Minggu, 24 Agustus 2014

Chapter 2

Chapter 2 : The One Who Can Protect

Sudah sekitar 3 bulan sejak Naruto mulai berpacaran dengan Hinata. Sejak peristiwa itu, Naruto sering mengajak Hinata ke apartemennya dan mereka selalu bercinta di sana.

"Uhmmmm~~ aaahhh~~ Naru-to-kuuu~nn!" desah Hinata bukan main saat Naruto bermain dengan vaginanya. Naruto membuat 'milik'nya seperti pegas yang naik turun dalam vagina gadis berambut violet itu.

"Apa kau menikmatinya, Hinata?" tanya Naruto yang ada di bawah Hinata. Mata birunya terus melihat dada yang besar milik Hinata naik turun seirama dengan permainannya, membuat tangan Naruto tergoda untuk meremasnya dan merasakan segala kelembutannya.

"Ooohhh~~!" keringat Hinata mengalir deras dari seluruh tubuhnya. Tubuhnya mengisyaratkan keinginannya terhadap pemuda berambut pirang itu.

Naruto yang menyadari keinginan kekasihnya menyentuh lembut rambut violet Hinata dan mendekatkan wajah gadis itu dengan wajahnya, kemudian menciumnya di bibir. "Aku mencintaimu, Hinata!"

Naruto mengubah posisi mereka. Tadi dia dan Hinata saling berhadapan dengan Hinata yang menindih tubuh kekar Naruto, sekarang Naruto-lah yang menindih tubuh mungil Hinata, dengan tetap menyatukan tubuh mereka berdua. Naruto mencium lehernya, juga dadanya. Dia tak tahan untuk mempermainkan dada Hinata yang besar dan indah itu. Desahan Hinata makin menjadi ketika Naruto mempermainkan putingnya dengan giginya dan membuat putingnya memerah.

"Naruto-kuuunn~ aku tak tahan~~," ronta Hinata sambil mencengkeram selimut putih di ranjang Naruto itu.

"Baiklah," Naruto pun menarik 'milik'nya keluar dari vagina Hinata.

"Ah!" Hinata merasa sedikit lega sekaligus kehilangan kenikmatan yang sejak tadi menjalari tubuhnya.

Naruto mengecup lembut pipi Hinata yang putih. "Apa kau sudah lelah, sayang?"

"Na-Naruto-kun?" wajah Hinata masih memerah ketika Naruto menciumnya.

"Aku masih punya cukup stamina untuk melakukannya lagi, Hinata!" pinta Naruto sambil mencium mata Hinata.

"Ta-tapi…ini sudah yang ketiga kalinya, kan?" Hinata terlihat ragu untuk memulainya lagi. "Bagaimana kalau kau kehabisan tenaga, Naruto-kun? Bagaimana kalau besok tiba-tiba ada misi dari Hokage-sama?"

Naruto mencium dahi Hinata. "Kau mengkhawatirkan yang tak perlu, sayang. Hari ini aku baru saja menyelesaikan misi dan kita sudah seminggu tidak bertemu. Aku merindukanmu, Hinata. Aku hanya ingin bersamamu." Bibir Naruto beralih ke telinga Hinata. "Lagipula, kau sendiri tahu kan kalau staminaku ini tidak ada habisnya?" rayu Naruto.

Hinata membalas ciuman Naruto di pipinya. "Akulah yang paling tahu hal itu, sayangku! Dan tentu saja aku tak akan menyerah. Aku akan melayanimu hingga kau puas, sayang!"

Naruto tersenyum dan mulai beraksi kembali.

==/==

"Hanya dia yang pantas!" ucap seorang wanita berambut kuning pucat panjang yang dikuncir dua.

"Apa kau gila? Dia masih genin?" bantah seorang wanita tua.

"Tapi, kurasa dia mampu mengalahkan para jounin! Tak ada jounin yang bisa menyamai kemampuannya!" wanita berdada besar itu menantang dengan sok dua orang tua di hadapannya.

"Kami tetap tak mengijinkan!" si kakek pun ikut ambil bicara.

"Aku percaya padanya yang telah menyelamatkan Konoha! Dia pernah melindungi Konoha dan akan selalu melindungi Konoha!" Wanita cantik itu tersenyum penuh kepercayaan.

Dua orang tua pun saling beradu pandang. Sepertinya perkataan Godaime Hokage ini telah merasuki pikirannya dan sepertinya mampu mengubah pendirian mereka.

"Kurasa akan ada sejarah baru di Konoha dimana seorang genin menjadi Hokage," ucap sang nenek sambil sedikit tersenyum.

"Ya," balas sang kakek.

Tsunade pun tersenyum lega.

==/==

Sinar matahari sudah lama memasuki jendela kamar Naruto dan embun pagi pun telah menguap dengan panasnya cahaya matahari. Dengan kepala yang masih agak berat, Hinata membuka matanya. Dia berada di atas ranjang Naruto, hanya dengan berbalutkan sehelai selimut berwarna putih. Tapi, Naruto sudah tak ada di sampingnya.

"Naruto-kun?" gumamnya pelan. Matanya berusaha mencari dimana kekasihnya berada. Hinata pun mendapati Naruto yang sedang buru-buru memakai baju oranye kesayangannya di dekat lemari pakaian.

"Kau sudah bangun, Hinata?" tanya Naruto yang melihat Hinata yang masih terlihat linglung di atas ranjangnya. Memang semalaman Naruto sudah menghabiskan energi kekasihnya itu.

"Ohayou, Naruto-kun. Apa ada misi lagi?"

Naruto menghampiri Hinata dan memberikannya ciuman selamat pagi. "Nenek Tsunade memanggilku."

"Ooh~," Hinata mengusap-usap matanya.

"Aku berangkat!" Naruto memberikan Hinata sebuah ciuman lagi di bibirnya.

"Hati-hati," ucap Hinata lembut.

Hinata masih merasa jiwanya belum terkumpul semua. Semalam Naruto membuatnya mengalami keletihan hebat. Tiba-tiba, dia merasakan keanehan di tubuhnya. Seakan ada sesuatu yang membuat pergerakan percernaannya jadi lebih cepat dan mengocok lambungnya. Dia merasakan mual dan hampir muntah. Hinata segera berlari ke wastafel yang ada di kamar mandi dan muntah di sana.

"Hoeeekkk! Hoeeeekkkk!" Hinata terus memuntahkan isi perutnya hingga dia merasa agak enakan. Dia melihat bayangan dirinya di cermin sambil membersihkan bekas muntahannya di sekitar bibirnya.

"Sudah satu minggu ini aku selalu begini. Padahal aku merasa baik-baik saja," gumam Hinata. Dia pun memutuskan untuk memeriksakan kesehatannya.

==/==

"EEEHH? Aku tidak salah dengar, kan?" pekik Naruto tak percaya di ruangan Hokage.

"Apa kau tuli, Naruto?" sindir Tsunade.

"Bi-bisa kau katakan lagi?" tangan Naruto terlihat bergetar karena gugup.

"Ehem! Kau akan menjadi Hokage, Naruto! Hokage ke tujuh!" ucap Tsunade dengan senyum bangga.

"EEEHHH?"

Tsunade sudah mengira kalau Naruto akan bertingkah demikian. Dia hanya tersenyum melihat ekspresi kaget pemuda berumur 16 tahun itu.

"Tidak mungkin, kan? Aku tidak bermimpi, kan?" kata Naruto tak beraturan.

"Kau adalah orang pertama dalam tingkat genin yang menjadi Hokage, Naruto!"

"YEAAAAAHHHH!" Naruto berteriak kegirangan karena impiannya selama ini bisa terkabul. Dia mengangkat tangannya tanda kegembiraan yang meluap-luap. "Terima kasih, Nek!" teriaknya keras sambil berlari meninggalkan ruangan.

"Dasar! Dia masih tetap seperti itu! Dia bahkan belum diberitahu tentang penobatannya," gumam Shizune kesal namun masih tersungging senyum di ujung bibirnya.

"Ya! Hanya dia yang mampu membawa senyuman di Konoha!" ucap Tsunade yang memandangi kepergian Naruto.

==/==

Naruto terus berlari menyusuri jalanan desa Konoha sambil berteriak dan tertawa.

"HAHAHAHA! Aku akan menjadi Hokage!" sebarnya pada penduduk desa Konoha. Naruto berkali-kali mengucapkannya. Kebanyakan dari mereka mengira hal itu hanyalah kegilaan Naruto semata.

"Naruto! Jangan teriak-teriak di siang bolong begini!" marah pemilik kedai Ramen Ichiraku.

"Hhh, berisik!" gumam Shikamaru yang tengah berjalan santai menuju tempat Yakiniku bersama Chouji dan Ino.

"Dia benar-benar gila!" ujar Ino.

"Apa yang dikatakannya itu benar?" tampaknya Chouji mulai percaya terhadap teriakan Naruto.

"…" Shino hanya melihat Naruto yang berlari kegirangan seperti udara yang lewat tanpa berkomentar apapun.

"EEEHHH? Benarkah itu, Naruto?" pekik Kiba tak percaya ketika Naruto lewat di depannya. Naruto hanya meng-iya-kan sambil berlalu.

"GUK!"

"Kau hebat, Narutoooo!" kata Lee dengan penuh bara api dan memamerkan ibu jarinya.

"Aku akan menantang Naruto-niichan dan akan menjadi Hokage yang ke delapan!" ucap Konohamaru ketika Naruto bertemu dengannya.

"Baiklah! Nanti coba saja, Konohamaru!" Naruto pun memberikan senyuman penuh kegembiraan pada Konohamaru. Dia masih terus berlari. Hingga ke dekat tebing yang mengukir wajah para Hokage sebelumnya. Naruto berhenti di sana.

Dia menunjuk tebing itu dengan telunjuknya. "Wajahku akan segera diukir di sana!" tawanya puas.

Kemudian mata birunya beralih ke ukiran Hokage yang termuda, Yondaime Hokage. "Aku berhasil, Tou-chan!" ucapnya pada ukiran ayahnya.

"Aku berhasil menjadi Hokage sepertimu. Dan aku akan menjadi ninja yang lebih hebat dari Tou-chan dan Kaa-chan!" katanya pasti.

==/==

Sementara itu, di rumah sakit Konoha, Hinata memeriksakan kesehatannya pada Sakura.

"Hi-Hinata…ini tidak…mungkin, kan?" ucap Sakura tak percaya.

"Eh?" Hinata masih tak mengerti arti dari ekspresi Sakura yang melihat hasil pemeriksaannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar