Minggu, 24 Agustus 2014

Chapter 4

Chapter 4 : Proposal

"EEEEEHHHHH?" Naruto kaget bukan kepalang. "Be-benarkah itu, Hinata?" tanyanya ragu.

Hinata tak menjawabnya. Dia hanya menunduk malu dengan wajah merahnya.

Naruto pun menyadari bahwa yang dikatakan Hinata adalah benar. Dia pun segera memeluk gadis berambut violet itu dan menciumnya lembut di bibir, pipi, dan dahinya. "Apa kau tahu, Hinata? Aku sangat senang sekali! Aku akan menjadi ayah!" tawa Naruto terlihat sangat lebar dan matanya pun semakin menyipit. Raut wajahnya terlihat sangat gembira.

"Aku tak sabar menantikan kelahiranmu!" ucap Naruto sambil mencium dan mengelus lembut perut Hinata.

"Naruto-kun…." Hinata merasa agak geli ketika Naruto mencium perutnya.

"Kenapa aku bisa tak menyadarinya? Kalau kuperhatikan dengan lebih jeli memang perutmu agak sedikit membesar dibanding saat pertama kali kita melakukannya," Naruto memandangi perut Hinata dengan seksama.

"Benarkah itu, Naruto-kun? Maaf aku tak menyadarinya," Hinata terlihat sedikit sedih. Kenapa dia bisa tak menyadari keberadaan benih Naruto yang ada pada dirinya.

Naruto mencium bibir Hinata sekali lagi. "Bukankah bagus? Sekarang kita hanya tinggal menunggu 6 bulan lagi."

Hinata pun tersenyum lega.

"AAAARRGHHHH!" pekik Naruto tiba-tiba.

"A-ada apa, Naruto-kun?" Hinata terkejut dengan perubahan sikap Naruto.

"Padahal kau sedang hamil tapi aku selalu menyerangmu seperti binatang buas!" Naruto terlihat depresi.

Hinata memeluk Naruto. "Selama ini kita selalu melakukannya tanpa mempedulikan'nya' kan?" ucap Hinata sambil mengelus perutnya, "dan dia baik-baik saja sampai sekarang, Naruto-kun."

"Hinata, apa kau mengerti ucapanmu itu? Ucapanmu itu seakan menyuruhku untuk terus memelukmu malam ini."

Hinata hanya tertunduk malu. Bagaimana pun, yang dikatakan Naruto memang yang ada di pikirannya. Dia menginginkan Naruto. Hinata masih menginginkan sentuhan Naruto malam ini.

"Kau mesum, Hinata!" goda Naruto sambil mencium dada calon ibu itu dan menggigit keras putingnya.

"Aaahh!" pekik Hinata yang oleh Naruto terdengar seperti desahan.

"Besok kita akan menemui ayahmu, Hinata. Tapi malam ini kau tak akan kubiarkan tidur! Ini adalah hukuman dari ucapanmu, Hinata," rayu Naruto. Dia memasukan dada besar Hinata dalam mulutnya sedangkan tangannya masih mengelus lembut perut dimana anaknya berada.

"Naruto-kuuunnn~~!" desah Hinata ketika gigi Naruto bertemu lagi dengan putingnya dan mulut lelaki berambut jabrik itu memijat dadanya.

"Aku benar-benar menyukai dadanya!" pikir Naruto. Dia pun memiringkan tubuh Hinata dan membuka kakinya kemudian memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Hinata. Dada besar Hinata pun berloncatan karena gesekannya. Hinata pun mendesah panjang dan dalam karena Naruto membuat 'miliknya' seperti pegas di dalam Hinata.

"Tidak Naruto-kun! Jangan! Bagaimana dengan anak kita?" tolak Hinata yang mengkhawatirkan keadaan janinnya.

"Bukankah selama ini kita tak pernah memikirkan keadaannya, Hinata?"

"Tapi sekarang beda! Aaaahhh~~ Aku takut anak kita terluka!"

"Tenanglah, Hinata!" Naruto makin liar memperlakukan vagina dan dada Hinata.

"Oooohhh~~ tidak Naruto-kuunnn~~! Kau jangan mengeluarkannya di sana!" desah Hinata dalam ketika menyadari Naruto mengeluarkan spermanya di dalamnya.

"Maaf, Hinata!" Naruto segera menarik 'miliknya' keluar dengan cepat hingga tubuh Hinata tersentak.

"AAAHH!"

"Hinata, kali ini aku tak akan mengeluarkannya di dalammu lagi," ucap Naruto. Dia mengecup dahi berponi violet itu.

"Ya. Aku hanya mengkhawatirkan anak kita saja."

Dan mereka pun melanjutkannya.

==/==

Keesokan harinya.

"Hoeeekkk! Hoeeekkk!" Hinata mengalami morning sickness-nya. Dia memuntahkan banyak isi perutnya di wastafel.

"Kau tak apa-apa Hinata?" tanya Naruto yang terlihat khawatir. Dia memeluk Hinata dari belakang seakan ikut merasakan mual yang dirasakan ibu muda itu.

"Aku tak apa-apa, Naruto-kun," jawab Hinata yang tak ingin kekasihnya terlihat khawatir. Dia membersihkan sisa muntahan yang ada di pinggiran bibirnya.

Tangan Naruto meraih perut Hinata dan mengelusnya. "Anakku, kumohon jangan membuat repot ibumu, ya?" ucapnya lembut di dekat telinga Hinata yang membuat wajahnya makin memerah.

"Naruto-kun," gumam Hinata. Dan ajaibnya, sang janin seakan menuruti perintah ayahnya untuk tenang. Hinata tak lagi merasa mual.

"Kita harus segera bersiap," kata Naruto sambil memberikan ciuman selamat pagi pada Hinata. "Humm, rasa muntahan," guraunya.

"Ah! Maaf, Naruto-kun!" Hinata merasa agak bersalah.

==/==

Di kediaman Hyuuga.

"Izinkan aku menikahi Hinata!" mohon Naruto sambil bersujud di hadapan Hiashi. Dia terlihat sangat tegang. Kali ini dia mengenakan jas hitam dan terlihat lebih rapi daripada penampilannya yang biasanya, meskipun rambutnya masih tetap jabrik.

"Hmm," Hiashi berpikir sejenak dengan wajah kerasnya. "Tidak," jawabnya tegas.

"A-apa? Kenapa?" protes Naruto. "Aku dan Hinata saling mencintai!"

"Kalian masih terlalu muda! Lagipula kau adalah jinchuuriki, aku tak ingin membahayakan Hinata," jawab Hiashi tegas. Ternyata dia memikirkan nasib putri tertuanya itu.

"Tapi, aku pasti akan melindungi Hinata!" Naruto berusaha meyakinkan.

"Apa yang bisa dilakukan genin sepertimu? Kedudukanmu sama sekali tak cocok untuk keluarga Hyuuga!" ucap Hiashi keras.

"Aku memang hanya seorang Namikaze Naruto, tapi aku akan mencintai dan melindungi Hinata seumur hidupku. Aku tak akan pernah menarik ucapanku ini!" ucap Naruto pasti. Mata birunya menyiratkan kebulatan tekadnya.

Mendengar perkataan Naruto itu, dada Hinata terasa sangat hangat. Sekarang tak ada yang perlu dikhawatirkannya lagi.

Ujung bibir Hiashi tersenyum kecil. "Baiklah. Kata-kata itulah yang ingin kudengar. Aku akan memegang perkatanmu, Naruto. Kau akan selalu melindungi Hinata apapun yang terjadi sebagai Namikaze Naruto."

"Eh?" Naruto heran karena tiba-tiba Hiashi meng'iya'kan lamarannya.

"Aku sudah mendengarnya dari Hokage-sama, kau akan menjadi Hokage berikutnya. Tapi kau sama sekali tak mengungkit-ungkit soal kedudukan sebagai Hokage di hadapanku. Di hadapanku dan Hinata, kau hanyalah seorang Namikaze Naruto. Itulah yang membuatku salut padamu," jelas Hiashi. Ternyata dia menyadari kesungguhan Naruto.

"Ja-jadi?" Naruto seakan tak percaya.

"Ya. Aku merestui pernikahan kalian," ucap Hiashi tegas.

"YAAAA!" Naruto berteriak keras sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tapi kemudian kembali duduk bersimpuh ketika menyadari mata putih Hiashi memandangnya tajam.

"A-anu, ayah…." Hinata agak ragu untuk berbicara. "Ada satu lagi yang ingin kusampaikan."

"Apa itu?"

Hinata menyentuh perutnya. "Aku sedang mengandung anak Naruto-kun," ucapnya dengan wajah memerah padam.

Urat-urat kemarahan mulai muncul di dahi Hiashi. "A-apa katamu?"

"Aku hamil, Ayah. Sudah 3 bulan," ucap Hinata lagi. Tampaknya dia masih belum menyadari benih-benih kemarahan ayahnya.

"NARUTOOO!" teriak Hiashi yang marah pada pemuda 16 tahun yang telah menghamili putrinya. Dia pun segera mengeluarkan Byakugan-nya.

"WAAAAA!" Naruto pun bersiap untuk kabur daripada menghadapi kemarahan Hiashi yang terlihat menakutkan.

==/==

Sakura mendengus melihat hasil pemeriksaannya di kamar mandi.

"Bagaimana?" tanya Sasuke tak sabar.

"Negatif," ucap Sakura putus asa.

Sasuke menarik tangan Sakura dan menciumnya. "Kalau begitu kita coba lagi."

"Tentu saja, Sasuke-kun!" Sakura terlihat bahagia dengan pipi meronanya. "Aku menginginkan bayimu," dia membalas ciuman Sasuke di bibirnya.

"Apa kau tak akan pergi ke rumah sakit hari ini?" tanya pemuda berambut hitam itu. Tangannya mulai meremas dada Sakura.

"Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, Sasuke-kun!" pinta Sakura.

Sasuke pun tak segan-segan bermain dengan dada padat Sakura. Dia membuat dada itu basah oleh air liurnya dan mempertemukan giginya dengan puting mungil Sakura yang membuat gadis berambut sakura itu mendesah tak karuan.

"Aaaaahhh~~ cepatlah, Sasuke-kun!" pintanya.

"Aku akan memasukannya, Sakura!" Sasuke pun memasukan 'miliknya' ke dalam vagina Sakura dan melepaskan jutaan spermanya di sana. Dia berharap kali ini spermanya bisa sampai ke tempat ovum Sakura agar bisa terbentuk kehidupan yang baru.

"Terus, Sasuke-kun! Lakukanlah lebih cepat! Masukanlah lebih dalam lagi!" pinta gadis itu.

Dan Sasuke pun melepaskan spermanya berkali-kali di dalam vagina Sakura.

"Hah! Hah! Hah!" Sakura terlihat kelelahan karena Sasuke sudah mengeksploitasinya.

"Sakura, maukah kau menikah denganku?" tanya Sasuke tiba-tiba.

Mata Sakura terbelalak. Dia serasa tak percaya. "Dasar! Kenapa kau mengatakannya di saat seperti ini?" omelnya untuk menutupi rasa malu.

"Iya atau tidak?"

"Tentu saja iya, kan?" Sakura pun memeluk Sasuke dengan erat.

"Sakura, aku merasakan cakra-mu kacau," bisik Sasuke di telinga Sakura.

"Eh?"

"Bisakah kau segera memeriksanya?" pinta pria bermata hitam itu.

Sakura pun memeriksa dirinya. Dan hasilnya adalah positif!

"Kita berhasil, Sasuke-kun!" ucap Sakura kegirangan. "Akhirnya aku hamil! Aku mengandung anakmu, Sasuke-kun!" dia memeluk erat Sasuke. Dan Sasuke pun membalas pelukan kekasihnya itu dengan senyuman puas di bibirnya.

1 komentar: