Minggu, 24 Agustus 2014

Chapter 5

Chapter 5 : Hokage

"Eh? Benarkah itu, Sakura-san?" tanya Hinata seolah tak percaya dengan berita yang baru saja disampaikan Sakura.

"Ya! Aku hamil, Hinata! Anak Sasuke-kun!" ucap Sakura sekali lagi dengan mata yang menyipit dan senyum yang lebar. Hinata bisa melihat bahwa Sakura sangat senang bisa mengandung anak Sasuke.

"Syukurlah! Hehehe," Hinata pun tersenyum puas.

"Apa-apaan kalian ini?" tanya Tsunade yang melihat Hinata dan Sakura yang senyum-senyum saja dari tadi. Tentu saja karena mereka berdua sedang berada di depan kantor Tsunade di Hokage Tower.

Hinata terlihat gugup setelah digertak seperti itu oleh Godaime Hokage itu. Wajahnya memerah semerah tomat dan dia pun mulai memainkan jarinya. Sementara itu Sakura terlihat tenang dan menebarkan senyum lebarnya.

"Hehehe, Tsunade-sama, aku hanya ingin menyampaikan," Sakura pun mulai berbicara. Dia menyentuh lembut perutnya. "Aku hamil!"

"APAAA?" pekik Tsunade tak percaya.

"Hinata juga!" tambah Sakura.

"TIDAK MUNGKIN!" Tsunade melirik pada Hinata. Selama ini di matanya, Hinata adalah anak pemalu yang polos, apalagi dia dari keluarga terhormat.

"I-i-i-itu be-be-benar, Tsunade-sama," ucap Hinata lirih.

"Haaahhh~~!" Tsunade menghela napas. "Masuklah kalian berdua!" Tsunade mempersilakan Sakura dan Hinata masuk ke dalam ruang kerjanya.

"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Tsunade sambil merebahkan dirinya di kursi Hokage yang tak lama lagi bukan miliknya itu.

"Kalau Anda tanya bagaimana ya jawabnya seperti yang sudah Anda ketahui. Tentu saja karena hubungan laki-laki dan perempuan!" jawab Sakura sekenanya. Tampaknya dia terlalu gembira sehingga malas untuk menjelaskannya.

"DASAR BODOH! Bukan begitu! Kalian ini masih 17 tahun dan belum menikah, BODOH!" bentak Tsunade.

"Uhmm~ Tsunade-sama, aku akan menikah dengan Naruto-kun dan ayah sudah menyetujuinya," ucap Hinata tegas.

"Apa? Jadi Hiashi sudah tahu?" tanya Tsunade dan Hinata pun mengangguk pelan. "Lalu, Sakura?"

"Yaaa~ Sasuke pun sudah melamarku!" jawab Sakura.

"Haahh~~ mau bicara atau marah pun tak ada gunanya lagi. Nasi sudah menjadi bubur. Kalau begitu kalian akan diberi cuti hingga anak kalian lahir nanti," ucap Tsunade pasrah.

"Terima kasih, Tsunade-sama!" ucap Hinata dan Sakura bersamaan sambil menundukkan badan. Mereka pun bersiap meninggalkan ruangan karena dikiranya tak ada lagi yang harus disampaikan pada Godaime Hokage itu.

"Ah, tunggu dulu, Hinata!" Tsunade menghentikan Hinata. Hinata pun menuruti perintah Tsunade dan kembali menghadap di depan meja kerjanya, sedangkan Sakura merasa dirinya harus keluar dari ruangan itu.

"Apa kau tahu kalau Naruto adalah Jinchuuriki?" tanya Tsunade dan Hinata mengangguk. "Aku masih belum tahu pasti, tapi kurasa sedikit banyak, cakra Kyuubi pasti akan berpengaruh pada tubuhmu. Berbeda dengan Kushina yang merupakan Jinchuuriki, kamu hanya menerima bagian cakra dari Kyuubi, apalagi kau adalah garis keturunan Hyuuga."

"Ya. Saya siap menanggung apapun itu!" ucap Hinata pasti.

