Chapter 5 : Hokage
"Eh? Benarkah itu, Sakura-san?" tanya Hinata seolah tak percaya dengan berita yang baru saja disampaikan Sakura.
"Ya! Aku hamil, Hinata! Anak Sasuke-kun!" ucap Sakura sekali lagi
dengan mata yang menyipit dan senyum yang lebar. Hinata bisa melihat
bahwa Sakura sangat senang bisa mengandung anak Sasuke.
"Syukurlah! Hehehe," Hinata pun tersenyum puas.
"Apa-apaan kalian ini?" tanya
Tsunade yang melihat Hinata dan Sakura yang senyum-senyum saja dari
tadi. Tentu saja karena mereka berdua sedang berada di depan kantor
Tsunade di Hokage Tower.
Hinata terlihat gugup setelah digertak
seperti itu oleh Godaime Hokage itu. Wajahnya memerah semerah tomat dan
dia pun mulai memainkan jarinya. Sementara itu Sakura terlihat tenang
dan menebarkan senyum lebarnya.
"Hehehe, Tsunade-sama, aku hanya ingin menyampaikan," Sakura pun mulai berbicara. Dia menyentuh lembut perutnya. "Aku hamil!"
"APAAA?" pekik Tsunade tak percaya.
"Hinata juga!" tambah Sakura.
"TIDAK MUNGKIN!" Tsunade melirik pada Hinata. Selama ini di matanya,
Hinata adalah anak pemalu yang polos, apalagi dia dari keluarga
terhormat.
"I-i-i-itu be-be-benar, Tsunade-sama," ucap Hinata lirih.
"Haaahhh~~!" Tsunade menghela napas. "Masuklah kalian berdua!" Tsunade
mempersilakan Sakura dan Hinata masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Tsunade sambil merebahkan dirinya di kursi Hokage yang tak lama lagi bukan miliknya itu.
"Kalau Anda tanya bagaimana ya jawabnya seperti yang sudah Anda
ketahui. Tentu saja karena hubungan laki-laki dan perempuan!" jawab
Sakura sekenanya. Tampaknya dia terlalu gembira sehingga malas untuk
menjelaskannya.
"DASAR BODOH! Bukan begitu! Kalian ini masih 17 tahun dan belum menikah, BODOH!" bentak Tsunade.
"Uhmm~ Tsunade-sama, aku akan menikah dengan Naruto-kun dan ayah sudah menyetujuinya," ucap Hinata tegas.
"Apa? Jadi Hiashi sudah tahu?" tanya Tsunade dan Hinata pun mengangguk pelan. "Lalu, Sakura?"
"Yaaa~ Sasuke pun sudah melamarku!" jawab Sakura.
"Haahh~~ mau bicara atau marah pun tak ada gunanya lagi. Nasi sudah
menjadi bubur. Kalau begitu kalian akan diberi cuti hingga anak kalian
lahir nanti," ucap Tsunade pasrah.
"Terima kasih,
Tsunade-sama!" ucap Hinata dan Sakura bersamaan sambil menundukkan
badan. Mereka pun bersiap meninggalkan ruangan karena dikiranya tak ada
lagi yang harus disampaikan pada Godaime Hokage itu.
"Ah,
tunggu dulu, Hinata!" Tsunade menghentikan Hinata. Hinata pun menuruti
perintah Tsunade dan kembali menghadap di depan meja kerjanya, sedangkan
Sakura merasa dirinya harus keluar dari ruangan itu.
"Apa kau
tahu kalau Naruto adalah Jinchuuriki?" tanya Tsunade dan Hinata
mengangguk. "Aku masih belum tahu pasti, tapi kurasa sedikit banyak,
cakra Kyuubi pasti akan berpengaruh pada tubuhmu. Berbeda dengan Kushina
yang merupakan Jinchuuriki, kamu hanya menerima bagian cakra dari
Kyuubi, apalagi kau adalah garis keturunan Hyuuga."
"Ya. Saya siap menanggung apapun itu!" ucap Hinata pasti.
"Kau benar-benar mirip dengan Naruto!" senyum kecil tersungging dari
ujung bibir Tsunade dan Hinata merasakan wajahnya panas mendengarnya
dibilang mirip Naruto.
"Baiklah, kau boleh pergi! Tapi jangan
lupa memeriksakan kesehatanmu padaku tiap minggu! Aku ingin
memonitornya," kata Tsunade. Hinata pun menunduk dan bersiap keluar.
"Oh, iya! Sampaikan pada Naruto, penobatannya tiga hari lagi! Dia
keburu kabur waktu aku akan memberitahunya," ucap Tsunade yang terlihat
agak kesal.
"Baiklah. Terima kasih!" ucap Hinata. Tsunade bisa
melihatnya tertawa kecil karena membayangkan bagaimana Naruto yang
langsung kabur karena kegirangan mendengar dirinya akan menjadi Hokage.
==/==
"SAIIIII!" teriak Ino sambil menubruk Sai yang terlihat sedang berlatih di pinggiran desa Konoha.
"I-Ino?" Sai terlihat heran dengan perilaku kekasihnya itu. Dan yang
paling mengherankan adalah Ino yang langsung menempelkan bibirnya pada
bibir Sai.
"Aku ingin anakmu, Sai!" ucap Ino.
"Hah~?"
"Sakura hamil. Hinata juga. Aku tak mau kalah, Sai!" rengek Ino. Dia
meraih tangan Sai dan meletakkannya di dadanya yang cukup besar itu. Dia
pun membuat Sai meremas dadanya.
"Apa…kau yakin?" tanya Sai memastikan.
"Yaaa~~," Ino mulai mendesah karena tangan Sai mulai meremas dadanya di luar kendali.
"Kebetulan sekali kalau begitu," Sai pun mulai mencium bibir Ino, "apa
kau tahu, pria yang baru saja berlatih keras, nafsunya meningkat?"
ciuman Sai semakin dalam dan dengan cepat dia membuka baju Ino bagian
atas sehingga dadanya terlihat berloncatan.
"Aaaahhh~~~~," desah Ino yang dadanya telah dipermainkan oleh Sai.
==/==
"Haaahhh~~ apa-apaan mereka itu?" kata Shikamaru yang tak sengaja
melihat adegan film antara Ino dan Sai. Dia memperhatikan bagaimana Sai
memperbudak tubuh Ino dan Ino pun terlihat sangat kegirangan karenanya.
"Merepotkan!" ucapnya yang berniat meninggalkan adegan panas itu.
"Shikamaru!" sapa Temari yang tiba-tiba muncul. "Apa yang kau lakukan?"
"Aaaaaaaahhhhhh~~~," terdengar suara desahan Ino yang keras di telinga mereka berdua.
"Dasar! Wanita itu benar-benar membingungkan! Bisa-bisanya mereka mengeluarkan suara manja seperti itu," ejek Shikamaru.
"Hei! Jangan seenaknya mengejek, ya!" bantah Temari.
Shikamaru memandang Temari dengan pandangan sinis kemudian mendesah.
"Kalau kau sih tak mungkin bisa mengeluarkan suara manja seperti itu,
kan?"
"A-apa kau bilang? Enak saja!" Temari langsung melepaskan
bajunya. "Bagaimana kalau kau coba?" tantangnya pada pria jenius yang
terkesan malas itu.
Shikamaru bisa melihat siluet tubuh Temari.
Dadanya yang besar dan lekukan tubuhnya yang sempurna. "Baiklah!"
Shikamaru pun menjawab tantangan Temari dan mulai menyerangnya dengan
ciuman bertubi-tubi di dadanya.
"AAAAAAHHHH~~~~!" desah Ino dan Temari bersamaan karena merasakan berjuta-juta sperma pasangannya menyerang hingga ke rahimnya.
==/==
3 hari kemudian di apartemen Naruto.
"Kau sudah siap, Naruto-kun?" tanya Hinata. Dia memakai kimono berwarna
sama dengan rambutnya. Hinata terlihat sangat cantik dengan kimono
lavender itu. Dia membawakan topi dengan tulisan huruf kanji 'API' yang
menjadi lambang Konoha.
"Ya!" Naruto mengambil topi itu dari
tangan Hinata dan mengenakannya. Dia sudah siap dengan jubah putih
Hokage yang bertuliskan kanji angka 7 di punggungnya.
Hinata
tersenyum melihat Naruto yang begitu gembira. Mata biru Naruto sampai
tertutup oleh lebarnya senyumannya. Akhirnya hari yang diimpikan oleh
Naruto sejak kecil terwujud. Mimpi yang diwujudkannya oleh usaha keras
Naruto. Dari seorang anak yang sama sekali tak dianggap keberadaannya di
Konoha, hingga menjadi pahlawan Konoha, bahkan sekarang akan menjadi
Hokage. Membayangkannya saja membuat bulir-bulir air mata Hinata
mengalir.
"Hi-hinata?" Naruto terkejut melihat Hinata yang menangis. "Ada apa?"
"Uhm-hm," Hinata hanya menggelengkan kepalanya. "Aku bahagia,
Naruto-kun!" ucapnya sambil memberikan sebuah kecupan manis di bibir
Naruto.
"Kalau bahagia, seharusnya kau tersenyum, kan, Namikaze
Hinata!" ucap Naruto sembari menghapus air mata di pipi Hinata yang
putih itu.
"Ya," Hinata mengangguk, tapi, "Eh? Na-Namika-,"
"Namikaze Hinata, istri dari Namikaze Naruto!" ujar Naruto sambil
memperlihatkan sebuah kertas yang menunjukkan pernikahan antara Namikaze
Naruto dan Hyuuga Hinata.
Hinata tak mampu berkata lagi. Dia
hanya memeluk Naruto. Tak ada kata lagi yang bisa disampaikannya. Hanya
kebahagiaan yang mengalir lembut dari hatinya.
"Ayo!" ucap
Naruto sambil menarik tangan Hinata dan kemudian menggendongnya ala
seorang putri hingga di Hokage Tower tempat upacara penobatan Naruto
sebagai Hokage dimulai.
==/==
"Tsunade-sama, semuanya sudah siap!" kata Shizune.
"Ya. Biarkan aku sebentar lagi menikmati kursi Hokage ini," senyum wanita berdada besar itu.
"Oh iya, Tsunade-sama, aku ingin menyampaikan kalau Yamanaka Ino dan Ten Ten harus cuti dari tugas Kunoichi," tambah Shizune.
"Hm?" Tsunade menaikkan alisnya.
"Ya, mereka baru memeriksakannya tadi pagi. Ino sedang hamil anak Sai
dan Ten Ten sedang hamil anak Hyuuga Neji," jelas Shizune.
"Hmm?" Tsunade mulai terlihat marah.
"Terus sepertinya Temari dari Sunagakure juga sedang mengandung anak
Shikamaru," tambah Shizune yang membuat Tsunade semakin marah.
"APAAAA?" Tsunade pun menghancurkan meja di depannya dengan sebuah pukulan.
"Aaaahhhh~~!" Shizune yang terlihat ketakutan segera kabur dari wanita terkuat di Konoha itu.
"Brengsek! Ini berarti kekuatan tempur Konoha banyak berkurang,"
ucapnya marah. Kemudian Tsunade melihat ke luar jendela dan memandangi
sinar matahari di sela awan dan tersenyum simpul. "Generasi baru sudah
mulai terlihat."
Dan tiba-tiba Tsunade teringat akan kekasihnya, Dan.
==/==
Di sekeliling Hokage Tower, seluruh warga Konoha berkumpul. Di atas
menara itu tampak Naruto dengan pakaian Hokage-nya. Pria bermata biru
dan berambut pirang itu pun berkata dengan lantang, "Mulai sekarang,
aku, Namikaze Naruto, menjadi Hokage ke-7 Konoha! Apapun yang terjadi,
aku akan melindungi Konoha! YEAAAHHH!" Naruto menaikkan tangannya tanda
dia sangat bersemangat.
"YAAAA!" sambut seluruh warga Konoha yang jadi ikutan semangat karena Hokage-nya pun sangaaattttt bersemangat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar