Chapter 4 : Proposal
"EEEEEHHHHH?" Naruto kaget bukan kepalang. "Be-benarkah itu, Hinata?" tanyanya ragu.
Hinata tak menjawabnya. Dia hanya menunduk malu dengan wajah merahnya.
Naruto pun menyadari bahwa yang dikatakan Hinata adalah benar. Dia pun
segera memeluk gadis berambut violet itu dan menciumnya lembut di bibir,
pipi, dan dahinya. "Apa kau tahu, Hinata? Aku sangat senang sekali! Aku
akan menjadi ayah!" tawa Naruto terlihat sangat lebar dan matanya pun semakin menyipit. Raut wajahnya terlihat sangat gembira.
"Aku tak sabar menantikan kelahiranmu!" ucap Naruto sambil mencium dan mengelus lembut perut Hinata.
"Naruto-kun…." Hinata merasa agak geli ketika Naruto mencium perutnya.
"Kenapa aku bisa tak menyadarinya? Kalau kuperhatikan dengan lebih jeli
memang perutmu agak sedikit membesar dibanding saat pertama kali kita
melakukannya," Naruto memandangi perut Hinata dengan seksama.
"Benarkah itu, Naruto-kun? Maaf aku tak menyadarinya," Hinata terlihat
sedikit sedih. Kenapa dia bisa tak menyadari keberadaan benih Naruto
yang ada pada dirinya.
Naruto mencium bibir Hinata sekali lagi. "Bukankah bagus? Sekarang kita hanya tinggal menunggu 6 bulan lagi."
Hinata pun tersenyum lega.
"AAAARRGHHHH!" pekik Naruto tiba-tiba.
"A-ada apa, Naruto-kun?" Hinata terkejut dengan perubahan sikap Naruto.
"Padahal kau sedang hamil tapi aku selalu menyerangmu seperti binatang buas!" Naruto terlihat depresi.
Hinata memeluk Naruto. "Selama ini kita selalu melakukannya tanpa
mempedulikan'nya' kan?" ucap Hinata sambil mengelus perutnya, "dan dia
baik-baik saja sampai sekarang, Naruto-kun."
"Hinata, apa kau mengerti ucapanmu itu? Ucapanmu itu seakan menyuruhku untuk terus memelukmu malam ini."
Hinata hanya tertunduk malu. Bagaimana pun, yang dikatakan Naruto
memang yang ada di pikirannya. Dia menginginkan Naruto. Hinata masih
menginginkan sentuhan Naruto malam ini.
"Kau mesum, Hinata!" goda Naruto sambil mencium dada calon ibu itu dan menggigit keras putingnya.
"Aaahh!" pekik Hinata yang oleh Naruto terdengar seperti desahan.
"Besok kita akan menemui ayahmu, Hinata. Tapi malam ini kau tak akan
kubiarkan tidur! Ini adalah hukuman dari ucapanmu, Hinata," rayu Naruto.
Dia memasukan dada besar Hinata dalam mulutnya sedangkan tangannya
masih mengelus lembut perut dimana anaknya berada.
"Naruto-kuuunnn~~!" desah Hinata ketika gigi Naruto bertemu lagi dengan
putingnya dan mulut lelaki berambut jabrik itu memijat dadanya.
"Aku benar-benar menyukai dadanya!" pikir Naruto. Dia pun memiringkan
tubuh Hinata dan membuka kakinya kemudian memasukan 'miliknya' ke dalam
vagina Hinata. Dada besar Hinata pun berloncatan karena gesekannya.
Hinata pun mendesah panjang dan dalam karena Naruto membuat 'miliknya'
seperti pegas di dalam Hinata.
"Tidak Naruto-kun! Jangan! Bagaimana dengan anak kita?" tolak Hinata yang mengkhawatirkan keadaan janinnya.
"Bukankah selama ini kita tak pernah memikirkan keadaannya, Hinata?"
"Tapi sekarang beda! Aaaahhh~~ Aku takut anak kita terluka!"
"Tenanglah, Hinata!" Naruto makin liar memperlakukan vagina dan dada Hinata.
"Oooohhh~~ tidak Naruto-kuunnn~~! Kau jangan mengeluarkannya di sana!"
desah Hinata dalam ketika menyadari Naruto mengeluarkan spermanya di
dalamnya.
"Maaf, Hinata!" Naruto segera menarik 'miliknya' keluar dengan cepat hingga tubuh Hinata tersentak.
"AAAHH!"
"Hinata, kali ini aku tak akan mengeluarkannya di dalammu lagi," ucap Naruto. Dia mengecup dahi berponi violet itu.
"Ya. Aku hanya mengkhawatirkan anak kita saja."
Dan mereka pun melanjutkannya.
==/==
Keesokan harinya.
"Hoeeekkk! Hoeeekkk!" Hinata mengalami morning sickness-nya. Dia memuntahkan banyak isi perutnya di wastafel.
"Kau tak apa-apa Hinata?" tanya Naruto yang terlihat khawatir. Dia
memeluk Hinata dari belakang seakan ikut merasakan mual yang dirasakan
ibu muda itu.
"Aku tak apa-apa, Naruto-kun," jawab Hinata yang
tak ingin kekasihnya terlihat khawatir. Dia membersihkan sisa muntahan
yang ada di pinggiran bibirnya.
Tangan Naruto meraih perut
Hinata dan mengelusnya. "Anakku, kumohon jangan membuat repot ibumu,
ya?" ucapnya lembut di dekat telinga Hinata yang membuat wajahnya makin
memerah.
"Naruto-kun," gumam Hinata. Dan ajaibnya, sang janin
seakan menuruti perintah ayahnya untuk tenang. Hinata tak lagi merasa
mual.
"Kita harus segera bersiap," kata Naruto sambil memberikan ciuman selamat pagi pada Hinata. "Humm, rasa muntahan," guraunya.
"Ah! Maaf, Naruto-kun!" Hinata merasa agak bersalah.
==/==
Di kediaman Hyuuga.
"Izinkan aku menikahi Hinata!" mohon Naruto sambil bersujud di hadapan
Hiashi. Dia terlihat sangat tegang. Kali ini dia mengenakan jas hitam
dan terlihat lebih rapi daripada penampilannya yang biasanya, meskipun
rambutnya masih tetap jabrik.
"Hmm," Hiashi berpikir sejenak dengan wajah kerasnya. "Tidak," jawabnya tegas.
"A-apa? Kenapa?" protes Naruto. "Aku dan Hinata saling mencintai!"
"Kalian masih terlalu muda! Lagipula kau adalah jinchuuriki, aku tak
ingin membahayakan Hinata," jawab Hiashi tegas. Ternyata dia memikirkan
nasib putri tertuanya itu.
"Tapi, aku pasti akan melindungi Hinata!" Naruto berusaha meyakinkan.
"Apa yang bisa dilakukan genin sepertimu? Kedudukanmu sama sekali tak cocok untuk keluarga Hyuuga!" ucap Hiashi keras.
"Aku memang hanya seorang Namikaze Naruto, tapi aku akan mencintai dan
melindungi Hinata seumur hidupku. Aku tak akan pernah menarik ucapanku
ini!" ucap Naruto pasti. Mata birunya menyiratkan kebulatan tekadnya.
Mendengar perkataan Naruto itu, dada Hinata terasa sangat hangat. Sekarang tak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi.
Ujung bibir Hiashi tersenyum kecil. "Baiklah. Kata-kata itulah yang
ingin kudengar. Aku akan memegang perkatanmu, Naruto. Kau akan selalu
melindungi Hinata apapun yang terjadi sebagai Namikaze Naruto."
"Eh?" Naruto heran karena tiba-tiba Hiashi meng'iya'kan lamarannya.
"Aku sudah mendengarnya dari Hokage-sama, kau akan menjadi Hokage
berikutnya. Tapi kau sama sekali tak mengungkit-ungkit soal kedudukan
sebagai Hokage di hadapanku. Di hadapanku dan Hinata, kau hanyalah
seorang Namikaze Naruto. Itulah yang membuatku salut padamu," jelas
Hiashi. Ternyata dia menyadari kesungguhan Naruto.
"Ja-jadi?" Naruto seakan tak percaya.
"Ya. Aku merestui pernikahan kalian," ucap Hiashi tegas.
"YAAAA!" Naruto berteriak keras sambil mengangkat tangannya
tinggi-tinggi. Tapi kemudian kembali duduk bersimpuh ketika menyadari
mata putih Hiashi memandangnya tajam.
"A-anu, ayah…." Hinata agak ragu untuk berbicara. "Ada satu lagi yang ingin kusampaikan."
"Apa itu?"
Hinata menyentuh perutnya. "Aku sedang mengandung anak Naruto-kun," ucapnya dengan wajah memerah padam.
Urat-urat kemarahan mulai muncul di dahi Hiashi. "A-apa katamu?"
"Aku hamil, Ayah. Sudah 3 bulan," ucap Hinata lagi. Tampaknya dia masih belum menyadari benih-benih kemarahan ayahnya.
"NARUTOOO!" teriak Hiashi yang marah pada pemuda 16 tahun yang telah
menghamili putrinya. Dia pun segera mengeluarkan Byakugan-nya.
"WAAAAA!" Naruto pun bersiap untuk kabur daripada menghadapi kemarahan Hiashi yang terlihat menakutkan.
==/==
Sakura mendengus melihat hasil pemeriksaannya di kamar mandi.
"Bagaimana?" tanya Sasuke tak sabar.
"Negatif," ucap Sakura putus asa.
Sasuke menarik tangan Sakura dan menciumnya. "Kalau begitu kita coba lagi."
"Tentu saja, Sasuke-kun!" Sakura terlihat bahagia dengan pipi
meronanya. "Aku menginginkan bayimu," dia membalas ciuman Sasuke di
bibirnya.
"Apa kau tak akan pergi ke rumah sakit hari ini?" tanya pemuda berambut hitam itu. Tangannya mulai meremas dada Sakura.
"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sasuke-kun!" pinta Sakura.
Sasuke pun tak segan-segan bermain dengan dada padat Sakura. Dia
membuat dada itu basah oleh air liurnya dan mempertemukan giginya dengan
puting mungil Sakura yang membuat gadis berambut sakura itu mendesah
tak karuan.
"Aaaaahhh~~ cepatlah, Sasuke-kun!" pintanya.
"Aku akan memasukannya, Sakura!" Sasuke pun memasukan 'miliknya' ke
dalam vagina Sakura dan melepaskan jutaan spermanya di sana. Dia
berharap kali ini spermanya bisa sampai ke tempat ovum Sakura agar bisa
terbentuk kehidupan yang baru.
"Terus, Sasuke-kun! Lakukanlah lebih cepat! Masukanlah lebih dalam lagi!" pinta gadis itu.
Dan Sasuke pun melepaskan spermanya berkali-kali di dalam vagina Sakura.
"Hah! Hah! Hah!" Sakura terlihat kelelahan karena Sasuke sudah mengeksploitasinya.
"Sakura, maukah kau menikah denganku?" tanya Sasuke tiba-tiba.
Mata Sakura terbelalak. Dia serasa tak percaya. "Dasar! Kenapa kau
mengatakannya di saat seperti ini?" omelnya untuk menutupi rasa malu.
"Iya atau tidak?"
"Tentu saja iya, kan?" Sakura pun memeluk Sasuke dengan erat.
"Sakura, aku merasakan cakra-mu kacau," bisik Sasuke di telinga Sakura.
"Eh?"
"Bisakah kau segera memeriksanya?" pinta pria bermata hitam itu.
Sakura pun memeriksa dirinya. Dan hasilnya adalah positif!
"Kita berhasil, Sasuke-kun!" ucap Sakura kegirangan. "Akhirnya aku
hamil! Aku mengandung anakmu, Sasuke-kun!" dia memeluk erat Sasuke. Dan
Sasuke pun membalas pelukan kekasihnya itu dengan senyuman puas di
bibirnya.
Ceritanya terlalu mesum.
BalasHapusG enak di Baca.
Buat yg normal aja.