"Kau benar-benar mirip dengan Naruto!" senyum kecil tersungging dari ujung bibir Tsunade dan Hinata merasakan wajahnya panas mendengarnya dibilang mirip Naruto.

"Baiklah, kau boleh pergi! Tapi jangan lupa memeriksakan kesehatanmu padaku tiap minggu! Aku ingin memonitornya," kata Tsunade. Hinata pun menunduk dan bersiap keluar.

"Oh, iya! Sampaikan pada Naruto, penobatannya tiga hari lagi! Dia keburu kabur waktu aku akan memberitahunya," ucap Tsunade yang terlihat agak kesal.

"Baiklah. Terima kasih!" ucap Hinata. Tsunade bisa melihatnya tertawa kecil karena membayangkan bagaimana Naruto yang langsung kabur karena kegirangan mendengar dirinya akan menjadi Hokage.

==/==

"SAIIIII!" teriak Ino sambil menubruk Sai yang terlihat sedang berlatih di pinggiran desa Konoha.

"I-Ino?" Sai terlihat heran dengan perilaku kekasihnya itu. Dan yang paling mengherankan adalah Ino yang langsung menempelkan bibirnya pada bibir Sai.

"Aku ingin anakmu, Sai!" ucap Ino.

"Hah~?"

"Sakura hamil. Hinata juga. Aku tak mau kalah, Sai!" rengek Ino. Dia meraih tangan Sai dan meletakkannya di dadanya yang cukup besar itu. Dia pun membuat Sai meremas dadanya.

"Apa…kau yakin?" tanya Sai memastikan.

"Yaaa~~," Ino mulai mendesah karena tangan Sai mulai meremas dadanya di luar kendali.

"Kebetulan sekali kalau begitu," Sai pun mulai mencium bibir Ino, "apa kau tahu, pria yang baru saja berlatih keras, nafsunya meningkat?" ciuman Sai semakin dalam dan dengan cepat dia membuka baju Ino bagian atas sehingga dadanya terlihat berloncatan.

"Aaaahhh~~~~," desah Ino yang dadanya telah dipermainkan oleh Sai.

==/==

"Haaahhh~~ apa-apaan mereka itu?" kata Shikamaru yang tak sengaja melihat adegan film antara Ino dan Sai. Dia memperhatikan bagaimana Sai memperbudak tubuh Ino dan Ino pun terlihat sangat kegirangan karenanya.

"Merepotkan!" ucapnya yang berniat meninggalkan adegan panas itu.

"Shikamaru!" sapa Temari yang tiba-tiba muncul. "Apa yang kau lakukan?"

"Aaaaaaaahhhhhh~~~," terdengar suara desahan Ino yang keras di telinga mereka berdua.

"Dasar! Wanita itu benar-benar membingungkan! Bisa-bisanya mereka mengeluarkan suara manja seperti itu," ejek Shikamaru.

"Hei! Jangan seenaknya mengejek, ya!" bantah Temari.

Shikamaru memandang Temari dengan pandangan sinis kemudian mendesah. "Kalau kau sih tak mungkin bisa mengeluarkan suara manja seperti itu, kan?"

"A-apa kau bilang? Enak saja!" Temari langsung melepaskan bajunya. "Bagaimana kalau kau coba?" tantangnya pada pria jenius yang terkesan malas itu.

Shikamaru bisa melihat siluet tubuh Temari. Dadanya yang besar dan lekukan tubuhnya yang sempurna. "Baiklah!" Shikamaru pun menjawab tantangan Temari dan mulai menyerangnya dengan ciuman bertubi-tubi di dadanya.

"AAAAAAHHHH~~~~!" desah Ino dan Temari bersamaan karena merasakan berjuta-juta sperma pasangannya menyerang hingga ke rahimnya.

==/==

3 hari kemudian di apartemen Naruto.

"Kau sudah siap, Naruto-kun?" tanya Hinata. Dia memakai kimono berwarna sama dengan rambutnya. Hinata terlihat sangat cantik dengan kimono lavender itu. Dia membawakan topi dengan tulisan huruf kanji 'API' yang menjadi lambang Konoha.

"Ya!" Naruto mengambil topi itu dari tangan Hinata dan mengenakannya. Dia sudah siap dengan jubah putih Hokage yang bertuliskan kanji angka 7 di punggungnya.

Hinata tersenyum melihat Naruto yang begitu gembira. Mata biru Naruto sampai tertutup oleh lebarnya senyumannya. Akhirnya hari yang diimpikan oleh Naruto sejak kecil terwujud. Mimpi yang diwujudkannya oleh usaha keras Naruto. Dari seorang anak yang sama sekali tak dianggap keberadaannya di Konoha, hingga menjadi pahlawan Konoha, bahkan sekarang akan menjadi Hokage. Membayangkannya saja membuat bulir-bulir air mata Hinata mengalir.

"Hi-hinata?" Naruto terkejut melihat Hinata yang menangis. "Ada apa?"

"Uhm-hm," Hinata hanya menggelengkan kepalanya. "Aku bahagia, Naruto-kun!" ucapnya sambil memberikan sebuah kecupan manis di bibir Naruto.

"Kalau bahagia, seharusnya kau tersenyum, kan, Namikaze Hinata!" ucap Naruto sembari menghapus air mata di pipi Hinata yang putih itu.

"Ya," Hinata mengangguk, tapi, "Eh? Na-Namika-,"

"Namikaze Hinata, istri dari Namikaze Naruto!" ujar Naruto sambil memperlihatkan sebuah kertas yang menunjukkan pernikahan antara Namikaze Naruto dan Hyuuga Hinata.

Hinata tak mampu berkata lagi. Dia hanya memeluk Naruto. Tak ada kata lagi yang bisa disampaikannya. Hanya kebahagiaan yang mengalir lembut dari hatinya.

"Ayo!" ucap Naruto sambil menarik tangan Hinata dan kemudian menggendongnya ala seorang putri hingga di Hokage Tower tempat upacara penobatan Naruto sebagai Hokage dimulai.

==/==

"Tsunade-sama, semuanya sudah siap!" kata Shizune.

"Ya. Biarkan aku sebentar lagi menikmati kursi Hokage ini," senyum wanita berdada besar itu.

"Oh iya, Tsunade-sama, aku ingin menyampaikan kalau Yamanaka Ino dan Ten Ten harus cuti dari tugas Kunoichi," tambah Shizune.

"Hm?" Tsunade menaikkan alisnya.

"Ya, mereka baru memeriksakannya tadi pagi. Ino sedang hamil anak Sai dan Ten Ten sedang hamil anak Hyuuga Neji," jelas Shizune.

"Hmm?" Tsunade mulai terlihat marah.

"Terus sepertinya Temari dari Sunagakure juga sedang mengandung anak Shikamaru," tambah Shizune yang membuat Tsunade semakin marah.

"APAAAA?" Tsunade pun menghancurkan meja di depannya dengan sebuah pukulan.

"Aaaahhhh~~!" Shizune yang terlihat ketakutan segera kabur dari wanita terkuat di Konoha itu.

"Brengsek! Ini berarti kekuatan tempur Konoha banyak berkurang," ucapnya marah. Kemudian Tsunade melihat ke luar jendela dan memandangi sinar matahari di sela awan dan tersenyum simpul. "Generasi baru sudah mulai terlihat."

Dan tiba-tiba Tsunade teringat akan kekasihnya, Dan.

==/==

Di sekeliling Hokage Tower, seluruh warga Konoha berkumpul. Di atas menara itu tampak Naruto dengan pakaian Hokage-nya. Pria bermata biru dan berambut pirang itu pun berkata dengan lantang, "Mulai sekarang, aku, Namikaze Naruto, menjadi Hokage ke-7 Konoha! Apapun yang terjadi, aku akan melindungi Konoha! YEAAAHHH!" Naruto menaikkan tangannya tanda dia sangat bersemangat.

"YAAAA!" sambut seluruh warga Konoha yang jadi ikutan semangat karena Hokage-nya pun sangaaattttt bersemangat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar