Minggu, 24 Agustus 2014

Chapter 3

Chapter 3 : By Your Side

Sementara itu, di rumah sakit Konoha, Hinata memeriksakan kesehatannya pada Sakura.

"Hi-Hinata…ini tidak…mungkin, kan?" ucap Sakura tak percaya.

"Eh?" Hinata masih tak mengerti arti dari ekspresi Sakura yang melihat hasil pemeriksaannya.

"Aku sudah memeriksanya berkali-kali dan aku mendapatkan hasil yang sama," ucap Sakura yang masih merasa tak percaya.

"Sa-Sakura-san, sebenarnya ada apa? Aku sakit apa?" Hinata mulai terlihat khawatir.

"Kau hamil! Kau hamil, Hinata!" pekik Sakura.

"Eh?" wajah Hinata memerah bukan main. Dia sepenuhnya tak bisa mempercayai perkataan Sakura. Kemudian tangannya menyentuh lembut perutnya. "Be-benarkah?"

Sakura memegang kedua pundak Hinata. "Katakan padaku, Hinata! Apakah Naruto?" tanyanya. Dia mengira 100persen bahwa Naruto-lah yang menghamili Hinata karena Sakura mengetahui mereka telah berpacaran sejak 3 bulan lalu.

Hinata tak menjawab. Dia hanya mengangguk perlahan dengan wajahnya yang merona merah kemudian menunduk.

"NA-RU-TOOOO!" teriak Sakura sambil meninju meja yang ada di sampingnya hingga meja kayu itu hancur berkeping-keping dan tak akan ada seorang pun yang bisa mengenalinya sebagai bekas meja.

"Sa-Sakura-san?" Hinata bergidik melihat Sakura yang sedang marah.

"Dasar Naruto bodoh! Bodoh! Bodoh! Dia itu benar-benar bodoh! Bagaimana bisa dia melakukannya padamu, Hinata?" protes Sakura.

Hinata kembali memainkan jari telunjuknya. "Uhmm…karena aku mencintai Naruto-kun," ucapnya lirih.

"Hhh! Dasar!" Sakura berusaha meredakan kemarahannya. Biar dia marah bagaimanapun juga, nasi sudah menjadi bubur. Hinata sekarang sudah mengandung anak Naruto. "Lalu kau juga, Hinata, bagaimana kau sama sekali tak menyadarinya? Usia kandunganmu itu sudah 3 bulan tahu!"

"Eh? Benarkah itu, Sakura-san?" Hinata merasa seluruh wajahnya menjadi lebih panas seakan terbakar sinar matahari. "Ha-habis~aku sama sekali tak tahu…" ucap gadis berambut violet sambil memainkan telunjuknya seperti biasanya.

"Sudahlah! Aku mau bicara seperti apapun sepertinya percuma! Cepatlah kau pulang dan beritahu Naruto!" ucap Sakura yang terlihat putus asa.

"Terima kasih, Sakura-san!" Hinata menundukan kepalanya sebagai tanda terima kasihnya dan segera pergi dari ruangan itu.

Sakura hanya menghela napas melihat kepergian temannya itu.

"Dia berbuat ulah lagi?" terdengar suara yang cukup berat dari jendela.

"Sasuke-kun?" pekik Sakura girang ketika melihat pemuda berambut hitam yang tiba-tiba muncul dari jendela.

"Huh! Aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian. Naruto benar-benar gila!" komentar Sasuke yang kemudian segera masuk ke dalam ruangan itu sambil menutup jendela dan menguncinya.

"Sa-suke-kun?" gumam Sakura yang merasa heran karena Sasuke juga menutup tirai yang menggantung di atas jendela ruangan mungil itu.

Namun seluruh keheranannya menghilang ketika Sasuke menarik tangannya dan membuatnya berada di dalam pelukan dada bidang kekasihnya itu. Sasuke memegang lembut pipi kemerahan milik Sakura dan mengangkat wajahnya, kemudian memberikan ciuman pada bibirnya. Ciumannya begitu dalam hingga lidah mereka saling mengait dan air liur pun saling bertukar.

"Sasu–," desah Sakura di antara ciuman panas Sasuke. Dia merasa napasnya seakan diambil pemuda bermata hitam itu.

Sasuke sama sekali tak mengindahkan desahan yang keluar dari mulut Sakura. Dia hanya meneruskan ciumannya. Lebih dalam dan lebih panas lagi. Tangannya mulai bergerak untuk melepas kancing bajunya satu per satu, kemudian melempar baju merah itu ke lantai begitu saja seakan baju tersebut sudah tak diperlukan lagi.

"Sasuke-kun!" desahan Sakura semakin hebat ketika Sasuke memindahkan bibirnya ke leher gadis mata hijau itu dan mulai meremas dadanya. Sasuke menyandarkan tubuh bagian atas Sakura di atas ranjang periksa dengan tetap mempermainkan dadanya yang padat.

"Aaahhhh~~ Sasuke-kuunn~~!"

Sasuke memindahkan bibirnya ke dada Sakura dan mempermainkan puting Sakura dengan gigi dan lidahnya. Dada kecil itu sudah basah oleh air liur Sasuke. Begitu pula dengan keadaan di antara kedua kakinya yang telah basah karena pijatan tangan Sasuke padanya. Tak lama kemudian Sasuke memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Sakura hingga gadis berambut merah muda itu berteriak antara kesakitan dan nikmat.

"Aaaahhh~~! Sasuke-kuuuunnnn~~~! Ooooohhhh~~~!" Sakura merasa 'milik' Sasuke menggesek dinding vaginanya. Dia seakan melayang-layang karena merasakan kenikmatan yang tak terkatakan.

"Tidak! Jangan!" pekik Sakura ketika menyadari Sasuke berejakulasi di dalamnya.

"Memangnya kenapa, Sakura? Kita biasa melakukannya, kan?" bisik Sasuke di telinga Sakura hingga membuat gadis itu semakin tak tahan dengan godaannya.

"Ooohh~~ Sasuke-kunnn~ kau tak pakai pengaman!" pekik Sakura yang merasakan vaginanya telah basah oleh jutaan sperma kekasihnya itu.

"Terus?" gumam Sasuke tak peduli. Dia tampak asyik menggigit puting kecil milik Sakura dan menjilatinya.

"Tidaaakkk!" pekik Sakura karena Sasuke berejakulasi lagi. "Kalau kau terus mengeluarkannya di sana, aku bisa hamil!"

"Hmm?" Sasuke tampak tak peduli dengan teriakan Sakura. Dia masih tampak menikmati dada Sakura.

"Aku benar-benar bisa hamil, Sasuke-kun!" gadis berambut merah muda itu berteriak semakin keras hingga bibir Sasuke membungkamnya dengan ciumannya.

"Naruto bisa melakukannya maka aku pun bisa!" ucap Sasuke pada Sakura. "Apa kau tak mau, Sakura?"

Sakura melingkarkan kedua tangannya di leher Sasuke dan membalas ciumannya. "Berada di sampingmu merupakan kebahagiaan terbesar bagiku. Apalagi kalau bisa mengandung anakmu, Sasuke-kun," ucapnya lembut.

"Kalau begitu, bersiaplah, Sakura!"

"Aaaaahhhhhh~~~!"

==/==

"Hinata!" Naruto membuka pintu kamarnya dengan keras dan berharap kekasihnya berada di dalamnya. Namun, ternyata Hinata tak ada di dalam kamarnya. "Hinata?" kepalanya menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari bayangan Hinata namun Naruto masih tak menemukannya.

"Naruto-kun?" sapa suara nan lembut dari pintu yang ternyata adalah Hinata yang baru datang dari tempat Sakura.

"Hinata!" pekik Naruto sambil memeluk gadis berambut panjang itu. "Dengar Hinata! Aku berhasil! Nenek Tsunade bilang aku akan menjadi Hokage! Akhirnya aku menjadi Hokage, Hinata! Hokage, kau tahu!" ucapnya dengan penuh kegirangan.

Hinata masih tak percaya. Dua kejutan beruntun untuk hari ini yang bisa menggoncang jiwanya. Dia tak percaya impian Naruto bisa terwujud secepat ini. Dia merasa sangat bahagia akhirnya impian orang yang dicintainya bisa tercapai. Namun, entah kenapa ada yang meresahkan hatinya.

"Hinata?" tanya Naruto yang menyadari ada kesedihan yang tampak dari wajah manis kekasihnya itu. "Ada apa?"

Hinata menggelengkan kepalanya. "Uhm, uhm! Tidak apa-apa!" tampaknya dia tak ingin Naruto mengetahui kegalauannya.

Naruto memegang kedua pundak mungil Hinata, "Katakan padaku, Hinata? Apa yang meresahkanmu?" Mata birunya menatap mata klan Hyuuga itu.

Hinata menghela napasnya. "Maafkan aku, Naruto-kun. Aku hanya merasa jarak di antara kita semakin besar."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Aku senang akhirnya impianmu untuk menjadi Hokage bisa terwujud. Aku sangat bahagia, Naruto-kun! Tapi…jika berpikir ninja yang tidak ada apa-apanya sepertiku ada di sampingmu yang seorang Hokage dan pahlawan Konoha, aku merasa sangat tidak pantas."

"Hina–"

Hinata menyentuh pipi Naruto. "Aku mencintaimu, Naruto-kun. Sangat mencintaimu. Tapi aku bukanlah ninja yang hebat. Aku juga bukan orang yang begitu spesial. Dirimu sudah terlalu jauh bagiku dan aku merasa aku tak akan bisa lagi menggapaimu," tatapan matanya terlihat sangat sedih. Hinata mati-matian menahan air matanya agar tak mengalir keluar.

"Bodoh! Memangnya kau berpikir apa, Hinata?" Naruto menarik tangan Hinata yang tadi menyentuh pipinya. Tangannya merogoh ke saku celananya dan mengambil sesuatu dari dalamnya kemudian memakaikannya di jari manis Hinata. Naruto memberinya sebuah cincin.

"Hanya kau yang pantas untukku, Hinata!" Naruto kembali memeluk gadis itu di dalam dekapan dada bidangnya. "Hanya kau, Hinata! Kau melihatku saat orang-orang memalingkan pandangannya. Kau mendukungku saat aku hanyalah seorang anak yang payah. Dan kau mencintaiku saat aku hanyalah seorang Uzumaki Naruto! Aku sangat mencintaimu, Hinata. Aku mencintaimu selamanya. Dan aku ingin kau selamanya di sisiku. Menikahlah denganku, Hinata!" ucapnya lembut.

Hinata tak mampu lagi membendung air matanya. Bulir-bulir air mata mengalir deras di pipinya dan membasahi jaket yang dikenakan Naruto. "Ya. Aku pun ingin selamanya di sisimu, Naruto-kun."

"Hinata," Naruto menaikkan wajah putih Hinata dan menekan bibir mungil itu dengan bibirnya. Mula-mula Naruto menciumnya dengan lembut, namun makin lama jadi makin dalam. Tangan Naruto pun mulai membuka resleting jaket ungu Hinata dan menemukan dada Hinata di dalamnya kemudian meremasnya.

"Na-Naruto-kun~?" Hinata mulai mendesah.

Naruto meremas dada besar Hinata seakan dada itu adalah spons yang lembut. "Hmm…dadamu semakin besar, Hinata!"

"Kalau kau terus meremasnya seperti itu, tentu saja akan semakin besar kan, Naruto-kuunn~~," ucapnya makin manja karena terbuai pijatan Naruto pada dadanya.

"Semakin menggodaku," Naruto mulai menjilat puting kanan Hinata dan kemudian menggigitnya.

"Aaaahhh~~!"

Naruto memasukan dada besar itu ke dalam mulutnya dan mengunyahnya. Di dalam mulutnya, lidah Naruto tetap mempermainkan puting Hinata hingga gadis itu mendesah tak karuan. Sementara itu, tangan kanannya tak membiarkan dada kiri gadis itu tak tersentuh. Tangan Naruto juga mempermainkan dada kiri Hinata. Dia menekan putingnya. Memutarinya. Dan juga menariknya hingga puting Hinata memerah dan mengeras.

Setelah puas bermain dengan dada kanannya, mulut Naruto berpindah ke dada kiri Hinata dan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan pada dada kanannya. "Uhmm~ dadamu benar-benar nikmat, Hinata!"

"Aaaaahhh~~ Naruto-kuuunnn~~~," desah Hinata yang membuat Naruto makin ingin mempermainkannya.

Naruto merebahkan kekasihnya itu ke ranjangnya dan membuka celananya, termasuk celana dalamnya. "Wow! Vaginamu telah basah, Hinata! Kau benar-benar nakal!" ucapnya sambil menjilati vagina Hinata.

"Ooohhh~~ Jangan, Naruto-kuuunn~~!" Hinata makin terbuai dengan ciuman Naruto di vaginanya hingga melupakan sama sekali tentang keberadaan janin di rahimnya.

"Sekarang giliranmu memuaskanku, Hinata!"

"Eh?" Hinata masih belum mengerti sepenuhnya.

"Buat aku mendesah seperti desahanmu, Hinata!" Naruto meletakkan tangan Hinata di atas 'miliknya'.

Hinata pun memijat 'milik' Naruto dengan lembut. Namun kemudian mulai tertarik untuk melakukan seperti yang dilakukan Naruto pada vaginanya. Hinata menciumnya. Kemudian memasukannya ke dalam mulutnya dan memperlakukannya seperti lolipop. Hinata memajumundurkan 'milik' Naruto dalam mulutnya hingga Naruto mendesah bukan main.

"Bagus! Terus seperti itu Hinata!"

"Ah!" pekik Hinata karena Naruto mengeluarkan spermanya di dalam mulut gadis itu.

"Maaf, Hinata!" Naruto menarik kembali 'miliknya'. Namun pada detik berikutnya dia sudah memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Hinata.

"Aaaahhhh~~~!" Hinata berteriak keras karena 'Naruto' menggesek dinding vaginanya dengan keras. Naruto terus memasukan 'miliknya' jauh ke dalam Hinata. Dan kemudian 'dia' berejakulasi di dalamnya.

"Ah! Tidak, Naruto-kun! Jangan!" pekik Hinata. Meskipun mulutnya menolak, namun tubuhnya hanya mengatakan kejujuran, yaitu kenikmatan.

"Kita akan menikah. Aku ingin kau segera mengandung anakku, Hinata!"

Hinata mulai ingat bahwa di dalam rahimnya telah tumbuh benih yang ditanam Naruto sejak 3 bulan lalu. "Tidaaakk! Jangan, Naruto-kun!" tolaknya karena tak ingin menyakiti sang janin.

"Kau tak mau, Hinata?" ucap Naruto yang merayu Hinata.

"Bukan! Bukan begitu!" sangkal Hinata.

"Kalau begitu kau menginginkannya!" Naruto lagi-lagi berejakulasi di dalam Hinata.

"Aaaaaaaahhhhh~~!"

Kemudian dia mencium bibir Hinata. "Kau tak perlu khawatir. Aku benar-benar akan menikahimu, Hinata!" ucapnya sambil meremas kembali dada Hinata. Naruto membuat 'miliknya' seperti pegas di dalam vagina Hinata hingga Hinata mendesah bukan main karena permainannya. Setelah beberapa saat, Naruto mengeluarkan'nya'.

Hinata hanya bisa beberapa detik saja bernapas lega ketika 'Naruto' terpisah darinya karena Naruto membuat Hinata berhadapan dengan ranjang sedangkan Naruto di belakangnya dan kemudian kembali memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Hinata sambil terus mencium punggung Hinata dan meremas dada besarnya. Entah sudah berapa kali Naruto melepaskan spermanya di dalam Hinata.

"Hah! Hah! Hah!" Hinata ngos-ngosan setelah bermain begitu rupa dengan Naruto atau lebih tepatnya Naruto yang mempermainkannya.

Naruto mencium bibir gadis berambut violet rata itu. "Mungkin sekarang di sini sedang tumbuh benihku," ucapnya sambil mengelus perut Hinata yang masih terlihat datar sekalipun dia sedang mengandung 3 bulan.

"Bukan 'mungkin', Naruto-kun," bantah Hinata. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Naruto yang memegang perutnya. "Aku memang sudah mengandung anakmu, Naruto-kun!" wajahnya mulai memerah.

"Eh?" Mata biru Naruto terbelalak.

"Aku baru saja memeriksakannya pada Sakura-san. Dan ternyata aku sedang hamil 3 bulan, Naruto-kun. Anakmu! Aku mengandung anakmu," kata Hinata dengan genangan air mata di matanya.

"EEEEEHHHHH?" Naruto kaget bukan kepalang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar