya. "Wajahku akan segera diukir di sana!" tawanya puas.
Kemudian mata birunya beralih ke ukiran Hokage yang termuda, Yondaime
Hokage. "Aku berhasil, Tou-chan!" ucapnya pada ukiran ayahnya.
"Aku berhasil menjadi Hokage sepertimu. Dan aku akan menjadi ninja yang lebih hebat dari Tou-chan dan Kaa-chan!" katanya pasti.
==/==
Sementara itu, di rumah sakit Konoha, Hinata memeriksakan kesehatannya pada Sakura.
"Hi-Hinata…ini tidak…mungkin, kan?" ucap Sakura tak percaya.
"Eh?" Hinata masih tak mengerti arti dari ekspresi Sakura yang melihat hasil pemeriksaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar